Nagalana (bagian 2)
Bagi Ludiana, saat
ini sesal adalah perasaan yang paling terkutuk di dunia. Perasaan itu terus
menghantuinya kemanapun kakinya melangkah. Semua terasa salah karena sesal itu
terus mengacaukan pikirannya. Ia dihantui perasaan, mengapa dulu melakukan
itu ? mengapa tidak memulai dengan cara lain ? mengapa harus menyakiti orang
lain ? mengapa membuat dia kecewa padahal dia sudah berusaha apapun untukmu ?
mengapa tidak pernah memahami dulu apa kata orang lain, memilahnya, lalu ambil
keputusan yang menurutmu benar ? sudah begini, sulit sekali mencari kesempatan
kedua kan ?
Begitulah
hantu-hantu itu menguasai pikiran Ludiana. Semua membuat kepalanya terasa akan
pecah saja. Terlalu sulit untuk ia kendalikan, karena memang dia merasa dialah
yang salah atas semua masalah ini.
Tak ada penyesalan
yang datang di awal perkara. Itulah yang harusnya ia pikirkan sekarang.
Memperbaiki keadaaan yang sudah terlanjur menjadi bubur. Dan mengingat
persoalan awal.
Ludiana menutup
matanya rapat-rapat, mencoba mereka ulang permasalahannya sehingga sesal itu
muncul. Hasilnya sama saja, semua memang salahnya, dilihat dari sisi manapun kebenaran
yang ia miliki. Semua adalah salahnya, salah mengapa ia harus meninggalkan
Nagalana dengan sejuta mimpi yang sangat gadis itu yakini, bahwa kenyataannya
Nagalana pasti masih menyimpa pengharapan pada gadis itu. Jadi, harus mulai
darimana dia untuk kembali ?
Pulang adalah
salah satu hal yang menyakitkan baginya saat ini. Jika pada nyatanya
orang-orang selalu merindukan pulang dan selalu mengharapkan akan
keindahan pulang itu sendiri, kini Ludiana malah tidak tahu harus berbuat apa
ketika dia pulang.
Pulang begitu
mengartikan banyak hal baginya. Pulang berarti ia harus menerima kenyataan
bahwa Nagalana akan sangat membenci dirinya. Pulang berarti ia harus menebus
segala kesalahan yang pernah ia perbuat pada Nagalana. Pulang berarti ia harus
merasakan perasaan itu lagi, perasaan yang selalu membawanya tidak sadar akan
sebuah keadaan.
Cinta, sayang,
rindu, perhatian, kepedulian, dan sebagainya. Rasa yang tidak pernah ia
dapatkan disini. Dan ludiana merindukan semua perasaan itu. Ia harus pulang,
tapi rasa tahu diri itu muncul begitu saja, kenapa ia harus pulang ?
Kemunculannya yang
tiba-tiba mungkin hanya akan mendatangkan permasalahan baru. Bahkan mungkin,
seorang Nagalana –orang yang paling dekat dengan Ludiana dan sangat ia rindukan
itu- sudah melupakan gadisnya. Ya, untuk apa pula Nagalana masih mengingat
Ludiana ? tidak ada alasan yang baik untuk Nagalana mengingatnya. Bahkan
mungkin bisa jadi, Ludiana hanyalah bayangan yang begitu kelam bagi seorang
Nagalana. Bayangan yang harus dengan cepat di hapus dari ingatannya.
Tapi, rasa rindu
itu mengalahkan semuanya. Tekadanya kali ini sungguh kuat dan tidak bisa
dihalangi oleh siapapun lagi. Ia harus kembali.
Entah kebetulan
apa yang terjadi pada alam semesta ini. Ketika ia harus kembali, sebuah momen
besar akan terjadi pada lelaki itu. Usia Nagalana akan bertambah besok. Dan
dengan serta merta hutang itu bermunculan begitu saja di pikirannya.
“Naga !!! kau
pegang janjiku ya, dimanapun aku berada, saat ulang tahunmu tiba aku akan ada
di sampingmu. Merayakan ulang tahunmu”
Saat itu, Naga
tersenyum begitu manis, merasa bahwa ternyata ada orang yang begitu peduli dengan
ulang tahunnya.
Dan saat ini
Ludiana amat menyesali kebodohannya tujuh tahun silam. Mengapa dia
memberikannya sebuah janji yang sudah jelas-jelas tidak bisa ditepati. Janji itu
sungguh membuat Ludiana berpikir dua kali lagi untuk bertemu Nagalana. Gadis
itu terlanjur malu dan sudah bisa dipastikan bahwa Nagalana selalu menunggunya
setiap ulang tahunnya tiba.
Apa yang harus
Ludiana perbuat ? kini ia sudah terlanjur berada di depan rumah Nagalana. Rumah
yang begitu banyak menyimpan kenangan baginya. Rumah yang selalu menjadi alasan
mengapa ia pulang. Saat itu.
Dan sekarang, apa
rumah ini masih bisa dijadikannya alasan untuk pulang ?
Ludiana hanya
memandangi pagar yang menjulang tinggi di hadapannya. Bisakah ia memasukinya ?
ekspresi apa yang seharusnya ia perlihatkan pada Nagalana ketika saling bertemu
? Ludiana seratus persen meyakini bahwa ia tidak akan berkata apapun ketika
melihat Nagalana.
Seseorang
dari dalam membuka pagar, membuat Ludiana terkaget sampai tidak bisa berpikir harus
melakukan apa terlebih dahulu. Ia hanya mematung, pasrah menunggu orang
tersebut membuka pagar dan memergokinya yang menunggu dengan kebingungan di
hadapan pagar.
Kaget
bukan kepalang menyerangnya, setahunya rumah itu tidak dihuni orang selain
Nagalana atau pamannya. Di rumah sebesar itu mereka hanya tinggal berdua. Tujuh
tahun lalu sih.
“maaf,
mencari siapa ya ?” Tanya seorang bapak yang sudah tua renta membuyarkan
pikiranku.
“em….saya….mencari
Nagalana” mengucapkan nama itu sungguh hal terberat bagi Ludiana.
“oh,
tapi maaf Nagalana dan pamannya itu sudah
tidak tinggal di sini lagi”
Tubuh
Ludiana menegang dengan cepat, Nagalana sudah tidak tinggal di tempat ini ?
kemana anak itu ?
“maaf
? sejak kapan ?”
“sudah
lama sekali. Empat tahun yang lalu”
Dengan
refleks Ludiana mundur selangkah ke belakang, sudah selama itu dan Ludiana
tidak mengetahui kabar apapun darinya.
“apa
bapak tahu kemana Nagalana dan pamannya pindah ?”
**
Setelah
mendapatkan alamat yang sangat membuat Ludiana kebingungan. Ia pun sampai di
rumah Nagalana. Mudah-mudahan ini benar rumahnya, sungguh sangat berbeda dengan
rumahnya yang mewah dulu. Perubahan apa yang membuatnya pindah rumah seperti
ini ?
Rumah
yang berdiri di hadapan Ludiana begitu minimalis, tidak berpagar, dan terdapat
sebuah gazebo berserta taman di depannya.
Tidak
adanya pagar membuat Ludiana kebingungan harus memulai langkah darimana. Ia
hanya melihat rumah itu dari balik semak-semak. Sosok itu disana.
Di
kejauhan Ludiana melihat sosok bertubuh tinggi, kurus, dengan kanvas besar
terpajang di depannya. Dia hanya melamun, tidak melakukan apapun. Tatapannya
kosong, kanvas itu masih bersih. Ada apa dengannya ?
Ludiana
benar-benar merasa harus ke sana, mungkin saja Nagalana membutuhkannya saat
ini.
Kakinya
bergerak melangkah kesana. Hatinyalah yang mendorongnya untuk berjalan ke arah
Nagalana. Dengan tangan gemetar dan berkeringat, Ludiana memberanikan diri
untuk bertemu lelaki itu. Lelaki yang sudah pasti akan membencinya dan
mengusirnya saat ini juga.
Entahlah,
Ludiana sudah tidak merasakan perasaan apa-apa lagi. Dia hanya perlu menemui Nagalana
dan mungkin dia harus mengucapkan beribu maaf padanya.
Ludiana
hanya memandangi wajah Nagalana yang begitu dekat. Wajahnya begitu tirus,
tubuhnya kurus. Tapi dia tampan, seperti dulu. Ada sesuatu yang langsung
mengusik pikirannya saat itu juga, buku
itu. Buku yang dipegang Nagalana.
“Nagalana……”
sapa Ludiana yang direspon begitu lama oleh Naga. Lelaki itu hanya menatap
kosong ke arah Ludiana, sedetik kemudian dia hanya tersenyum miris sambil
menggumamkan sesuatu.
“mimpi
lagi” katanya seperti itu, kemudian menunduk memandangi buku lusuh di
tangannya. Lelaki itu berpikiran mungkin karena buku ini dia merasa bahwa
Ludiana ada di hadapannya sekarang.
“kau
tidak mungkin datang ke sini kan ?” tanyanya pada buku yang kini sudah ia remas, terlalu kesal dengan imajinasinya yang
berlebihan.
Suara
parau terdengar lagi olehnya, sekarang gadis itu melangkah lebih dekat, membuat
Nagalana mau tidak mau melihat ke arahnya lagi. “Nagalana……”
Tangis
Ludiana tidak bisa dibendung lagi, dia bisa melihat bagaimana tatapan kebencian
dan kekecewaan itu dari mata Nagalana. “maafkan aku……” kata gadis itu, terduduk
di hadapan Nagalana. Berurai air mata.
Nagalana
masih menatap buku itu, seolah tiada magnet yang paling kuat daripada buku yang
dipegangnya. Seolah suara Ludiana hanyalah ada dalam mimpinya.
Akhirnya
setelah beberapa pikiran berkecamuk dalam otaknya, Nagalana pun menoleh ke arah
gadis itu, menatap matanya dan bergumam lagi.
“aku
terlalu kuat berimajinasi atau aku terlalu merindukan Ludiana sehingga aku
merasakan ada dirinya disini. Menangis” Nagalana masih menatap kosong gadis di
hadapannya, belum menyadari sepenuhnya bahwa gadis dihadapannya itu memang
benar Ludiana.
Ludiana
tidak tahan dengan semua itu, dia memegang tangan Nagalana yang begitu kurus
dan dingin seolah tidak bernyawa. “kau sedang tidak berimajinasi atau bermimpi.
Ini aku Ludiana” gadis itu memeras lengan Nagalana pelan, berusaha
menghangatkan tangan Nagalana. Seperti dulu.
“kau
?” dia sudah terbangun dari imajinasinya.
“aku
merindukanmu”
Nagalana
melepaskan pegangan tangan Ludiana dan berbicara, “apa yang membawamu kemari ?”
“aku
merindukanmu…..maafkan aku Nagalana”
“apa
kau bahagia ?” Tanya Nagalana, menatap mata Ludiana, mencari kebenaran.
“apa
?”
“apa
kau bahagia pergi bersama janji yang beum pernah kau tepati ?”
~D~
Komentar
Posting Komentar