True.......Story ?




Permasalahan ini sungguh pelik, semua mantra untuk kekuatan hati telah aku kerahkan, bahkan, mengalihkan pandangan dari wajahnya pun telah aku usahakan, walau terkadang, aku memegangi dadaku. Terlalu sakit, jika melihat kenyataan ini. Apa jatuh cinta butuh pengorbanan seperti ini ? menyiksa batin ? menghambur – hamburkan air mata ? menyesakkan dada ?
           Tentu tidak, tidak semua cinta harus menyakitkan, menyedihkan, menyengsarakan. Ini hanya ceritaku saja dengannya. Bukan, bukan dia yang kesusahan menahan sakit hati, tapi, aku. Hanya aku yang tahu, dan merasakannya.
            Cinta. Bertepuk. Sebelah. Tangan.
            Cinta. Tak. Terbalas.
           Ya apapun itu, aku paham semuanya. Aku tahu rasanya, karena aku mengalaminya. Aku sayang pada seseorang, tapi dia tidak membalas perasaanku. Apa yang bisa ku perbuat ? memohon padanya ? bertekuk lutut agar dia membalas ? memaksa dengan imbalan aku akan melakukan apapun agar dia mencintaiku ?
           Oh please, aku memang mencintainya. Aku perempuan. Aku sakit hati. Tapi aku bukan budak.
          Dia memang tidak bisa mencintaiku, dengan alasan yang tidak ingin aku ketahui. Tapi, bukan berarti aku bisa memaksanya. Biarkanlah, dia  hanya menjadi orang yang tahu bahwa aku mencintainya.
            Cowok itu begitu dekat denganku saat ini, berada di ruang yang sama dan keadaan yang sama. Tapi, ketika cowok itu terasa semakin dekat, bahkan helaan nafasnya pun dapat terasa olehku, aku malah merasa bahwa dia semakin jauh, semakin menyakitkan, dan tidak bisa aku sentuh. Dengan kata lain, menatap wajah tampannya saja, aku tidak sanggup. Terlalu menyesakkan.
       Sudah kurang lebih 3 tahun aku mengenalnya, mengenal kebiasaannya, mengetahui kesukaannya, menciptakan percakapan kaku dan formal, sampai pada akhirnya, kami bisa berbicara dengan tenang, lancar, seolah kami seorang sahabat. Aku nyaman ketika dia begitu perhatian padaku, aku senang ketika dia dengan sendirinya datang ke mejaku, dan memberiku beberapa trik mengerjakan soal kimia. Disaat orang lain dengan riuhnya bergossip dan bernyanyi – nyanyi di kelas, dia dengan telaten mengajariku. Aku senang. Hal sepele, namun berdampak hebat buat hatiku.
            Sampai suatu ketika, ketika aku dan dia tidak akan bertemu dengan waktu yang cukup lama, karena kami akan lulus Sekolah Menengah Atas, aku merasa bahwa aku begitu bodoh. Semua perhatian dan pendekatannya padaku itu tidak ada arti apapun. Aku lihat, aku cermati, dia baik pada semua wanita, dia dekat pada semua wanita. Walaupun dia belum memiliki pacar. Tapi aku sadar, dia memperlakukan wanita sama besar. Tidak ada yang di spesialkan.
         Aku mengerti, aku terlalu berharap banyak. Apa berarti aku bodoh ? tentu saja, aku berpikiran seperti itu.
            Suatu hari di acara Prom Night sekolahku.
           Sebenarnya, aku tidak terlalu antusias dengan acara ini. Bagiku, menghadiri acara seperti ini bukanlah aku yang sebenarnya dan hanya akan menghambur – hamburkan waktu. Aku lebih menyukai berdiam diri di kamar, menulis sesuatu di laptop, mendengarkan lagu, atau menonton film.
            Tapi, beberapa cerita aku dengar dari orang – orang yang pernah menghadiri Prom Night. Acara ini tidak boleh di lewatkan. Sekali seumur hidup, bisa dibilang, kau boleh menjadi putri satu malam. Walaupun orang tidak memandang kalian seperti putri, tapi, setidaknya, kau akan tampil beda semalam.
            Aku pun mengahadiri Prom Night, hanya satu orang yang ingin aku lihat, aku sapa dan aku tatap. Dia. Tapi, aku tak kunjung menemukannya. Aku, bersama teman – temanku lalu mengambil tempat duduk di sebuah tangga. Kebetulan, Prom Night yang diadakan sekolahku mengambil tempat di sebuah kebun yang cukup luas dan di tata rapi, tidak di dalam gedung, yang menurutku akan sumpek dan panas. Aku lebih suka tema seperti ini.
            Tapi, kelemahannya adalah, aku kesulitan mencari sosoknya. Lampion – lampion yang menghiasa kebun disini, begitu remang – remang. Aku mendesah, lebih baik, aku menikmati lagu yang sedang dinyanyikan oleh sebuah band saja. siapa tahu, dia tiba – tiba datang dan duduk di sebelahku.
            Aku membuka percakapan dengan seorang teman, bertanya basa – basi tentang universitas. Aku pun bertanya pada cowok itu, datang dengan siapa, dan kenapa ceweknya tidak kelihatan bersamanya. Dia hanya mengangkat bahu dan menampakan wajah sedih.
            Detik berikutnya, aku melihat sosoknya menaiki tangga, tidak tahu akan kemana. Dengan bodoh aku menyapanya, “hei” dia menepuk tanganku pelan, lalu bilang “hei” dan meleos pergi. Aku menghela napas panjang, jantungku berdebar hebat, lututku lemas, dan aku ingin menangis.
            Hanya sebatas itu ? ya setelahnya, aku tidak bertemu dengannya.
            Sampai saat ini, aku hanya mendengar dan mengetahui kabarnya dari social media. Dari kicauannya. Dia berusaha begitu keras untuk mencapai impiannya agar di terima di sebuah universitas ternama di Bandung. Begitulah dia, selain cerdas, dia juga pantang menyerah. Aku suka.
            Aku selalu berdoa, suatu saat nanti, aku bisa bertemu dengannya. Dengan cara apapun yang akan Tuhan berikan. Aku ingin suatu hari, kita bertemu dan sulit dipisahkan.
            Kedengarannya seperti Fairytale memang, seorang putri dan pangeran yang sulit bersama, namun di akhir cerita mereka akan happy ever after. Tapi, apa salahnya berkhayal ?

            Didit

Komentar

Postingan Populer