SHORT STORY
KEJUTAN
TIGA HARI
Lagi…lagi….dan lagi masalah itu datang
kembali, ingatan itu hadir lagi dan mengusik pikiran yang kini telah damai dan
tenang.
“kenapa kamu hadir lagi sih ? aku
udah cukup nyaman sama dia” keluh Molly pada dirinya sendiri, sambil mengacak –
acak rambutnya yang lembut dan hitam kemilau.
“kayaknya dia jodoh kamu deh,
habisnya tanpa diminta datang, dia menghampiri kamu dengan sendirinya.” Silvia
memberi saran pada Molly yang hari ini tengah kacau. Silvia adalah sahabat
Molly sejak masuk SMA.
“Jodoh ? kok jodoh sih ? aku tidak
paham, bagaimana mungkin aku yang sekarang sudah bersama Alvin tapi aku
berjodoh dengan Dave ?”
“aku heran, kita ini masih anak SMA
tapi kamu sudah berfikiran sedangkal itu, Molly……SMA adalah masa – masanya kita
have fun, kalau kamu sekarang pacaran sama Alvin belum tentu kan ketika kamu
besar nanti kamu menikah sama Alvin juga ? jalani saja apa yang ada didepan,
kalau perlu dilawan ya lawan, kalau perlu dihindari ya hindari, ikutin kata
hati kamu” Nasihat Silvia panjang lebar.
“Sil, aku tidak menyangka, kamu bisa
sedewasa ini, makasih ya, disaat seperti ini, memang kamu yang aku butuhin”
Bisa dibilang Dave adalah masa lalu
yang cukup menyakitkan dan sedikit banyak sudah menggoreskan luka dihati Molly.
Molly sudah tidak ingin bertemu dan melihatnya lagi. Dave satu tahun diatas
Molly, kini dia sudah lulus dan entah meneruskan ke perguruan tinggi atau
tidak. Yang jelas Molly sangat tidak ingin mengetahui tentang itu, karena
itu tidak penting.
”hai sayang, aku kembali. Bagaimana
kabarmu sekarang ? kamu belum memiliki pacar bukan ?” Tanya Dave sewaktu
bertemu dengan Molly untuk pertama kalinya lagi dalam 1 tahun terakhir.Tidak
ada sapaan hangat atau apapun darinya, yang ada hanya bombardier pertanyaan –
pertanyaan yang memojokan Molly.
Molly ragu menjawab, dia hanya diam
dan menunduk. Dia takut kejadian dulu terulang lagi. Rasa sakit yang dahulu
saja belum hilang, apalagi kalau ditambah yang
baru ? semakin sakit mungkin.
Tanpa basa – basi, Dave yang
kemungkinan bosan menunggu jawaban dari Molly, langsung menarik gadis cantik
yang dulu sempat mengisi hatinya itu kedalam pelukannya. Entah mengapa, Molly
tidak bisa menolak untuk itu.
Tuhan….
pelukannya dahulu dan pelukannya yang sekarang sama sekali tidak berubah. Tetap
nyaman, Tuhan…. Kalau bisa aku tidak mau dia melepaskan pelukan ini seperti
dahulu.
“bagaimana
sayang ? kamu sudah bisa menjawab pertanyaanku yang barusan ? aku ingat, dulu….
Kalau kamu susah menjawab dan mulai terlihat gugup, kamu harus aku peluk dulu,
baru kamu bisa menjawab. Nah sekarang, kamu sudah aku peluk, malahan pelukannya
lama banget. jadi kamu pasti sudah mempersiapkan jawabannya. Sekarang aku mau
dengar….”
Tuhan…..
sebenarnya dia ini makhluk apa ? aku tidak mengerti. Dipeluk dia malah membuat
aku gugup. Walaupun memang aku menjadi lebih tenang dari sebelumnya.
“emm.
Sorry, aku lupa pertanyaanmu Dave”
“kamu belum punya pacar kan putri ?”
“oh…. Emmmm maaf Dave, aku….”
“Molly !” seru seorang cowok yang
berperawakan tampan, tinggi, putih, rambut yang tersisir rapi, bibir tipis, dan
mata coklat yang indah dan damai. Yang tidak lain adalah pacar Molly yaitu
Alvin.
Molly melambaikan tangan padanya,
dan Alvin pun dengan cepat menghampiri kekasihnya itu. “hai Vin”
Molly semakin salah tingkah saja,
Dave melihatnya dengan mata yang menerawang dan menebak – nebak, dia juga
terlihat marah. Aku takut Dave marah
dan…… oh ya Tuhan bantu aku, kirim siapapun yang dapat menolongku.
Molly berusaha kuat dan bisa mengatasi
semua ini, keringat dingin mulai terasa menetesi setiap peluhnya, bernafas pun
sulit rasanya. “ Dave…ini Alvin, dia.. pacarku”
Tanpa disangka Dave menjulurkan
tangannya yang panjang itu untuk berkenalan dengan Alvin. Alvin pun membalas
uluran tangannya.
“sayang….. aku masih kangen sama
kamu, jadi aku akan mengantarmu pulang hari ini”
Molly terkaget bukan main. Nafasnya
seperti tercekat ditenggorokan. Dia hampir lupa, kalau Dave adalah orang yang
paling nekad dan tidak tahu malu. Dia seenaknya bilang sayang didepan Alvin.
“aku pinjam Molly, ya mungkin tidak
lama, hanya untuk beberapa hari ini saja. Aku sangat membutuhkan dia. Tenang
saja, kamu tidak perlu takut, aku tidak akan mencelakainya, aku akan
menjaganya. Setelah keperluanku dengan Molly selesai, aku akan mengembalikannya
padamu. Tapi, selama beberapa hari ini juga, aku akan menilaimu. Apakah kamu
pantas atau tidak menjadi pacar Molly.” Bisik Dave pada Alvin
“oke aku akan mengikuti permainanmu”
tantang Alvin, sama berbisiknya.
“oke sayang, pacarmu sudah
mengijinkan, sekarang dan selama beberapa hari kedepan, kamu pulang sekolah
bersamaku”
“Tapi Vin…..”
Alvin hanya tersenyum, dan memegang
kedua pipi Molly dengan halus kemudian berkata “I Love You”
Kata I Love you itu terasa
menyakitkan ditelinga Dave, tapi Dave berusaha bersikap tenang seperti
biasanya.
Di perjalanan menuju rumah Molly,
Dave menghentikan motor besarnya di samping danau kecil yang dipinggir – pinggirnya
terdapat taman yang luas dan indah. Molly benar – benar baru tahu ada tempat
seindah ini.
Dave turun dari motornya dan
berjalan sendiri menuju danau kecil itu, dan duduk bersila tepat diatas rumput
tanpa mengajak Molly. Dave terlihat seperti sedang berfikir. Anehnya wajah yang
jail itu tidak terlihat kini. Wajah Dave
malah terlihat lebih pucat pasi. Ditambah lagi, rambutnya yang cepak itu
ditutupi kupluk berwarna coklat. Tidak terlihat lagi wajah ceria dan sengaknya
itu.
Molly pun menghampirinya dan duduk
disamping Dave. “Ada apa ?” tanyanya
Dave menghela nafas panjang dan
bicara “kau tahu ? hari ini adalah hari yang paling kutunggu – tunggu, 1 tahun
sudah aku menunggu datangnya hari ini. Aku begitu rindu padamu. Selama 1 tahun
itu, tidak ada hal yang aku fikirkan selain kamu. Selama 1 tahun itu, aku hanya
berusaha supaya aku bisa menahan rasa rindu ini”
“aku tidak percaya”
“Mol, aku juga tidak percaya. Aku
bahkan masih berfikir mengapa aku bisa menyimpan perasaan seperti ini. Bahkan
ketika aku tahu kamu sudah memiliki pacar. Rasanya lebih baik aku tidak bertemu
denganmua sekarang. Tapi…..rasa rindu ini berhasil mengalahkan rasa cemburu
itu. Mol aku sayang sama kamu”
“Dave. apa kamu tidak ingat sama
sekali ? 1 tahun yang lalu……………” Molly tidak sanggup melanjutkan kata – kata
itu. Terlalu menyakitkan.
“aku tidak akan pernah lupa tentang
masa lalu itu. Tapi aku berusaha untuk memperbaikinya. Mol, aku ingin kamu
sepertiku, tidak usah mengingat masa itu”
“begitu mudahnya kamu bilang seperti
itu, bagimu, itu tidak sakit, tapi bagiku ? itu menyakitkan Dave. 1 tahun yang
lalu kamu pergi begitu saja, sama sekali tidak memberitahuku. Sama sekali tidak
merasa bersalah. Memangnya kamu fikir selama 1 tahun aku sudah lupa rasa sakit
itu ? tidak Dave, rasa sakit itu masih ada disini.” Molly menunjuk dadanya
Hari pertama bersama Dave sudah
cukup menguras air mata. Di hari kedua Dave mengajak Molly menuju suatu tempat
yang amat sejuk, damai dan tentram. Kali ini Dave menjemput Molly tidak dengan
motor besarnya, melainkan dengan mobil jeep kesayangannya. Molly sama sekali
tidak ingin bertanya akan pergi kemana, dia hanya mengikuti apa perintah Dave.
perjalanannya membutuhkan waktu yang sangat lama, sampai ditujuan sekitar pukul
8 malam. Ketika turun dari jeepnya, Molly sangat terkejut dan tidak menyangka,
taman yang indah yang dihiasi lampu taman disekelilingnya serta semak – semak
yang tertata rapi dan bercahaya lampu – lampu kecil membuatnya tidak bisa
berkata – kata, ini adalah tempat kedua yang paling indah yang pernah Molly
lihat.
“sudah lama sekali aku ingin
mengajakmu ke tempat ini, indah bukan ? ” Dave berjalan menuju tengah – tengah taman,
dan berbaring disana.
“sini deh Mol, dari sini kita bisa
melihat bintang”
Molly pun mengikuti, tapi ia hanya
berdiri dan mengadahkan kepalanya. Ya
Tuhan….indah sekali….ini seperti taman bintang
Dave menarik tangan Molly sampai ia
terduduk disebelahnya “menurutku, melihat bintang dengan berbaring lebih indah
dan lebih nyaman daripada sambil berdiri”
Kemudian Dave berbaring kembali
dengan kepala bersandarkan tangannya yang dilipat kebelakang. Molly hanya
terdiam, dia hanya bisa melihat bintang itu sambil duduk.
“Molly…. Ayodong,percaya deh, begini
lebih indah”
Tidak sabar, Dave lalu menarik pundak
Molly kebelakang, sampai ia terbaring, Molly tak dapat menolak, karena entah
mengapa, Molly merasa nyaman dengan begini. Dave melentangkan 1 tangannya agar
Molly dapat bersandar. Dan agar Molly dapat sedikit dipeluknya. Dave menghirup
udara malam di taman itu. Rasanya sejuk, dan….. tidak ingin berakhir. Ingin ada
hari esok, esok…dan esoknya lagi.
Molly melihat bintang di langit itu.
Benar apa katamu Dave, begini memang jadi
lebih baik, Dave aku sayang sama kamu. tanpa sadar Molly meneteskan air
matanya.
“Mol.......love you” bisik Dave
tepat ditelinga Molly. Kemudian sedikit mengecup pipinya.
Molly mengangguk tak berdaya. Ia
ingin sekali mengucapkan bahwa ia juga sangat mencintai Dave. “Dave…… aku masih
tidak paham, apa maksud kamu datang kembali dan menghadirkan semuanya ? ini
semakin menyakitkan Dave, satu sisi aku jadi menginginkan kamu, tapi disisi
lain, aku membenci kamu. Dave tolong jelasin, maksud kamu apa dengan semuanya
?”
Molly menangis sesenggukan, kini dia
sudah tidak berbaring lagi seperti tadi, melainkan duduk sambil menangkupkan
kedua tangannya, menutupi matanya yang kini tengah dibanjiri air mata.
“Mol……apa kamu yakin, yang kamu
butuhkan adalah penjelasan ? aku kira, kamu lebih membutuhkan aku ada disini
daripada penjelasan itu.”
“Dave…aku sangat membutuhkan kamu,
tapi aku merasa konyol jika aku bersama kamu, tapi rasanya ada yang mengganjal.
Aku ingin bersama kamu dengan perasaan yang tenang dan percaya, tidak dihantui
rasa penasaran. Memangnya susah untuk menjelaskan kejadian 1 tahun lalu dave ?”
“selamat siang tuan putri, masih mau
mengikuti penjelajahanku kan ? hari ini hari terakhir loh”
Molly tidak menjawab teguran Dave,
ia hanya mengikuti apa perintah Dave seperti biasa.
Perjalanan kali ini lebih lama dari sebelum
– sebelumnya. Untung saja Dave tidak pelit untuk mentraktir Molly makan siang
dan malam. Dan untungnya juga besok adalah hari ibur untuk sekolah Molly, jadi
ia tidak perlu memikirkan tugas dan lain sebagainya.
Dave mengajak Molly ke sebuah pantai
yang amat indah, sepi dan bersih. Suara ombak yang tersapu oleh angin sangat
menyejukan telinga. Dan membuat hati rasanya nyaman dan tidak ingin beranjak.
Dave berlari kepinggir pantai sambil
melentangkan kedua tangannya. Menghirup udara malam di pantai yang sangat
dingin namun sejuk. Molly mendekatinya dan berdiri menghadap pantai itu sama
seperti Dave.
“Mol, aku senang kita bisa sampai di
hari ketiga ini, tapi aku juga sangat sedih karena kita sudah sampai di hari
ini…...”
“……Mol…. Liat deh laut itu tidak ada
ujungnya ya… terus bermuara kemana pun yang dia inginkan, aku ingin seperti
itu, bebas. Aku juga senang dengar suara ombak, walaupun berisik di telinga,
tapi tentram dihati. Tapi…. Ada satu hal lagi yang membuat hati ini tentram dan
merasa selalu harus hidup. Dia adalah kebutuhanku Mol, aku tidak tahu bagaimana
aku nanti, jika tidak bertemu dengannya” Dave menutup matanya dan terlihat
setetes air mata yang keluar dari ujung matanya. Dave menangis, Molly tidak
menyangka, laki – laki seperti Dave bisa menangis. Molly bingung dengan
semuanya.
“Moll…. Boleh aku peluk kamu ?”
Dave
pun memeluk Molly lama sekali, sama sekali tidak ingin melepaskannya. Molly
merasa ada yang aneh dengan pelukan itu. Seperti pelukan perpisahan 1 tahun
yang lalu. Molly sangat tidak ingin, jika hal itu terulang kembali. Dave
mengecup ujung kepala Molly, kemudian keningnya, kedua pipinya, dan yang
terakhir adalah bibirnya. Seperti hal itu untuk terakhir kalinya.
Entah
kenapa hati Molly yang dahulu keras kini melunak jika berhadapan dengan Dave.
Dave selalu bisa membuat Molly untuk berkata ya, Molly tidak bisa menolak semua yang diinginkan Dave. Entah
kenapa. Perasaan yang dahulu memang tidak pernah hilang itu, kini semakin kuat,
semakin tidak ingin dilepas, semakin harus tercapai, dan semakin harus selalu
digenggam.
Dave berkata “Mol, bagaimana kalau
hari ini kita tidak tidur ? aku ingin menghabiskan malam yang indah ini bersama
kamu, karena aku ingin ada sebuah kenangan yang akan aku ingat selalu”
“kamu ini aneh Dave, kita pasti bisa
bersama – sama terus, seperti dulu”
“ya…semoga saja, Mol…..aku sayang
sama kamu”
Dave pun merangkul Molly dan mencium
ujung kepalanya. “Dave…. kamu ga akan pergi lagi kan ?”
“selama kamu masih ingin bersamaku
dan terus mengingat aku, aku tidak akan pergi kemanapun Mol”
“kamu ga bohong kan ? kamu janji kan
sama aku ? kamu ga boleh pergi ninggalin aku lagi”
“aku janji”
Sampai pada akhirnya, matahari pun
terbit. Indaaaah sekali menyaksikan sang mentari terbit secara langsung. Dave
dan Molly sama – sama menutup mata dan menghirup udara pantai di pagi hari.
Sejuk.
Lama sekali mereka menutu mata.
“Dave…. I Love You” bisik Molly pada Dave. Molly pun memeluk Dave dari samping
erat sekali, sangat tidak ingin melepaskannya. Kemudian berbisik sekali lagi
tepat ditelinga Dave.
“Dave apapun yang akan menghalangi
kita berdua untuk bersama, aku akan melawannya. Dave.. aku ingin terus bersama
kamu, melihat taman bunga yang indah, taman bintang yang menakjubkan, melihat
matahari terbit, dan aku ingin mendengarkan suara ombak bersama kamu selalu
Dave. Dave sekarang aku tidak peduli alasan tentang masa lalu setahun yang
lalu. Yang terpenting sekarang adalah, kamu harus memenuhi janji kamu sama aku.
Yaitu…. Kamu harus selalu bersama ku” Molly berbisik panjang lebar kepada Dave.
namun Dave tidak berkata sedikit pun, mengangguk pun tidak.
Akhirnya Molly pun mengecup pipi
Dave sebentar, tapi Dave tidak merespon sedikitpu. Dave tetap menutup matanya.
“Dave…. kamu mendengarkanku atau tidak ? Dave….. jangan tidur dong, kamu kan
janji tidak akan tidur. Dave……” Molly
mengguncang – guncangkan pundak Dave keras. Tapi Dave tidak bergerak sama
sekali. Molly panic bukan main, ia menangis sambil membangunkan Dave. terlalu
keras mengguncangkan pundak Dave membuat kupluk yang dikenakannya terlepas dan
terjatuh. Molly terkaget melihat apa yang ia lihat, ternyata kepala Dave botak.
“ya Tuhan…. Dave kamu kenapa ?”
Ada secarik kertas yang terlihat di
saku jaket Dave. Molly pun mengambilnya sambil terus menangis, ia tidak tahu
permainan apalagi yang sedang dimainkan oleh Dave.
Hai putri cantiku……
Sudah lama sekali aku menunggu 3
hari ini datang.
Ternyata Tuhan baik sekali, sudah
memberiku waktu untuk 3 hari bersamamu
Aku tidak akan pernah berhenti
untuk merindukanmu putri…
Selama bertahun – tahun ini aku
menyimpan penyakit yang menyakitkan.
Dan 1 tahun lalu…. Aku harus
menjalani pengobatan,
Maafkan aku karena harus memutuskan mu ketika
ulangtahunmu
Hal itu semata karena aku ingin kamu
membenciku putri..
Tapi ternyata semua itu salah ya ?
Kamu tetap mencintaiku, walaupun kamu
sudah bersama yang lain
aku ingin terus bersama kamu,
bernafas bersamamu
melihat taman bunga yang indah,
taman bintang yang menakjubkan,
melihat matahari terbit,
dan aku ingin mendengarkan suara
ombak bersama kamu selalu Molly
I LOVE YOU
Masa
lalu terkadang tidak sepenuhnya menjadi masa lalu. Masa lalu tidak akan pernah
benar – benar menjadi masa lalu. Terkadang masa lalu itu indah, tapi justru
yang indah yang mudah dilupakan. Sedangkan masa lalu yang kelam bahkan gelap
justru tidak mudah dilupakan, yang gelap itu justru menggoreskan luka. Berusaha
melupakan masa lalu justru lebih menyakitkan. Berlari meninggalkan masa lalu
itu yang melelahkan. Namun jika tidak berlari dan berusaha melupakan masa lalu,
apa yang harus dilakukan ? melihat kebelakang dan diam di tempat ? atau terus
maju dan berjalan tenang tanpa arah dan tujuan ?
Hanya tuntunan hati yang dapat
menjawab, tidak perlu bersusah payah melupakan yang gelap. Biarkanlah semua
mengalir apa adanya. Jika ada rintangan, tentu harus dihadapi bukan dihindari.
YA harus dihadapi jangan dihindari.
Tidak ada mendadak yang tidak tiba –
tiba. Tiba – tiba baik. Tiba – tiba jahat. Tiba – tiba menangis. Tiba – tiba
tertawa. Tiba – tiba sakit. Tiba – tiba meninggal. Semua itu tiba – tiba.
Semua orang tidak tahu apa yang akan
terjadi di depan. Semua yang tiba – tiba memang kadang terasa menyakitkan.
Membuat kita terkejut. Kadang terkejut pun ada yang menyakitkan dan ada yang menyenangkan.
kita harus siap menghadapi yang menyenangkan itu maupun yang menyakitkannya.
”Selamat tingga Dave. kamu berhasil.
Kamu berhasil membuat kejutan 3 hari mengejutkan untukku. Sampai pada hari
keempat, kamu berhasil membuat kejutan yang sangat tidak aku duga. Walaupun
menyakitkan. Kamu berhasil membuat kenangan 3 hari yang tidak akan aku lupakan.
Semoga kamu sempat mendengar ucapan I LOVE YOU dariku dan merasakan kecupan
pertamaku untukmu. Dave….. aku ingin selalu bernafas bersamamu. Melihat semua
yang indah bersamamu. Berdua”.
Komentar
Posting Komentar