KAKA


Namanya Kaka, cowok tinggi yang begitu kurus, tidak berpenampilan rapi, namun mempunyai daya tarik tersendiri. Kaka senang bergaul dengan banyak orang, senang bermain futsal dan anti lari pagi. Kaka lebih suka makan mie instan buatan bibiknya daripada harus makan nasi beserta lauk pauk dengan lengkap. Tapi, Kaka adalah pecinta air mineral, ketimbang teh, kopi, soda, ataupun bir.


Kaka. Bukan orang yang romantis, cenderung cuek dan tidak peduli dengan lawan jenis. Tapi, bukan berarti dia tidak suka dengan cewek. Kalau Kaka jatuh cinta pada seorang cewek, dia pasti akan memberikan apapun yang dia punya untuk cewek itu. walau nyawa taruhannya. Terdengar agak gombal memang, tapi, itulah Kaka.

Akhir – akhir ini, aku sering sekali bertemu Kaka, tapi, tidak pernah aku dan dia terlibat percakapan panjang, atau sekedar makan siang. Kaka hanya menyapaku alakadarnya, membalas senyumku dengan masam lalu berjalan melewatiku. Padahal, seharusnya, aku dan kaka lebih akrab lagi.

Kuputuskan hari ini, untuk berusaha lebih dekat dengannya. Mengenal sosok Kaka sejauh yang aku bisa, tapi, aku harus tetap bersikap setenang mungkin agar Kaka tidak curiga dan malah menjauhiku.

Aku menghampiri Kaka yang tengah duduk di pinggir lapangan futsal, sedang mengamati teman – temannya.
“hai Ka” aku duduk di sampingnya, agak mengambil jarak sebenarnya.

“hem ?” katanya datar.

“aku bawain air mineral” aku pun menyodorkan sebuah botol air mineral untuk Kaka.

“ada apa ?”

Kaka malah bertanya itu, ada apa ? kenapa malah hal itu yang Kaka Tanya ? aku hanya ingin memberinya air mineral.

“aku Cuma mau kasih air mineral Ka, kenapa ?”

Kaka mengangguk, dan tidak melirik ke arahku sama sekali. matanya tetap lurus ke depan, mengamati permainan teman – temannya. Aku mendesah, sulit sekali mencuri perhatian Kaka.

“kita bisa ngobrol nanti, habis gue selesai main futsal”

“Ka….” Oh My God. Kenapa Kaka selalu berasa kalau dia orang penting sih ?

Aku pun berdiri dari tempat duduk itu dan berjalan gontai ke luar ruangan futsal. Sehabis bertemu Kaka, perasaan seperti inilah yang selalu aku rasakan. Kecewa, dan agak kesal.

Tapi, beginilah, aku tidak pernah menyerah. Aku menunggu Kaka selesai bermain futsal di sebuah mini market yang berada tepat disamping tempat futsal ini.

Aku menenggak minuman soda yang baru saja aku beli, beberapa lama kemudian, Kaka dan teman – temannya keluar dari tempat futsal itu. Kaka sudah berganti kostum. T-shirt, celana jeans dan jaket jeans sudah terpakai sempurna di tubuh kekar dan kurusnya itu.

Aku tersenyum, Kaka tampan sekali. aku pun mendekatinya dan tersenyum pada Kaka. Sedangkan teman – temannya yang lain memilih untuk berpamitan pulang.

“hai Ka”

“gue kira lo pulang”

“aku Cuma mau mastiin hari ini kamu pulang ke rumah”

“lo tuh siapa sih ? ya jelaslah gue pulang ke rumah, orang itu rumah gue”

Aku tersenyum, walaupun terlihat bodoh, aku senang mendengar Kaka marah – marah.

“hhhhh….syukurlah, aku kira kamu masih marah sama aku, dan ga akan pulang”

“yang seharusnya ga balik lagi ke rumah itu, ya lo”katanya kasar, lalu pergi meninggalkan aku.

Aku tertunduk, sebersit rasa tak tahu diri itu muncul lagi. Aku memang tak seharusnya berada di rumah itu. bertemu Kaka, dan menemaninya. Tapi, walaupun semua ini didasari dengan keterpaksaan dan suruhan orang tua, aku merasa nyaman dan senang berada bersama Kaka. Walaupun dia selalu berbicara kasar padaku.

Kaka pulang lebih awal daripadaku. Terang saja begitu, sebelum pulang, aku memilih untuk menghirup udara segar dulu di taman yang ada di perumahan ini. Melamun dan bersenandung, aku senang melakukan hal itu.

Semua itu aku lakukan agar aku merasa mood untuk bertemu Kaka. Walau bagaimanapun, kali ini, aku ‘menumpang’ tinggal di rumahnya. Jadi, aku haruslah sedikit tahu diri terhadap tuan rumah, terutama Kaka.

Aku tidak ingin menimbulkan masalah ketika Kaka melihatku, jadi, kuputuskan untuk memasuki rumah lewat pintu dapur. Dengan begitu, Kaka tidak akan kesal karena telah melihatku.

Aku membuka pintu dapur sambil bersenandung, merasa senang karena akhir – akhir ini sering bertemu Kaka. Walau bukan pertemuan manis, tapi aku senang.

Namun, perasaan senang itu berhenti seketika. Aku mematung melihat Kaka yang sedang menenggak habis air mineral dingin dari dalam kulkas. Lagi – lagi, aku salah langkah. Aku menunduk, berharap Kaka tidak menyadari kedatanganku.

Namun salah, “cewek kok pulang malem – malem” katanya.

Aku menghembuskan napas, “enggg….tadi aku….”

“gue ga minta alasan lo, Cuma, lain kali lo gabisa pulang dan pergi seenaknya gitu”

“iya, maaf”

Kaka mengangguk dan mendelikan matanya, sambil berjalan dia memegangi perutnya. Mungkinkah Kaka lapar ?

“Ka….”

Kaka berhenti berjalan, namun tidak membalikan badannya.

“aku laper” nahloh ? kenapa aku malah bilang aku laper ?

Kaka membalikan badannya dan matanya mengernyit.

“maksud lo ngomong gitu apa ?”

“Kaka…..laper nggak ?” kataku tolol.

Kaka mengembuskan napasnya, kemungkinan besar, Kaka sudah semakin illfeel padaku. Tapi, tak apa.

“kalo lo laper, lo tinggal makan, bibi juga udah nyiapin makanan”

Aku mengangguk, lalu melihat menu makanan yang ada di meja. Ikan goreng, sambal, sayur asam, dan ayam. Ah aku tidak nafsu dengan makanan – makanan itu.

“aku lagi pengen mie”

“kok lo ngatur – ngatur gitu sih ?”

“Kaka suka mie kan ?”

Kaka berpikir sejenak.

“kenapa ?”

Yes, berhasil, sepertinya Kaka sudah mulai luluh sedikit.

“gimana kalau kita masak mie ?”

“kita ? sejak kapan lo menghubung – hubungkan antara lo dan gue ?”

“mau ya Ka ?”

“terserah lo”

Yeeeeees, berhasil !

Untuk saat ini, rencanaku mendekati Kaka berjalan agak mulus. Walaupun Kaka masih selalu berkata ketus padaku, aku sama sekali tidak keberatan. aku selalu yakin, suatu saat nanti, Kaka akan luluh juga. Hatinya yang sedingin es, akan mencair. Kata – katanya yang begitu pedas, akan tergantikan dengan kata – kata yang lembut dan merdu di dengar. Aku yakin, walau entah kapan.


Selamat makan mie buatanku Kaka……

-Didit-

Komentar

Postingan Populer