F.R.I.E.N.D
Suatu
hari, aku menemui temanku di rumahnya, berencana menghilangkan penat dan bosan
berada di rumah sendiri, akhirnya aku memilih bertemu dengannya (di rumahnya)
karena FYI, aku sedang mengalami kanker (baca:kantong kering) jadi, bermain di
rumah temenku itu mungkin akan lebih irit dan tentunya mengasyikan, karena,
selain rumahnya sepi, dia juga teman yang nyaman untuk berbagi cerita.
Singkat cerita, aku menghabiskan
satu film di rumahnya. Film yang (Astaghfirullah) bajakan ini, sangat menarik.
Untungnya, film bajakan yang dia beli adalah film luar negri, kalau film
Indonesia kan, yaaaa janganlah, kita harus mencintai dan mendukung karya dalam
negri, salah satunya dengan membeli yang original atau menontonnya di Bioskop
sebagai bentuk apresiasi.
Oke, aku nggak akan membahas soal
film bajakan ataupun isi filmnya. Setelah aku dan temanku (sebut saja B)
menghabiskan film bajakan tadi, aku pun tidur – tiduran di kasurnya, bermalas –
malasan sambil menerawang ke masalahku yang selalu aku pendam. Sebenarnya, aku
selalu menceritakannya, tapi…entahlah, dia suka lupa.
Mungkin garis besar ceritanya
seperti ini.
Aku :
aku nggak suka picingan matanya, kayak mata elang, siap nusuk dan bikin sakit
hati, walau dia nggak ngomong sama sekali.
B :
siapa ?
Aku :
dia
B :
dia siapa ?
Aku :
ck, masa kamu nggak ngerti – ngerti juga sih. Waktu itu, waktu aku menyiapkan ulang
tahun seseorang, aku nggak sengaja ketemu sama dia. Seperti biasa, dia pasang mata yang
paling aku nggak suka. Sepasang mata yang merendahkan aku.
B :
Maksudmu seperti ini ?
Dengan bodoh dia menirukan tatapan
ala seorang yang merendahkan orang lain. Alisnya mengerut, dan matanya
menyipit. Hwa, itu adalah hal yang paling aku nggak suka, dan berusaha aku
hindari.
Aku :
kamu tahu ? kita berteman cukup lama dengannya. Tapi, kenapa ya, aku selalu merasa
sakit hati kalau tatap matanya, kalau denger nada bicaranya, dan itu yang menyebabkan
aku malas di dekatnya.
B :
aku tahu, kamu itu terlalu sentiment. Dia…… di pikiran kamu itu udah bener – bener
negative, sampai – sampai kamu nggak mau ketemu sama dia. Padahal kita deketan, kita berada
di lingkup yang sama, kita temenan, dan kita bersahabat sama dia.
Aku :
jadi aku yang salah ?
B :
nggak, kamu nggak salah.
Aku :
trus apa ? aku itu….bukan orang yang bisa kalah. Tapi, terus terang, aku juga nggak bisa buat menang.
B :
apa di dalam pertemanan harus ada yang menang dan kalah ?
Aku :
abaikan aku. Aku hanya ingin bercerita, membuang perasaan yang tidak enak.
B :
kamu tidak mengharapkan solusi dariku ?
Aku terdiam, cukup sudah. Temanku
itu, pasti sudah menganggapku jahat. Tak apa, aku tidak berusaha mengadu domba,
atau menyogoknya agar membenci teman yang sama. Aku hanya ingin bercerita,
tentu saja, kalau dia bisa, aku ingin meminta solusi darinya. Tapi….
Aku :
aku sudah tahu solusi apa yang akan kamu utarakan.
B :
apa ?
Aku :
kamu akan menyuruhku untuk berpikir dingin dan dewasa. Semua orang mempunyai
karakter yang berbeda – beda, kita harus pandai menyikapi karakter dan perasaan
orang lain. Begitu kan ?
Temanku tersenyum padaku.
B :
kamu menghapal itu semua ?
Aku mengerutkan kening
B :
betul apa kataku, kamu itu menghapal semuanya, tapi tidak memahami artinya.
Cobalah, memahami teman sendiri, ubah
mindsetmu. Buang pikiran negative itu. dan bertemanlah.
Aku :
baiklah.
Aku menghela napas berat, beginikahh
rasanya merelakan ? merelakan hati sendiri untuk menerima sifat buruk seorang
teman ? apa boleh kita memberontak dan bilang bahwa aku membencimu teman ? boleh
? apa itu kedengaran buruk dan menyakitkan hati ? itu pasti.
Oh, ayolah, aku bukan orang yang
pandai merangkai kata untuk menusuk hati teman. Aku tidak bisa menyindir hal
buruk dengan untaian kata halus, agar lebih sejuk di dengar. Aku lebih senang
mengucapkan kata tanpa basa – basi, terdengar lebih menyakitkan, dan
menggelegar seperti petir.
Tapi aku tidak terlalu berani, aku
terlalu cupu. Aku adalah seseorang yang ingin dimengerti oleh orang lain tanpa
aku harus berbicara. Egois kan ? begitulah.
Aku ingin temanku itu sadar, bahwa
aku tidak suka dengan nada tingginya ketika berbicara padaku, picingan matanya
ketika menatapku, atau kata manis yang merendahkanku. Aku tidak suka, dan aku
tidak bisa melawan.
Aku ingin seseorang membantuku,
membantuku menyukai sifat buruknya.
Komentar
Posting Komentar