Nagalana (bagian 1)

Pada akhirnya, kecemasan itu membuat seorang Nagalana menjadi dewasa. Berkubang dalam kerinduan yang begitu fana dan terus meradang menahan sensasi mengerikan yang tak pernah ada penyembuhannya. Nagalana selalu tahu bagaimana cara membuat orang disekitarnya bahagia dan tersenyum penuh bangga untuk mendapatan apa yang mereka mau. Tapi untuk dirinya sendiri, dia tidak pernah mendapatkan apa yang dinamakan bahagia dan tersenyum terharu. Mungkin pernah. Tapi itu dulu.

Nagalana dulu dan sekarang hanya bisa mengingat masa lalu dan tersesat didalamnya, hingga sampai sekarang dia tidak bisa keluar dari labirin masa kelam itu. Seseorang dari ingatannya dulu membuatnya terikat dan tidak bisa bergerak bebas.

Nagalana enggan mencoba melupakan dan menghapus ingatan yang selama ini selalu membuatnya cemas dan berkeringat dingin itu. Dia hanya membiarkan ingatan itu bercokol dan tetap mengharapkan orang di masa lalu itu hadir kembali dikehidupannya. Karena alasan Nagalana masih hidup dan ingin terus membahagiakan orang lain adalah hanya karena gadis itu. Gadis yang membuatnya selalu bermimpi dan berjuang menggapai mimpinya.

Gadis itu menghilang entah kemana. Gadis cantik itu tidak pernah berjanji untuk datang menemui Nagalana lagi atau hadir untuk membantu Nagalana bermimpi seperti janjinya tujuh tahun lalu. Gadis itu pun tidak pernah berjanji untuk hidup selamanya dengan Nagalana, membantu mewujudkan setiap mimpi Nagalana.

Namanya Ludiana.

Ludiana tidak pernah berjanji pada Nagalana, tetapi lelaki itu selalu mengharapkan Ludiana akan segala hal, seakan hidupnya bergantung pada gadis itu. Ludiana selalu senang berada dekat dengan Nagalana, tetapi ia tidak bisa terus seperti itu. Mimpi membuat Ludiana harus pergi meninggalkan Naga dan berjuang untuk bisa mewujudkan mimpinya sendiri. Karena mimpi setiap orang pasti berbeda, dan setiap orang pasti mempunyai cara tersendiri untuk menggapai mimpinya. Termasuk Ludiana. Namun tidak termasuk Nagalana. Nagalana merasa mimpinya itu bergantung dan harus ditemani oleh Ludiana. Nagalana tidak bisa bermimpi sendirian.

Di sebuah pendopo milik Naga yang dibuatnya bersama pamannya, lelaki itu membuka halaman demi halaman buku yang telah lusuh dan sudah layak dibuang. Bukan miliknya, tetapi milik Ludiana. Buku itu diberikan Ludiana kepada Naga saat lelaki itu berulangtahun yang ke tiga belas, kado paling indah yang pernah Naga terima.

Buku itu sudah menguning dan kusam, bukan karena sudah terlalu tua tetapi karena sering dibuka dan dibaca berkali-kali oleh Nagalana. Buku itu, seperti kitab yang ia wajib baca ketika galau menerpa dan kerindan mengurungnya. Buku itu penguatnya, buku itu satu-satunya peninggalan dari Ludiana. Sang gadis yang membuatnya selalu meradang menahan kerinduan.

Kamu harus selalu bermimpi ya Naga, aku juga akan selalu bermimpi, untuk menemani kamu. Jangan patah semangat hanya karena orangtuamu tidak mendukung mimpi kamu menjadi pelukis. Kamu punya hak untuk memilih mimpimu sendiri. Dan aku. Ludiana, akan selalu mendukung plihanmu.
Halaman 15

Naga senang dengan tulisan Ludiana di halama lima belas itu. Terkesan menyemangati walau untuk saat ini, tulisan itu hanya sekedar rangkaian kata yang tidak bermakna untuk Naga. Lelaki berambut hitam sebahu itu tersenyum pahit, kamu pembohong. Katanya dalam hati.

NAGA ! kamu pasti tau kan mimpi aku itu apa ? ah, bagaimana kamu mau tau, kamu tidak pernah bertanya hal itu padaku, kamu hanya meminta aku untuk memotivasimu untuk bermimpi. Sedangkan aku ? kamu hanya biarkan aku untuk bermimpi sendiri.
Nagalana yang selalu menolongku….. kamu tahu ? aku selalu bermimpi untuk bisa hidup sampai akhir ditemani kamu.
Halaman 17

Sampai akhir bersama Nagalana ? mungkin kata-kata itu bukanlah hal mustahil dan masih bisa datang sebuah keajaiban untuk mewujudkannya. Gadis yang penuh semangat itu begitu bisa membuat hati Naga terkecoh akan sebuah harap. Akankah Ludiana memperjuangkan mimpinya itu sampai akhir untuk Nagalana ? demi mimpinya, dan demi mimpi Nagalana ?

Mungkin iya.

Mungkin pula akan patah dan bobrok di tengah jalan.

Nagalana, aku mencintaimu.
Halaman 23

Itu adalah halaman terakhir dari rangkaian tulisan Ludiana. Penutup yang menyimpan sebuah tanda tanya besar. Menghantam jantungnya dengan keras hingga rasanya terdengar dentuman yang begitu menyakitkan. Kata terakhir itulah yang membuat Ludiana pergi dan membuat Nagalana selalu mengharapkannya.

Ludiana adalah gadis pintar dengan segudang mimpi besar. Pemimpi hebat dan gadis yang selalu berjuang sampai titik akhir, Nagalana menyukainya karena itu.

Nagalana menancapkan matanya yang tajam itu ke kanvas besar di depannya. Sedari kemarin, dia tidak berhasil menghasilkan sebuah lukisan, bahkan sketsa pun tidak. Hari besar yang seharusnya dirayakan berdua dengan Ludiana akan segera datang. Dan itu sangat mengusik pikiran Nagalana, membuatnya tidak bisa berimajinasi bahkan seperti kehilangan motivasinya lagi. Seharusnya, setelah membaca halaman terakhir dari buku milik Ludiana itu, Nagalana menjadi semangat dan melukis kembali, walau pada akhirnya, motivasi itu kadang tenggelam dan muncul lagi.


Usia Nagalana besok genap dua puluh tahun.


~D~

Komentar

Postingan Populer