MUSEUM : MANDALA WANGSIT SILIWANGI

HALLO ! HAI !

Selamat malam, kali ini aku mau menulis sesuatu yang nggak gamang alias absurd alias nggak penting atau alias nggak jelas atau alias hal-hal yang ga perlu dibaca lainnya (seperti postingan-postinganku sebelumnya) karena pada malam ini adalah pertama kalinya aku posting sesuatu yang sudah ditentukan materinya alias punya tujuan. Kali ini, tepatnya malam (yang dingin) ini aku (kami) mau berbagi secercah ilmu, pengalaman, dan mungkin sedikit bayangan buat kalian semua yang belum pernah mengunjugi sebuah tempat yang sarat akan sejarah dan berbau kuno alias museum.  

MUSEUM ?? IYA MUSEUM !!!

Apa yang ada di pikiran kalian ketika diminta untuk mengunjungi museum ? excited ? bahagia sampai jungkir balik karena kalian akan bernostalgia dengan para pahlawan dan barang-barang antiknya ? atau malas karena mengingat pengalaman waktu SD atau SMP yang mengharuskan kalian pergi ke museum sembari membawa berlembar-lembar LKS dan harus mengisinya tepat di museum itu ketika sang pemandu menceritakan benda-benda bersejarah ? HAHA (abaikan).

Jujur dari hati yang paling dalam sedalam-dalamnya (maaf lebay) aku excited (ga pake banget) waktu diminta mengunjungi museum secara berkelompok oleh seorang dosen. Pada awalnya aku dan segerombolan teman sekelompokku diminta untuk mengungjungi museum KAA, namun apadaya museum itu dan kawasan disekitarnya sedang direnovasi #tulungkangemil.

Oke, aku ga akan membahas kenapa museum itu di renovasi atau berapa banyak tukang yang sedang merenovasi kawasan itu, karena ada banyak hal penting lainnya yang harus kalian ketahui selain itu.

Keesokan harinya, Rabu tanggal 25 Maret 2015 kami mengungjungi Museum Mandala Wangsit yang terletak di jalan Lembong no. 38 Bandung, yang pada zaman dahulu jalan ini dikenal dengan nama Oude Hospital Weg (sekarang sih namanya Jalan Lembong). Nama Lembong diambil dari Mayor Adolp Lembong yang gugur saat gedung ini diserang oleh Kapten Raymond Westerling dengan Angkatan Perang Ratu Adil-nya pada tanggal 23 Januari 1950. Dalam peristiwa tersebut gugur sebanyak 79 Prajurit TNI/Siliwangi, (jangan tanya kenapa aku tahu sejarah itu, oke ?). Museum Mandala Wangsit Siliwangi diresmikan penggunaannya oleh Pangdam III/Siliwangi ke-8, Kolonel Ibrahim Adjie pada tanggal 23 Mei 1966 dan termasuk ke dalam kategori museum sejarah atau perjuangan tingat kodam. Pada tahun 1979 dibangun gedung baru tingkat dua yang diresmikan tanggal 10 November 1980 oleh panglima Siliwangi ke-15 Mayjen Yoga Sugama. Mengingat pentingnya pelestarian dan pewarisan nilai-nilai perjuangan 45 kepada generasi muda (seperti aku, kita) agar kesadaran serta penghayatan terhadap sejarah perjuangan bangsanya tetap utuh; maka Kodam III/Siliwangi memandang perlu untuk mendirikan Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

Museum Mandala Wangsit Siliwangi
Untuk hal itulah dikumpulkan beberapa benda koleksi yang bernilai sejarah dari kurun waktu antara masa perjuangan kemerdekaan, masa perang kemerdekaan, dan masa selanjutnya yang berhubungan dengan perjuangan Divisi Siliwangi dan rakyat Jawa Barat umumnya. Benda-benda yang berhasil dikumpulkan diantaranya berupa senjata tradisional berbentuk kujang, keris, pedang, golok, tombak, panah, pedang bambu, dan Samurai; senjata api dari berbagai jenis dan kategori; serta berbagai kendaraan militer yang pernah digunakan. Adapun benda lainnya berupa alat dan perlengkapan yang pernah dipergunakan Divisi Siliwangi dan rakyat Jawa Barat dalam bertempur untuk mempertahankan daerahnya.

Nah kan, terbentuknya NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (kenapa di caps lock ?) tak bisa dilepaskan dari Divisi Siliwangi yang melegenda. Untuk itu salah satu cara untuk dapat mengetahui dan melihat perjuangannya itu adalah dengan mengunjungi Museum Mandala Wangsit Siliwangi, seperti apa yang dikatakan oleh Bapak Ir.Soekarno pada pidatonya yang berjudul JASMERAH, “Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”.

Siliwangi adalah pendiri Kerajaan Padjajaran, seorang Raja yang arif dan bijaksana serta berwibawa dalam menjalankan roda pemerintahan, sedangkan arti dari Mandala Wangsit adalah sebuah tempat untuk menyimpan amanat, petuah atau nasihat dari pejuang masa lalu kepada generasi penerus melalui benda-benda yang ditingalkanya.

Di museum ini tersimpan berbagai benda-benda (peninggalan mantan) eh maksudnya benda bersejarah yang berasal dari masa prakemerdekaan, masa kemerdekaan, dan pascakemerdekaan. Benda-benda ini memilikki keaslian yang melekat dengan perjuangan Divisi Siliwangi beserta rakyat Jawa Barat dan Banten.

Oh ya, ada sesuatu peninggalan zaman dahulu yang membuat aku merinding yaitu Bendera Merah Putih yang begitu bersejarah, menurut keterangannya bendera yang gagah itu merupakan bendara yang pertama kali dikibarkan di Alun-Alun Kota Bandung pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan kalau kalian pertama kali memasuki gedung itu, akan ada sebuah meja, kursi, teko, cangkir dan baki yang (kata Bapak Pemandu yang lagi memandu anak SD untuk berkunjung) katakan sih itu digunakan oleh para pejuang dan proklamator Indonesia (Bapak Soekarno dan Bapak Hatta) saat mempersiapkan Proklamasi di Rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945.

Dan ketika kita memasuki gedung yang dominasi warna hijau dan putih itu, kita disambut oleh berbagai lukisan-lukisan yang dilukis oleh pelukis pada zamannya, banyak sekali lukisan-lukisan besar yang bercerita tentang bagaimana keadaan zaman dahulu, ketika Indonesia, khususnya Jawa Barat sedang dalam masa peperangan melawan penjajah, sayangnya kami dilarang untuk mengambil gambar lukisan itu, entahlah alasannya apa, mungkin terlalu mistis *eh. Lukisan yang paling aku suka adalah lukisan Bandung Lautan Api yang pada terjadi pada tanggal 24 Maret 1946.

Dalam bangunan museum yang dibangun sekitar tahun 1910 ini, terdapat ruang-ruang yang mengisahkan masa perjuangan melawan penjajah seperti Ruang Pemberontakan DI/TII. Di ruangan ini, kita bisa melihat foto-foto perjuangan tentara menumpas gerakan DI/TII di Jawa Barat. Ada juga Ruang Palagan Bandung yang di dalamnya terdapat diorama peristiwa heroik Bojong Kokosan. Pada hari kami mengungjungi museum itu, ruangan pemutaran film dokumenter sedang digunakan oleh para pengunjung lain (anak SD tadi), ingin ikutan nonton tapi aku tahu diri kok.

Hal menarik lainnya yang ada di museum ini yaitu adanya koleksi uang pada masa penjajahan dan di awal kemerdekaan. Uang-uang ini ditata rapi dalam sebuah bingkai yang menempel di salah satu dinding museum. Selain itu, ada pula foto-foto para mantan (mantan ?) Panglima Divisi Siliwangi, tanda pangkat, lencana, Panji Siliwangi, peta, dan sebagainya.

OH OH OH

Ada hal yang menarik lainnya, di lantai dua gedung museum itu ada sebuah ruangan panas yang menampakkan tiga ekor Harimau (agak horo sih) harimau ini merupakan harimau sungguhan yang diawetkan sebagai simbol pasukan siliwangi.

Seharusnya sebelum kita membahas tentang bagaimana isi dalamnya dari museum ini kita membahas dulu apa yang ada di luar gedung museum Mandala Wangsit Siliwangi, nah jadi di luar ruangan itu ada sebuah koleksi yang besar yaitu meriam gunung hasil rampasan dari Jepang yang sangat berjasa dalam pertempuran Ambarawa (1945) dan menumpas pemberontakan RMS di Maluku serta Kahar Muzakar di Sulawesi.


Nah begitulah kisahnya (hoaaam), jadi sebelum berakhirnya tulisan yang katanya ga baklan absurd padahal absurd aku (kita) mau share foto ketika kita mengunjungi Huseum Mandala Wangsit Siliwangi.....
wajah-wajah lelah
Haha, kalau mau lihat satu-satu wajahnya mungkin gabisa ya, semua wajahnya kelihatan rata (wkwk) jangan salahin muka kita, tapi salahkan saja sama pencahayaan yang remang-remang di museum itu.

TERIMA KASIH, SELAMAT MALAM



D dan Teman-Teman 

Komentar

Postingan Populer