Sore itu, bertempat dimana aku mengumpulkan sisa-sisa harapan di hidupku. Aku bertanya akan banyak hal, kepada langit, kepada burung yang terbang di atas sana, kepada angin yang sepertinya membawa semua harapanku ke entah kemana itu. Sembari menghembuskan napas lelah, suara-suara pertanyaan itu muncul di kepala. Bukan lagi tentang kapan semua ini akan berakhir, kapan pelangi itu akan muncul, kapan anginku akan berhembus tenang, dingin namun menghangatkan seperti dulu (mungkin). Bukan, bukan lagi tentang itu. Dari semilyar pertanyaan yang muncul, aku hanya mempertanyakan bagaimana semua ini akan berlalu tanpa dia. Bagaimana semua ini akan ku lalui dengan kehampaan. Mengapa dari sekian banyak dugaan, hanya tentang dialah yang mengusikku. Mengapa dari sekian kemungkinan, hanya bersamanyalah yang mustahil terjadi. 

Mengapa dan bagaimana, mereka menari di otakku. Apa aku se-tidakmungkin itu untuk menyelesaikannya seorang diri ? apa semustahil itu untukku berharap bisa bernapas lega seperti hari kemarin ? Siapa lagi yang bisa kuharapkan, siapa yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri ?

Maka, di tengah sore sendirian ini. Aku berdialog mesra dengan pikiranku yang sedang bergemuruh riuh. Untuk sampai berada di titik tenang, banyak hal yang harus ku relakan. Dari semua ketidakmungkinan, mungkin memang bersamanyalah yang mustahil. Banyak kepastian yang bisa ku tuju, banyak cahaya harapan yang bisa ku gapai. Tidak harus bersama seseorang, tidak harus bersama siapapun.


-D

Komentar

Postingan Populer