Why Good Things Happen to Good People



Selamat sore teman-teman, aku mau share sebuah buku yang pernah aku baca, buku itu berjudul “Why Good Things Happen to Good People” buku karya Stephen Post, Ph.D ini menceritakan bagaimana manfaat dari memberi, mendengarkan dan memaafkan, bagaimana keajaiban yang muncul setelahnya, bagaimana sesuatu yang kecil dapat mengubah hidup seseorang dalam waktu singkat. Sebuah cerita pilu di masa lalu, yang tidak pernah dijadikan sebagai musibah atau takdir buruk, akan tetapi, karenanya, musibah itu dapat dijadikan sebagai ilmu dan pelajaran untuk masa depan yang lebih baik.

Aku hanya akan menceritakan dua cerita saja, sisanya, kalian harus telusuri sendiri atau maknai sendiri, bagi aku, kedua cerita ini sangat-sangat membuat hati terenyuh. Oke, baiklah, daripada kalian terus membaca tulisanku yang semakin lama semakin rumit alias acak-acakan ini, mari kita sama-sama maknai kedua cerita dibawah ini.

Notes from book “Why Good Things happen to Good People”   

1.      Cara memaafkan : Bebaskan diri anda

Saya adalah ibu bagi semua anak jalanan di Vietnam. Anak – anak yatim piatu itu disebut bui doi, yang berarti “debu kehidupan. Saya mengajari mereka untuk berbangga atas sebutan ini. Saat saya berjalan – jalan di jalanan kota Ho Chi Minh, anak – anak akan mengacungkan jempol dan berkata, ‘hai mama Tina, bui doi nomor satu’

Christina Noble mengalami masa kecil yang sangat brutal, bukannya hanyut dalam kepahitan dan amarah, Noble memilih untuk memaafkan sebanyak mungkin masa lalunya dan menyulap deritaannya menjadi kerja mulia. “jika tidak memaafkan, anda tidak akan berkembang” “anda tidak akan mencintai diri anda sendiri atau siapapun yang lain. Semangat saya tinggi, dan semangat saya jatuh kedalam koma, berakhirlah saya sebagai manusia. Saya harus memaafkan agar semangat saya terus hidup”

Christina dilahirkan di sebuah pemukiman kumuh terkutuk yang terendam bir di barat daya Dublin. Christina adalah anak sulung dari delapan bersaudara yang semuanya berdesak – desakan di ruang yengah setiap malam untuk tidur. Ayahnya seorang pecandu alcohol yang serong melakukan kekerasan fisik. Ibunya menderita kelainan katup jantung. Ketika ibunya meninggal dunia, kedelapan anak itu dipisahkan ke dalam berbagai institusi berbeda di Irlandia. Beberapa tahun kemudian, Christina dibebaskan dari sebuah institusi dengan membawa lima pound Irlandia. Ayahnya mennjemput di stasiun kereta api, mengambil lima piund miliknya, dan berkata bahwa dia akan menukarkannya dengan uang receh untuk naik bus, tapi tina melihat bahwa ayahnya masuk kedalam sebuah bar dan melarikan diri dari pintu belakang, dan dia tidak pernah melihatnya lagi dia pun pergi dan hidup di sebuah taman. Saat itu, dia berusia 16 tahun.

Saat hidup di taman nobel diperkosa beramai – ramai, “saya berdarah hebat dan harus menutupi tubuhnya dengan tanah dan potongan kertas.

Nobel menggunakan kata kehilangan yang selalu ia alami dengan ketidakadaan untuk menggambarkan kehidupannya saat itu, dan ketidakadaan tidak merasa dirinya benar – benar ada sebagai manusia. Saya menciptakan sebuah dunia khayal, dengan seorang ibu, ayah dan sebuah rumah  berlampu temaram kuning, buku – buku, kursi dan teman – teman.

“jika tidak memaafkan, anda tidak akan berkembang”

2.      Keajaiban Mendengarkan

Pada 1979 tindakan mendengarkan telah menyelamatkan hidup Daniel Gottlieb. Itulah tahun ketika tulang tengkuk ahli terapi keluarga itu terluka parah saat mengalami kecelakaan mobil yang nyaris fatal ,mengakibatkan dia menderita kelumpuhan, dari dada ke bawah, “saya dikelilingi oleh cinta” ujarnya. “saya mengidap perasaan terasing, merasakan bahwa saya berbeda dengan spesies saya yang lain. Suatu malam saya sedang terbaring di ruang perawatan intensif, menatap langit – langit, berharap dapat segera tertidur dan tidak bangun lagi, saat seorang perawat mendekati saya dan bertanya, apakah saya seorang psikolog. Saya pun mengangguk. Kemudian dia bertanya, “apakah semua orang pada satu masa dalam hidupnya akan pernah merasa ingin bunuh diri ?” dia tidak tahu bahwa pada saat itu, saya sedang merasa sangat ingin bunuh diri. Saya katakan kepadanya bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang tidak biasa dan bertanya apakah dia membicarakan masalah yang dia hadapi dengan saya”

Sebagai seorang yang cacat Gottlieb, dunianya menjadi jauh lebih sepi. Dia adalah seorang pria yang tidak dapat menggunakan kedua tangan dan kakinya, dan orang – orang memperlakukannya dengan berbeda, “praktik saya berubah dramatis, ada keheningan  baru dalam diri saya, dan dalam diam itu saya bisa mendengarkan hati orang lain. Kita hanya dapat mendengar dengan hati kita ketika suara – suara ego tak terdengar. Itulah saat kita terbuka. Dan ketika kita terbuka kita akan mendapatkan jenis rasa aman yang diinginkan oleh orang lain. Saya mendengarkan kata – kata yang diucapkan orang lain, tapi saya dapat menyimak kerapuhan, rasa takut, gentar, dan kerinduan mereka.

Mengapa mendengarkan dapat menjadi sebegitu kuatnya ? kita membutuhkan seseorang yang dapat menjadi saksi atas kehidupan kita larena disaksikan orang lain akan dapat mengurangi kesunyian yang ada dalam kehidupan kita. “setiap orang memiliki hati yang lapar, pengucilan dan prasangka adalah sumber utama penderitaan dalam dunia kita. Langkah pertama dalam penyembuhan luka adalah dengan melakukan kontak mata. Langkah kedua adalah welas asih. Kedua langkah ini adlah bagian dari mendengarkan dnegan hati kita.

Sama pengtingnya ketika menyaksikan kehidupan orang lain, ujar Gottlieb, adalah menyaksikan diri sendiri. “ saya hanya duduk dan mendengarkan napas dan diri saya, dan menyaksikan saat pemikiran saya mulai terasa mengganggu. Berbaik hatilah terhadap diri anda sendiri. Toleransi emosi anda. Yang terpenting, hadirilah bagi diri anda sendiri.

“mendengarkan orang lain adalah tindakan menghormati mereka”

Saat kita mendengarkan, keheningan kita merupakan ekspresi cinta yang lebih kuat dari pada kata – kata kita.

Komentar

Postingan Populer