CEREAL
Aku
sangat merasa bersyukur, kalau bisa, aku ingin sekali mengucapkan terimakasih
dan memberitahukan perasaanku yang terdalam ini padamu. Kau tahu ? aku sangat
berterimakasih karena kau telah memberikan pengalaman yang begitu berharga
sekaligus menyakitkan untukku. Aku ingin kau tahu, aku sudah terbiasa dengan
hal seperti itu. And, don’t worry, it wasn’t special for me, either.
Tapi, pada kenyataannya, kau begitu
membuatku sakit hati, kau datang terlalu cepat dan terlalu dekat sehingga aku
tidak merasa ada yang ganjal dengan pendekatanmu itu. Tapi, secepat kilat, kau
pergi, berlalu, dan tidak menoleh ke arah ku lagi. Aku bisa apa ? tersenyum
meratapi kemalangan nasibku ? oh ya, itulah yang kini ku alami.
Hanya bisa melihat mata picikmu itu
dari jauh. Tawa puasmu yang begitu memekakan telinga, dan jemarimu yang
bertautan dengan gadis lain. Itukah yang dinamakan pelarian ? memuaskan satu
pihak dan menjungkir balikan perasaan lain pihak ? ya ampun tega sekali.
Kini semua itu begitu nyata. Kau
membuat semua mata tertuju padamu, seolah dunia harus tau kalau kau sedang
jatuh cinta, pada wanita selain diriku tentunya. Atau, kau hanya ingin
membuatku sakit hati dan menangis memintamu kembali padaku ?
Aku tidak seperti itu, walau ada
rasa penyesalan karena telah dekat denganmu, tapi, aku tidak akan merasa rendah
seperti yang kau bayangkan (mungkin). Beruntunglah diriku karena tidak berjalan
terlalu jauh denganmu, walau sebentar, kau telah membuat pengalaman dan
mewarnai hidupku, dan aku sangat berterima kasih karena kau telah membuat warna
yang begitu indah (saat itu).
Ada rasa sesal yang masih bercokol
di hatiku, ada juga rasa cemburu (walau sedikit) yang mengendap di dasar hati
dan entah kapan akan menghilang. Itu semua karena kau telah mewarnai hidupku
begitu indah dan detik berikutnya kau menghilangkan warna itu dengan kegelapan.
Seperti teror di tengah badai, petir itu begitu mengkilat dan membuat dadaku
berdebar, menyilaukan mata dan menusuk jantung.
Kau.
Kau seperti kilatan itu.
Jangan datang lagi padaku, kecuali
kau memang begitu membutuhkan aku dan berjanji tidak akan pergi dengan cepat.
Kau boleh pergi, tapi jangan meninggalkan luka yang seperti ini. Kau boleh
tidak menyayangiku, tapi kau jangan memperlakukanku seolah kau memberi harapan
itu. Kau boleh menggelapkan semuanya, termasuk mata hatiku, tapi, kau tidak
boleh lari dan mengingkari janjimu.
Komentar
Posting Komentar