Meracau Kacau

Stay Focus

Kenapa hasrat untuk menulis itu selalu tenggelam lalu muncul begitu saja ? kenapa harus ketika aku merasa di titik terendah dahulu baru aku mempunyai keinginan untuk menulis sesuatu ? kenapa aku tidak bisa seperti penulis-penulis itu ? yang setiap bulannya mengeluarkan buku, bulan berikutnya penulis itu dapat kabar bahwa bukunya mendapatkan kategori Best Seller di Gramedia atau toko buku lain, dan bulan-bulan berikutnya penerbitan harus mencetak ulang buku best seller itu karena sudah kehabisan stok, dan peminat semakin memuncak, kenapa itu terlihat begitu mudah ? Aku yakin, sebenarnya tidak semudah yang terlihat, pasti banyak keringat dan tetesan air mata di balik itu semua, karena menulis merupakan pekerjaan hati dan mengorbankan waktu. Tapi, kalau pada dasarnya kita menikmati setiap huruf yang kita ketik, dan memaknainya dengan penuh cinta dan ketulusan, aku yakin, tidak akan ada yang namanya lelah dan bosan saat menulis. Kalau begitu ? masalah aku adalah keinginan aku sendiri untuk menulis yang kurang bergelora, sehingga yang ada hanyalah cerita yang berujung buntu dan terancam di hapus di folderku sendiri.

Aku iri pada penulis yang setiap malamnya berhasil berimajinasi dan menguntai kata dengan indah. Kenapa aku tidak bisa seperti itu ? apa karena aku tidak berbakat ? oh jelas mungkin. Aku tahu apa yang seharusnya seorang penulis lakukan untuk menambah wawasan dan menambah daya imajinasinya dalam menulis, yaitu membaca. Oke, aku tidak terlalu suka membaca, suka sih, tapi dengan bacaan tertentu. Membaca bukan melulu harus novel remaja, pernah pada saat aku SMA, seluruh siswa disuruh untuk membaca buku sastra dari zaman ke zaman, aku sendiri memilih untuk membaca buku Burung-Burung Manyar, karya dari seorang sastrawan berbakat. Yaitu Yusuf Biliarta Mangun Wijaya. Aku sama sekali tidak mengerti dengan bahasa pada zaman itu, sulit di pahami dan bertele-tele, tapi walau aku tidak mengerti, aku menikmatinya. Rasanya enak aja gitu membaca sesuatu yang sulit aku mengerti.

Setelah membaca novel rumit yang satu itu, kami dituntut untuk bisa membuat esay tentang novel yang telah dibaca. Untunglah, sebelum tampil ke depan dan mengungkapkan esay dari masing-masing novel, guruku yang baik hati itu meminta semuanya menjelaskan tema dari novelnya. Ternyata tema yang aku usung dari novel itu sama sekali tidak masuk isi novelnya, guruku langsung memberi tahukan apa yang seharusnya aku tulis di tulis di tema-nya dan menjadikannya cerita menarik untuk dibuat esay.

Kenapa aku jadi bahas itu ?

Aku tidak menyentuh novel itu lagi selepas tugas selesai, aku hanya menyimpannya rapi di rak koleksi novelku itupun kusimpan di paling bawah. Sedihnya adalah, padahal kalau aku cerdas dan kritis, dari satu novel sastra itu, bisa ku jadikan sesuatu yang bermanfaat, misalanya saja, aku mencari teman-teman dari novel sejenisnya, karena novel teenlit terlalu mainstream, aku kan bisa saja mencari jalan lain dengan membaca novel-novel sastra, entah itu zaman 45, 60’an, Balai Pustaka, Pujangga Baru, taun 90’an dan sebagainya. Bisa saja kan, aku menemukan film atau ruh menulisku di novel-novel itu. Haha, iya kali.

Oke, jadi semalam itu, aku seperti mendapatkan Ilham dari Yang Mahakuasa, kalau solusi dari semua masalah ini adalah. FOKUS. Aku hanya perlu fokus pada satu tulisan, dan saat ini, sudah sejauh ini, banyak tulisan aku yang buntu ditengah jalan dan berakhir tidak aku jamah lagi. Mereka semua terbuang sia-sia, karena aku terlalu payah untuk menyusun mereka hingga akhir.

Fokus. Lalu kembangkan.   
                          
Didit

Komentar

Postingan Populer