"IMAJINASI"
Kamu bukan hanya membuat hidupku menjadi “berarti” tapi
kamupun telah membuat hidupku menjadi “mati” karena kamu telah mematikan semua
harapan, cita – cita, khayalan, dan imajinasiku. Imajinasi itu bukan berarti
sebuah “ilusi”.
Mungkin bagimu semuanya tidak penting. Tapi bagiku ?
semuanya seperti nafasku. Aku butuh semuanya. Kehilangan semuanya seperti ada
yang “berubah”. Aku merasa menjadi bukan aku yang dahulu. Bukan seperti
terlahir kembali melainkan seperti menjadi mati. Semuanya menjauh, pergi, dan
hilang. Berusaha digapai lagi namun terlalu tinggi. Ingin rasanya tenggelam,
namun terlalu sulit untuk kembali lagi kepermukaan. Aku ingin aku yang dahulu,
hidup yang hidup, penuh cinta dan kehangatan. Tidak seperti yang sekarang, mati
dan terpuruk.
Reality itu memang nyata bagi “pikiranku”tapi tidak nyata
bagi “hati” dan “perasaanku”. Hanya khayalan dan mimpi, yang nyata dan hidup
dalam hati dan perasaanku. Dan ketika kamu mematikan seluruh perasaan itu, aku
menjadi kelimpungan, sedih, pilu, dan sesak rasanya.
Mungkin bagimu yang realistis, hal ini hanya masalah
sepele, tidak penting. Tidak semua ide dan imajinasi dapat difikirkan dengan
otak. Kadang……hati dan perasaan pun dapat membuat semuanya menjadi “imajinasi”
karena menurutku imajinasi datang dari hati. Hati yang senang maupun sedih. Dan
ketika kamu membuat semua imajinasiku hilang. Rasanya seperti digaplok,
dipatahkan, dan ditusuk. Bukan hanya sakit. Tapi membekas, tidak akan pernah
hilang dan selalu terekam dalam memori.
Aku ingat ketika kamu membuatku melambung dengan kata –
katamu. Aku begitu senang mendengarnya. Kamu puji segala khayalan dan
imajinasiku walaupun kedengarannya tidak masuk akal. Kamu mendukung segala
sesuatunya. Kamu selalu memperlakukanku seperti tuan putri. Tapi ketika –entah
apa- yang membuatmu seperti dirasuki setan, kamu membuat semua yang berwarna
menjadi gelap. Gelap yang hitam. Tidak jelas.
Bukan marah yang terlintas dalam ha
ti dan pikiranku, tapi
kecewa. Jangankan untuk marah, untuk senyum pun rasanya sesak sekali. Orang
yang selalu memberi semangat akan cita – cita dan imajinasiku ternyata orang
yang mematahkan dan menggugurkan semuanya pula.
Imajinasiku itu bukan sesuatu yang murah. Tidak dapat
dibeli dengan uang apa lagi ditukar dengan barang. Dan pada awal ketika kamu
mampu mendapatkan semua imajinasi dan khayalanku itu aku bisa memberikan dan
berbagi segalanya dengamu.
Tapi ternyata, kamu pulalah yang membuat semua
kepercayaanku hilang dan mati.
Aku berjanji, suatu saat nanti aku tidak akan mudah membagi
semuanya. Bukan berarti aku pelit. Tapi aku menginginkan sesuatunya tidak hanya
indah saat memulai, tapi saat mengakhirinya pun indah. Karena aku percaya, saat
ada pertemuan pasti juga ada perpisahan.
Aku tuliskan semua keluhanku ini disini. Bukan berarti
aku ingin semua orang mengetahui kesedihanku, tapi aku hanya tidak tahu harus
apa dan bagaimana. Aku hanya bisa “ini”.
Aku selalu berharap semua “imajinasi” ku itu akan
kembali. Menjadi suatu kebiasaan yang tidak akan pernah aku lupakan. Karena “imajinasi”
semua yang tidak realistis akan menjadi “realistis” aku percaya. Semua khayalan
dan mimpiku itu tidak akan pernah mati oleh siapapun. Termasuk diriku yang
sedang hancur dan kacau sekali pun.
Komentar
Posting Komentar