Menikam Rindu

Menikam rindu tak semudah menikam cinta. Merindukan seseorang yang telah pergi jauh membutuhkan semacam usaha yang tak ada hentinya. Rindu dan kenangan sejalan beriringan, saat aku merindu, hanya kenangan yang dapat mengobati. Itupun bukanlah obat yang mujarab, terkadang kenangan hanya akan membawa kita ke masa itu dan hanya terjebak di dalamnya. Berjalan, melompat, berlari, menghindari kenangan yang buruk adalah suatu kesalahan. Aku pernah, dan itu menyakitkan.
            
Rindu hanya akan membuat kita mengingat seseorang yang  telah jauh. Kenangan yang meluap-luap dan yang hanya menjadikanku mematung karena bingung, membuatku tak pernah merasakan cinta lagi. Semua terhenti karenanya. Karena kenangan itu yang sangat sulit, bahkan untuk ku kubur.
            
Pernah kucari seseorang yang baru, yang mungkin akan bisa membantuku membabat habis rasa rindu dan menghancurkan kenangan itu menjadi kepingan yang tak pantas untuk ku kembali, tapi tetap saja. Semua terhenti karenanya.
            
Aku sempat bingung, mengapa untuk menikam perasaan rindu ini begitu sulit sekali. Seperti aku harus terus berlari ketika rindu itu mengejar. Seperti aku harus bersembunyi ketika rindu itu berusaha menyeruak ke permukaan. Seperti aku harus tidur lebih lama agar tidak memikirkan kenangan itu, yang bahkan kenangan itu menjadi bumbu di mimpiku. Pahit sekali. Sulit sekali.
            
Bisa saja aku menikam cinta, membuatnya tak kembali dengan cara melupakan. Memang sedikit sulit dan membutuhkan waktu. Tapi bagiku, menikam rindulah yang sangat menyakitkan. Membunuh cinta memang harus mengorbankan rasa, tapi membunuh rindu ? tidak hanya rasa. Kenangan, waktu, untaian kata indah atau menyakitkan, bahkan semuanya, semua yang ada padanya dan kenangannya. Aku memang harus melakukannya, membabat habis rasa rindu itu.
            
Dan saat ini, saat angin malam berhembus dengan indah, membawaku bukan pada kenangan itu. Tapi pada harapan baru untuk kembali berjalan tanpa menengok ke belakang. Aku ingin membawa semua pengharapanku dan menyampaikannya pada seseorang. Bahwa aku ingin terlepas dari itu semua. Bahwa aku ingin menjadikannya sebagai kenangan indah yang cukup diam saja di tempat, Tidak mengikutiku kemanapun, tidak menjadi hambatan untukku menghadapi hal baru.

            
Kalaupun ada saat dimana aku merindukannya, Aku berharap dia akan muncul sebentar dan hanya mengobati rasa lelahku. Setelahnya dia harus pergi dengan senyum, begitupun denganku. Dengan begitu, semua akan terasa indah meski aku hanya membayangkannya. 

~D~

Komentar

Postingan Populer