My Experience about "friendship"
hai hai, aku mau berbagi sedikit pengalaman yang yaaaaah lumayan menyedihkan dan lumayan gabisa dilupain deh pokonya. jadi gini dulu aku punya temen yang paling temen abis deh pokonya, nah bayangin deh tuh kata - katanya seberapa deketnya aku sama temenku itu. suatu ketika, ada masalah yang membuat pertemanan kita itu sedikit tercecer dan hampir bercerai *nah loh ?* Jadi gini, gatau memang aku yang terlalu posesif atau terlalu memikirkan sesuatunya menjadi sangat ekstra lebay dan ketika mendapatkan suatu perubahan yang sebenernya bukan perubahan fisik tapi lebih ke perubahan sifat dan watak, cara bicara, dan gaya bergaul temenku yang satu itu, aku menjadi sedikit sebel dan aku gamau tau pokonya harus ada orang yang bisa merubah sifat dan sikapnya menjadi seperti dulu. di hari pertama aku menyadari perubahan sifat itu, aku sih biasa saja tidak terlalu jutek ataupun memperlihatkan ketidaksukaanku padanya. sebenernya inti dari aku bersikap seperti biasa saja adalah untuk melihat progressnya di hari - hari berikutnya. tapi, setelah aku mengikuti apa yang memang dari awal aku rencanakan, lambat - laun rasa sedihnya mulai muncul dan sedikit timbul rasa takut akan kehilangan. dan pada beberapa hari kemudian, rasa itu sudah sampai pada puncaknya, aku mulai tidak bisa mengontrol rasa ketidaksukaan itu, aku mulai sedikit menjauhinya. dan karena aku memang tidak ahli dalam menutupi rasa tidak suka itu, dia pun menyadarinya dan mulai mencari tahu apa penyebabnya aku bersikap seperti itu.
semakin lama aku mulai memunculkan rasa benci itu kepadanya, dan tentu saja, mungkin dia juga menyadari dan sangat ingin bertanya kepadaku, mengapa aku seperti ini. kalau boleh berkata jujur saat itu aku sama sekali tidak merasa kasihan padanya, apalagi ingin meminta maaf.
entah kitanya yang sama - sama tidak mempunyai nyali untuk berbicara berdua saja dan mengungkapkan uneg - uneg sejujur - jujurnya, atau memang tidak ada kesempatan untuk itu. pada malam harinya dia mengirim pesan padaku, yang inti dari pesan itu adalah dia tidak suka dengan sikapku yang menjauhinya dengan cara seperti ini, dari situ aku mulai merasa bersalah padanya karena memperlakukannya seperti itu. dan akupun membalas pesan itu dengan bertubi - tubi permintaan maaf
keesekoan paginya, ketika melihat dia masuk dengan cerianya, entah kenapa aku merasa sedih banget. ketika ada suatu kegiatan pagi yang rutin dilaksanakan oleh sekolah, aku tidak sanggup menahan butir - butir bening yang ada dibalik kelopak mata. awalnya temenku yang satu lagi tidak tahu kalau aku menangis, tapi lama - kelamaan dia mengetahuinya, untuk menutupi rasa malu itu, aku bersama temanku bergegas ke kamar mandi, dan disana aku menangis sesenggukan.
ketika tiba waktu pulang sekolah, aku memberanikan diri untuk berbicara padanya. ah sungguh sedih bangeeeet ngingetnya huhu. akupun menceritakan semua rasa ketidaksukaan padanya ketika dia dekat dengan seseorang. yang membuat aku semakin sedih dan sangat ingin mencaci maki diri adalah ketika dia memang benar - benar tidak ingin memaafkan aku. ketika kelas sudah mulai lengang, dan ketika aku sudah tidak bisa mengkontrol tangisku, aku menangis lebih dari menangis sesenggukan, dan pada akhirnya, kata teman - teman yang lain sih aku sempet pingsan sebenntar. fiuh, pokonya aku gamau lagi - lagi salah menilai temenku sendiri, karena memang pada akhirnya sangat terasa rasa penyesalan itu. ketika aku menangis dengan hebohnya, aku mulai merasa kehilangan itu sangat tidak enak, apalagi kehilangan orang yang kita sayang. seperti teman, dari situ aku mengambil banyak hikmah, aku harus menghilangkan dan membuang jauh - jauh rasa egois. aku meminta maaf padanya tanpa henti, dibantu dengan seorang teman lain, lama - kelamaan temenku itu luluh juga.
rasa sedih karena akan kehilangan teman yang sedari tadi bercokol terus di hati dan pikiran, mendengar perkataan "yaudah maafin ya" langsung menyembur keluar dan berganti dengan rasa lega dan senang, sekaligus terharu. pokonya aku gamau lagi mengorbankan pertemananku hanya karena ego dan iri sesaat. TERIMAKASIH
semakin lama aku mulai memunculkan rasa benci itu kepadanya, dan tentu saja, mungkin dia juga menyadari dan sangat ingin bertanya kepadaku, mengapa aku seperti ini. kalau boleh berkata jujur saat itu aku sama sekali tidak merasa kasihan padanya, apalagi ingin meminta maaf.
entah kitanya yang sama - sama tidak mempunyai nyali untuk berbicara berdua saja dan mengungkapkan uneg - uneg sejujur - jujurnya, atau memang tidak ada kesempatan untuk itu. pada malam harinya dia mengirim pesan padaku, yang inti dari pesan itu adalah dia tidak suka dengan sikapku yang menjauhinya dengan cara seperti ini, dari situ aku mulai merasa bersalah padanya karena memperlakukannya seperti itu. dan akupun membalas pesan itu dengan bertubi - tubi permintaan maaf
keesekoan paginya, ketika melihat dia masuk dengan cerianya, entah kenapa aku merasa sedih banget. ketika ada suatu kegiatan pagi yang rutin dilaksanakan oleh sekolah, aku tidak sanggup menahan butir - butir bening yang ada dibalik kelopak mata. awalnya temenku yang satu lagi tidak tahu kalau aku menangis, tapi lama - kelamaan dia mengetahuinya, untuk menutupi rasa malu itu, aku bersama temanku bergegas ke kamar mandi, dan disana aku menangis sesenggukan.
ketika tiba waktu pulang sekolah, aku memberanikan diri untuk berbicara padanya. ah sungguh sedih bangeeeet ngingetnya huhu. akupun menceritakan semua rasa ketidaksukaan padanya ketika dia dekat dengan seseorang. yang membuat aku semakin sedih dan sangat ingin mencaci maki diri adalah ketika dia memang benar - benar tidak ingin memaafkan aku. ketika kelas sudah mulai lengang, dan ketika aku sudah tidak bisa mengkontrol tangisku, aku menangis lebih dari menangis sesenggukan, dan pada akhirnya, kata teman - teman yang lain sih aku sempet pingsan sebenntar. fiuh, pokonya aku gamau lagi - lagi salah menilai temenku sendiri, karena memang pada akhirnya sangat terasa rasa penyesalan itu. ketika aku menangis dengan hebohnya, aku mulai merasa kehilangan itu sangat tidak enak, apalagi kehilangan orang yang kita sayang. seperti teman, dari situ aku mengambil banyak hikmah, aku harus menghilangkan dan membuang jauh - jauh rasa egois. aku meminta maaf padanya tanpa henti, dibantu dengan seorang teman lain, lama - kelamaan temenku itu luluh juga.
rasa sedih karena akan kehilangan teman yang sedari tadi bercokol terus di hati dan pikiran, mendengar perkataan "yaudah maafin ya" langsung menyembur keluar dan berganti dengan rasa lega dan senang, sekaligus terharu. pokonya aku gamau lagi mengorbankan pertemananku hanya karena ego dan iri sesaat. TERIMAKASIH
Komentar
Posting Komentar