Ini ceritaku, Apa ceritamu ?


Kalau kau mempunyai kakak perempuan yang usianya berbeda 7 tahun darimu, apa yang sekiranya kau harapkan darinya ? perhatian yang lebih ? contoh perilaku positif ? di beri uang jajan jika sudah bekerja ? atau…….curhat masalah cowok ?
  
 Mungkin itulah yang sebenarnya aku harapkan, simple memang, tapi aku yakin, kakak perempuanku tidak bisa memenuhi keinginanku. Aku berbeda usia yang cukup jauh darinya. Membuatku selalu di anggap anak kecil yang tidak tahu apa – apa. Sampai pada akhirnya, dia memilih menikah, berpisah dengan keluarga dan tinggal dengan suaminya (oke ini tidak nyambung)
            
Saat itu aku masih SMP, walaupun aku hanya mengerti samar – samar, tapi aku bisa merasakan bagaimana perasaan kecewa orangtuaku. Aku yakin, bapakku lebih berharap kalau anak gadis pertamanya itu memberikan contoh yang baik pada kedua adik lainnya, begitupun ibuku. Aku yang masih kecil merasa kecewa. Kenapa harus menikah ? kenapa bukan meneruskan kuliah yang tinggal beberapa semester lagi ? kenapa harus mengecewakan orang – orang ?
            
Semua sudah terjadi, dan menikah mungkin jalan hidup kakakku, kalau aku kecewa, aku bisa apa ? memarahinya ? bapakku tidak pernah mengajarkan ketidaksopanan pada orang yang lebih tua.
           
Menginjak SMA, aku mulai sadar, menuju dewasa mengajarkan kita sebuah tantangan dan pilihan. Berjuang sukses atau diam ditempat dan kalah. Mungkin pemikiranku terlalu jauh dan keras, tapi begitulah yang bisa aku tanggapi dan rasakan.
            
Umurku bertambah, percakapan malam hari dengan bapak pun menjadi berubah. Kini, bapak mengajarkanku sebuah kedewasaan, pendidikan tinggi, dan pekerjaan, bahkan politik. Tapi aku tidak bosan, aku justru senang dan menanggapinya. Aku begitu suka dengan gaya bicara bapak yang walaupun singkat tapi begitu berwibawa di mataku. Bapakku, adalah orang yang paling aku hormati.
            
Setelah lulus, pekerjaan belajarku tidaklah harus berhenti. Aku ingin kuliah, melanjutkan studiku ke jenjang yang lebih tinggi. Begitupun bapak dan ibuku, sebagai anak yang di tuakan di rumah saat ini, aku harus memberikan contoh yang baik pada adikku. Salah satunya adalah dengan sekolah setinggi -  tingginya.
            
Bapak dan ibu begitu mendukungku, aku menjelaskan pada mereka bahwa aku ingin menjadi seorang perawat. Aku senang mimpiku itu didukung oleh mereka. Aku berjanji, tidak akan mengecewakan kepercayaan yang telah mereka ciptakan untukku.
           
Suatu ketika, kakakku mengeluh tentang anak keduanya yang tidak terlalu di perhatikan jika di banding anak pertamanya oleh bapakku. Lalu, aku bilang padanya, anak kedua memang seperti itu, harus mengalah, dan prihatin. Dia lalu sadar, bahwa aku adalah anak kedua. Dengan enteng dia bilang padaku, oh ya, kamu kan anak kedua, tapi kamu itu beda, kamu itu selalu didukung sama bapak.
           
Aku tersentak, maksud kakak itu apa ? apa dia merasa bahwa selama ini dia tidak didukung oleh keluarga ? ah sudah dewasa tapi pemikiran dangkal.
            
Aku hanya diam, malas untuk melanjutkan percakapan yang ujung – ujungnya hanya akan menampakan penderitaan yang dialami dia. Sebagai kakak, tidak bisakah dia menceritakan hal bahagia ? kenapa dari dulu, yang dia ceritakan hanyalah kesedihan dan kekecewaan ?\
            
Bayangkan saja, aku lahir jauh setelah dia dilahirkan. Bayangkah saja, sebelum aku dilahirkan, aku yakin, dia dibanjiri begitu banyak kasih sayang oleh bapak dan ibu. Tidak terbagi, seperti aku dan adikku yang hanya berbeda dua tahun. Tapi, toh aku tidak pernah sirik pada adik laki – lakiku.
            
Ingin sekali aku membekam mulutnya dan menyadarkan dirinya. Stop membuat orang tua merasa terbebani, berhenti membuat orang tua menangis, kecewa dan putus asa mendengar kehidupanmu, keluhanmu, dan lainnya.
            
Ciptakanlah sedikit kesenangan, walau kamu harus berbohong. Orangtua selalu tahu, apa yang terbaik untuk anaknya. Tapi, jika kamu hanya membuatnya kecewa dan kecewa, kamu tidak akan sama sekali mendapatkan kepercayaan darinya.
           
Apa aku harus mengajari kakakku yang sudah dewasa itu ? apa harus aku mendorongnya ketembok, membuatnya kesakitan lalu menangis dan sadar ? ahhhrrhh kalau aku berani, aku ingin sekali melakukan itu.
            
Tapi, percayalah, terkadang aku merasa bangga pada kakakku itu. menyebalkan sih, tapi ya….mau bagaimanapun dia itu saudaraku. Suka nggak suka aku harus suka. 

bukan cerita aku

Komentar

Postingan Populer