UNTITLED

Aku ingat, dulu, aku pernah mendengarkan sebuah nasehat dari seseorang yang menurutku penting. Nasehat yang membuatku merasa tak cukup lega dan malah semakin putus asa. Pada intinya, nasehat dari temanku itu sama sekali tidak membuatku bertemu jalan terang. Tapi, kini aku menyesal telah mengabaikan nasehat baiknya, kata – kata bijak yang –kalau aku sadari- adalah sangat berarti untukku saat ini.

Pada akhirnya, aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri, mencaci maki betapa bodohnya aku dan tak tahu dirinya aku. Semua sudah terlambat, segala sesuatu yang didasari rasa terpaksa dan ‘tidak enak’ hanya akan menimbulkan perkara. Ingin rasanya memulai hal itu dari awal. Mendengarkan dengan sebaik mungkin masukan yang diberi oleh temanku. Tapi, yaaaa itu tadi, semua sudah terlambat.

Aku terlanjur suka sama seseorang, terlanjur mengikuti setiap langkah yang ia lalui, terlanjur berlebihan dalam memaknai tatapan hangat itu, terlanjur jatuh……Jatuh Hati. Ya, kalian tidak usah memberitahuku bahwa aku salah langkah. Aku mengerti sekali, dari awal, semuanya hanya akan menimbulkan luka dan menciptakan jarak. Mematikan rasa yang begitu bermakna, dan meninggalkan sakit yang tiada obatnya. Semua adalah salahku, salahku yang terlalu cepat berjalan dan mengartikan rasa.

Temanku pernah memberikan nasehat usil padaku, “kita tidak bisa seenaknya mengartikan arti sebuah getaran, semakin banyak orang itu membuat hati kita bergetar, maka percayalah, semakin banyak pula ia akan membuat kita sakit karena getaran itu”

Aku tidak mengerti dengan ucapannya, lalu, dengan tenang ia menjelaskan, “kau tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Misalnya saja, menerjemahkan arti getaran yang kau rasakan saat bertemu seseorang. Kau harus berpikir realistis dan tenang. Semua ada prosesnya, jangan langsung menamakan bahwa itu adalah cinta”

Aku tidak mau kalah, akupun bisa menyangkal pernyataannya, “tapi, bukankah itu adalah tanda – tanda cinta ya ?”

Dia menjelaskan lagi, “mungkin kebanyakan orang selalu dengan cepat mengartikan itu adalah cinta. Bahkan, kalau kau baru pertama kali melihat orang itu dan hatimu langsung bergetar, orang langsung menamai itu cinta. Cinta pada pandangan pertama. Tapi, coba pikir deh, kalau itu memang cinta, apa kita bisa tahu lawan main kitapun merasakan getaran itu ?”

Aku melongok, pikiran temanku itu terlalu jauh dan dalam. Detil, dan terlalu berlebihan, kenapa kita tidak berpikiran untuk menjalani saja dulu. Toh, kalau kita tidak mengikuti langkah orang yang kita cintai kemana saja, kita tidak akan tahu apa yang sedang dirasakan oleh orang itu, betul kan ? ya itu adalah pikiran yang menurutku benar…….saat itu.

Ternyata pikiranku itu salah. Justru, kalau kita mengikuti kemana langkah orang yang kita cintai itu, kita hanya akan mendapatkan lelah, dan putus asa. Sebab, orang yang kita buntuti sama sekali tidak menyadari bahwa kita ada di belakangnya, di hadapannya, bahkan berdiri tepat disampingnya.

Terlalu sakit jika harus menyadari bahwa itu adalah yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan.
Ragu dan kecewa terhadap keputusan sendiri adalah hal pertama yang aku sadari bahwa hal aneh dan mengasyikan hati ini ternyata secara perlahan telah membuatku gila dan nyaris bunuh diri.

Tidak seekstrim itu sih, cuma, mungkin seperti itulah ibaratnya. Bisa dibayangkan bukan bagaimana rasa sakit hatinya kalau ternyata cinta yang kita harapkan tidak ada artinya sama sekali. patut dibuang begitu saja, jangan dipikirkan lagi, dan pergi menjauh dari ‘cinta’ yang telah diciptakan oleh seseorang yang pada akhirnya membuat hati kita sakit itu.

Bodoh adalah ketika aku tidak bisa menerima kenyataan. Memangnya, cinta itu dapat dipaksakan ? memohon – mohon agar seseorang itu membalas cinta ? ah, itu sudah tidak jaman lagi.

Yang harus kulakukan saat ini adalah, menghilangkan radar cinta yang selalu aku rawat dengan baik ini darinya. Menghapus semua senyum dan tatapan hangat darinya. Dan kalau bisa, pergi jauh dan jangan terlihat lagi olehnya

Tapi, bagaimana kalau nanti aku merindu ?

Ya, ini adalah problem baru yang akan muncul, jika solusi dimulai dari sebuah problem. Kalau aku rindu, dan hanya bisa menahannya, aku tidak akan bisa benar – benar sembuh dari perasaan ini. Yang ada, aku hanya akan menciptakan luka baru.

Lalu, aku harus apa ?

Obatnya cuma satu……….dia membalas cintaku.


Hahaha.

-Didit-

Komentar

Postingan Populer