LAST HOPE
Sebagaimanapun
aku memaksa dan mengharap. Aku menyadarinya, meski semua berubah dan bahkan
kehidupanku sudah jungkir balik demi dilirik olehnya, dia tidak akan pernah
kembali lagi. Kapanpun aku melihatnya bersama orang lain, sesedih apapun dan
se-menyakitkan apapun ketika aku merasakannya, aku tidak pernah berhenti
mengharapkan itu. Mengharapkannya kembali lagi walau terlihat terpaksa atau
hanya kasihan padaku.
Sekarang,
meskipun malam mempunyai bintang bertaburan yang bersinar begitu indah, aku
tidak akan pernah bisa menggapai sinarnya. Sama seperti ketika aku berusaha
menggapainya kembali, terasa mustahil karena aku tak bisa melakukan apapun lagi,
seperti lumpuh pikiran dan langkah. Dia sudah terlihat bahagia bersama orang
baru yang jauh lebih baik dariku.
Penyesalan
tidak pernah datang di awal cerita. Sungguh, hanya perasaan sesal yang ada di
dalam diriku sekarang, aku tahu apapun itu yang dinamakan pembalasan atau karma
pasti akan terjadi dan menghampiriku cepat atau lambat. Dan sekarang, aku
benar-benar merasakannya, dirundung perasaan gelisah dan penyesalan karena
telah menyia-nyiakan seseorang yang pernah
kumiliki.
Saat
dia bersamaku, menjalani hubungan berlandaskan cinta yang tidak utuh, aku
justru melihat bagaimana ketulusan itu ada pada matanya, kehangatan itu ada
pada pelukannya. Dan saat itu, aku tidak memberikan hal yang dia harapkan. Aku
mengacuhkannya dengan tidak tahu diri, tapi dia tetap sabar dan malah semakin
berusaha membuatku senang. Tapi, waktu berputar, hari berganti, perasaanku tak
kunjung berubah menjadi tulus. Aku hanya tidak mengetahui mengapa ada perempuan
sepertiku, mencampakkan orang yang begitu sayang dan rela melakukan apapun
untukku.
Saat
perasaanku tetap sama, lelaki itu justru berubah. Dia membenciku luar biasa. Aku
tahu, pasti dia merasa lelah selalu dilakukan seolah dia tidak ada olehku. Aku
tahu, dia pasti merasa masih banyak wanita di luar sana yang akan menghargai
cintanya daripada aku. Aku tahu, kini rasa menyesal ada padanya.
Dia
menyesal telah memilihku, dan membuang-buang waktunya hanya untukku. Sia-sia.
Waktu
berputar begitu menyakitkan, membuatku terjatuh tanpa mengetahui bagaimana cara
untuk bangkit. Lelaki itu berkeliaran, mencari seseorang yang baru yang akan
membuaku cemburu. Tentu saja itu semua benar terjadi, aku merasa begitu
cemburu. Aku merasa aku telah dicampakkan dengan kejam. Tapi Hey ! siapa yang
duluan mencampakkan orang lain ? akulah orangnya.
Lelaki
itu telah bahagia disana, bersama orang lain. Terlihat begitu serasi dan
romantis, membuat semua mata tertuju pada mereka, seolah mereka telah mengukir
cerita cinta yang mengharukan dan patut untuk mendapat julukan Rome & Juliet. Oh tidak, itu semua
membuat kepalaku ingin pecah.
Dengan
kesulitan yang menderaku untuk bangkit, tanpa ditemani dan dibantu oleh
siapapun, aku bisa melewati keterpurukan dengan menjadi ‘aku’ yang baru. Aku
sedang berusaha agar kau melihat ke arahku lagi, mendekatiku lagi, dan menjalin
hubungan seperti kau dengan wanita itu. Tapi semua hanya sia-sia, nasi telah
menjadi bubur. Kesalahanku terlalu fatal dan sulit dimaafkan. Aku hanya bisa
menelan ludah dan menerima kenyataan bahwa aku hanya wanita payah dengan
segudang ketidapuasan yang selalu mendera, dan aku adalah wanita yang hidup di
keramaian tapi selalu merasakan kesendirian yang menikam.
PS
: terinspirasi lagu berjudul LAST HOPE dari Paramore
It's just a spark
But it's enough to keep me going
And when it's dark out, no one's around
It keeps glowing
Every night I try my best to dream
Tomorrow makes it betterThen I wake up to the cold reality
But it's enough to keep me going
And when it's dark out, no one's around
It keeps glowing
Every night I try my best to dream
Tomorrow makes it betterThen I wake up to the cold reality
And not a thing has changed
~D~

Komentar
Posting Komentar