Nagalana (bagian 3)
Nagalana
tidak pernah merasa benar-benar hidup sebelumnya. Ditambah lagi ketika Ludiana
meninggalkannya begitu saja, membawa janji itu dan menggantungkannya di
langit-langit. Meskipun tercapai, sulit sekali untuk menghadapi kenyataan bahwa
ia tidak mendapatkannya bersama gadis itu. Dengan sejuta kesenangan, keharuan,
dan kebingungan, gadis itu muncul seperti hujan tanpa mendung. Tiba-tiba.
Hal
tersebut serta-merta membuatnya merasa hidup kembali, menapaki bumi dengan
semestinya, dan melihat dunia dengan jelas daripada sebelumnya. Tapi, mengapa
begitu menyakitkan ketika tahu, bahwa dia datang dengan sejuta air mata yang
membanjiri pipinya. Dia merasa bersalah, itu pasti. Dia merasa tertekan, jelas
begitu. Tapi, selain itu, apalagi yang membuat Ludiana menangis begitu hebat ?
kesalahan apalagi yang sebenarnya dia perbuat yang tentunya tidak diketahui
oleh Nagalana. Nagalana tidak ingin mengetahuinya. Dia hanya ingin tahu, apakah
gadis itu bahagia ketika pergi dan membawa berjuta janji yang belum ia penuhi.
Ludiana
tidak menjawab, semua begitu jelas terlihat dari air matanya yang menyeruak
begitu banyak, tatapannya yang begitu dalam sampai menohok hati Nagalana, dan
suara tercekat yang dengan susah payah ia keluarkan untuk meminta maaf.
Sepertinya, penyesalanlah yang membawanya kemari. Bukan rindu.
Nagalana
menatap gadis itu lama, berusaha masuk ke dalam hatinya yang selama ini ia
dambakan. Lelaki itu tidak mendapatkan apapun selain kerinduan. Ia ingin
menarik gadis yang terlihat ringkih itu ke dalam pelukannya. Berusaha
memaafkan, menenangkan, dan kembali seperti semula. Tapi tunggu, ada proses
yang harus dilalui.
“sudahlah,
kau tak perlu menjawab bagaimana perasaanmu saat itu” kata lelaki itu, berdiri
dan meletakan buku yang basah karena tangis Ludiana ke sebuah meja kayu kecil
di sampingnya.
“aku
sungguhan merindukanmu” Ludiana berusaha berdiri, berhadapan dengan Nagalana yang
begitu tinggi, sangat berbeda saat tujuh tahun lalu. Tinggi mereka hampir sama
saat itu.
Lagi,
Ludiana meraih tangan lelaki itu, tak berhenti untuk meminta maaf. Walaupun
kemungkinan itu kecil. Ia masih paham betul, bagaimana hati Nagalana padanya.
Lamat-lamat lelaki itu pasti tidak akan tega dan dengan senang hati
memaafkannya.
Nagalana melepaskan tangan yang diraih oleh Ludiana, memasukan
kedua tangannya ke dalam saku celana, berharap gadis itu tidak meraih tangannya
lagi, kemudian lelaki itu berdecak, “kau tidak akan pernah tahu akan satu hal”
Ludiana
berhenti sesenggukan, kepalanya menengadah, menatap lelaki itu, berusaha
mencari matanya, tapi sulit, Nagalana telah membelakanginya. Hanya
punggungnyalah yang dapat ia lihat. “apa ?”
“aku
sudah terlalu membencimu. Jangan salahkan aku atau dirimu sendiri…” lelaki itu
menggantungkan perkataanya, membuat sedikit jeda untuk gadis itu berpikir,
“……salahkan saja waktu”
Selesai.
Lelaki itu berkata seakaan semua yang telah terjadi adalah kesalah besar dan
tidak dapat termaafkan. Walau dalam hati kecilnya, ia tidak akan pernah tega
untuk berkata demikian. Namun, jika Ludiana memang benar-benar pintar membaca
dan menanggapi perkataan tadi. Lelaki itu tidak pernah benar-benar marah
padanya. Jika bukan karena keadaan, semua itu mungkin tidak akan terpaksa
terjadi. Mungkin.
Ludiana
menghela napas berat, tidak ada satupun bebannya yang terangkat karena tarikan
napasnya. Semua malah semakin membebaninya. Walaupun semua karena masalah
waktu, jika gadis itu pintar memilah waktu, ia tidak akan terjebak pada situasi
ini. Situasi yang sangat sulit untuk mencari jalan keluarnya.
“baiklah……kau
ingin aku melakukan apa ? membeli mesin waktu ?” gadis itu masih berusaha untuk
membela diri.
“tidak
perlu”
“lalu
aku harus apa agar kau memaafkan aku ?”
Nagalana
berpikir cukup lama, “kau hanya perlu bersabar”
Ludiana
menggelengkan kepalanya, betapa lelah dengan perkataan lelaki ini yang begitu
rumit. “terus terang saja Nagalana. Kau ingin membalas dendam padaku kan ? kau
ingin membuat aku merasakan apa yang kau rasakan selama ini. Benar begitu kan ?”
jika memang benar begitu, Ludiana bahkan sudah siap dengan apa yang harus ia
terima. Hanya untuk satu kata. Maaf.
Nagalana
membalikan badannya, menatap gadis yang selama ini ia rindukan, dia terlihat
lelah dan bersalah. “aku hanya tidak tahu bagaimana caranya mengulang dan
memulai”
“Nagalana…….”
Ludiana hanya menunduk, memandang sepatunya. Mencari kekuatan untuk berkata,
“apa kabar ?”
“kau
menanyakan kabarku ? kau sungguh ingin mengetahuinya ?”
Gadis
itu mengangguk lemah, air matanya masih menetes.
“selalu
buruk. Tidak pernah baik”
Bagai
petir, perkataannya sungguh menohok hati Ludiana. Membuatnya semakin merasa
bersalah dan ingin bunuh diri saja. Sampai mana Nagalana akan membawa masalah
ini ?
“semua
salahku” gadis itu terlihat menyerah.
“ya
benar. Semua salahmu yang menawarkanku sebuah janji, dan dengan mudah kau bawa
pergi sendiri janji itu. Tanpa pernah aku lupa, perasaan itu sungguh
menyakitkan”
“jadi…..kau
berpikiran aku bahagia di sana ? kau pikir aku tidak merasa terbebani pergi
tanpa membantumu menyelesaikan mimpimu itu ? semua itu salah. Aku lelah hingga
aku menyerah dan memilih untuk pulang”
Nagalana
tidak tahan menahan semua itu, melihat gadis yang sangat ia sayangi berurai air
mata dan terlihat begitu lemah, dengan melupakan semua kesalahan yang pernah
gadis itu perbuat, ia menarik gadis itu ke pelukannya. Benar saja, gadis ini
begitu kecil, lemah.
Ludiana
masih menangis di pelukan Nagalana, tidak bisa dengan mudah menghilangkan rasa
sakit dan penyesalan yang ia perbuat sendiri.
Benar.
Andai ada mesin waktu, dia ingin sekali membelinya, memilikinya, menggunakannya
untuk kesempatan ini. Tapi, semua itu tak pernah ada. Masa kini adalah masa
kini. Seberapa baiknya pun Nagalana memaafkannya, perasaan bersalah itu tidak
akan pernah hilang begitu saja.
Ludiana
manarik napas panjang dan membuangnya. Lelah sekali.
Pelan-pelan
Nagalana melonggarkan pelukannya, memberikan ruang untuk Ludiana berpikir
sekaligus ingin menyadarkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lakukan tadi
adalah tidak benar. Tidak benar untuk saat ini, pelukan tadi, bukan berarti
apa-apa, itu hanya karena dia tidak tega melihat gadis ini menangis tepat
dihadapannya.
Dan
untuk di kemudian hari…….
Entahlah.
~D~
Komentar
Posting Komentar