Now Playing : Tegar-Rosa


Kini ku resah
Diriku lemah tanpamu
Gapai semua jemariku
Rangkul aku dalam bahagiamu
Ku ingin bersama berdua selamanya
Rossa-Tegar

Aku sadar, ketika aku mulai merasakan sebuah rasa, hanya kesalahanlah yang dapat tercipta. Aku menyukai seseorang, dan itu adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku. Sebuah kesenangan untuk hatiku, dan sebuah bencana baginya. Dan mulai saat itu, aku membenci akan waktu dan nasib.

Karena waktu membawa dan mengharuskanku melewati nasib sekonyol ini. Waktu membuatku selalu menyesal karena telah membawa perasaan ini terlalu jauh. Waktu selalu menyakitkan bila dikenang.

Aku memang remaja, bahkan usiaku baru saja genap 16 tahun, dan dia adalah pria dewasa berusia 32 tahun. Lalu, masalahnya apa  ?

Masalah begitu menganga dengan jelasnya disana. Aku dan dia bagai langit dan bumi. Mungkin saling berhubungan, tapi sangat sulit untuk menjadi dekat.

Dia, dengan segala titel kedewasaan yang dimilikinya, dengan segala pesona dan karisma yang selalu terpancar kala dia berbicara dan menyunggingkan senyum, dan aku, aku  yang selalu kagum padanya, aku selalu suka padanya. Bahkan sampai saat ini pun, sampai saat dimana dia harus menjauhiku.

Rasanya, seperti digaplok ketika aku harus terima kenyataan itu. Mau tidak mau, hal itu pasti terjadi padaku. Hubungan seperti itu memang tidak sepantasnya ada.

Aku menyukainya. Saat pandangan pertama.

Saat itu, ku rasa tidak ada yang salah dengan perasaanku padanya. Normal-normal saja. Standar. Tapi kemudian temanku menertawaiku lalu menceramahiku panjang lebar, dia berkata padaku, memang tidak ada pria lain ? kenapa harus lelaki yang sudah dewasa seperti itu ? belum lagi, dia itu sudah bekerja, mapan, banyak gadis dewasa yang mengelilinginya setiap saat. Dan kau ?

Lah, memangnya apa yang salah dengan dia sudah bekerja dan aku masih SMA ?

Sekarang aku mengerti mengapa semua itu adalah kesalahan yang teramat besar, hubungan itu tidak boleh ada, barang sedikit pun.

Karena apa ?

Pikiranku dengannya berbeda jauh, dia terlampau dewasa dan sudah bijaksana. Sedangkan aku ? dengan sederet titel negatif anak remaja labil disana-sini, aku tak mampu mengimbanginya. Sakit sekali ketika aku hanya bisa meratapi itu semua.

Sampai suatu ketika, dia menemuiku dan berkata akan sulit sekali untuk bertemu denganku lagi di kemudian hari. Dia harus pergi jauh sekali. Bukan ke luar negeri untuk bekerja atau melanjutkan studi. Dia masih di sini, berkeliaran di sekitarku, hanya saja…..

Ah, itu terlalu sulit untukku katakan. Bukan raganya yang akan pergi jauh dari pandanganku, tapi hatinyalah yang akan pergi dari kehidupanku. Dia akan menikah.

Aku menghela napas panjang ketika mendengar berita itu langsung dari mulutnya. Semua terasa hambar, telingaku serasa berdengung, enggan untuk mendengarkan ceritanya yang terlampau sempurna. Cita-citanya sudah tercapai, pekerjaannya sudah lumayan mapan, dan dia menemui gadis cantik yang juga sudah dewasa. Aku terpaksa mengulas senyum, hanya untuk memberitahukannya bahwa aku turut berbahagia. Padahal tidak.

Butuh waktu yang teramat banyak untuk memangkas habis rasa cinta itu.

Ps : bukan cerita aku

Resapilah lagu diatas

Didit

Komentar

Postingan Populer