Untitled

Satu hal yang selalu menjadi prinsip hidupku dalam bersosialisasi adalah “jangan menyepelekan kemampuan orang lain”. Begitulah yang selalu menggema di otakku ketika aku mulai membuat spekulasi bahwa ‘aku bisa melebihi dia’ atau ‘dia tidak ada apa-apanya dibandingkan aku’. Jujur, aku tidak terlalu percaya diri tentang kemampuan apapun yang aku miliki, ya setidaknya ketika aku tahu bahwa aku memiliki kemampuan atau kelebihan. Misal seperti ini, bagaimanapun aku menyukai hobi menyendiriku dikala malam atau dikala siang yang sepi tidak ada orang-orang disekitarku, yaitu dengan menulis atau melamun.  Jika ibuku atau siapapun bilang hal itu adalah bakat (yang menyebalkan, karena aku tidak akan menggubris siapapun ketika aku sudah total dalam menulis), aku akan dengan segera bilang hal itu adalah HOBI bukan BAKAT. Karena aku hanya akan menulis ketika aku ingin menulis, dan aku hanya bisa menulis ketika sedang tidak ada orang disekitarku, atau sedang tidak ada pikiran buruk yang menggangguku, dan ya hal itu bukanlah bakat, betul kan ? itu hanya kemauan dan itu adalah kata lain dari hobi.

Sebetulnya, aku ingin sekali ‘serius’ dalam hal tulis menulis, tapi apa daya, aku tidak bisa seperti orang-orang yang memiliki hobi sama denganku, yang dapat menulis sambil ‘nyambi’ entah itu sebagai pekerja kantoran yang juga seorang penulis, atau mahasiswa kuliah yang malamnya bisa menulis sampai subuh dan masih bisa membagi fokus untuk keduanya dengan seimbang, dan masih banyak contoh lainnya. Aku tidak bisa seperti itu, aku hanya bisa menulis dikala sepi dan sama sekali tidak ada tugas. Oke, jadi aku ini orang yang sungguh cepat terdistraksi oleh hal apapun, yang dapat membuat tulisanku menjadi buyar dalam sepersekian detik, dan alhasil tulisan yang sudah menumpuk berates-ratus halaman pun bisa berakhir tragis di tempat sampah.

Dan satu hal lagi, ketika aku sudah fokus, total dalam tulisan dan imajinasiku, aku akan total disitu dan melupakan hal-hal lain. Hanya ada aku dan orang-orang khayalanku, terkadang aku seperti itu. Kadang aku bersyukur kalau aku dapat total dalam menulis, tapi nyatanya orang-orang disekitarku yang jadi merasa bahwa aku ini salah dan tidak berguna, karena aku membengkalaykan tugas-tugasku yang seharunya. Ya karena itu tadi, ketika aku sudah total disitu, aku lupa semuanya. Hal itulah yang membuat aku tidak bisa mengerjakan tulisan sambil nyambi, sambil mengerjakan inilah, itulah, dan menjadikan menulis hanya hobi sampingan atau apapun. Aku ingin fokus disitu dan menghambiskan waktu 24 jam ku untuk hanya menulis.

Oke, kembali ke ‘jangan menyepelekan kemampuan orang lain’ jujur, aku selalu merasa bahwa aku bisa melebihi orang lain atau apapun, hal itu sebenarnya bisa menjadi baik ketika apa yang aku lakukan setelah berpikiran seperti itu adalah hal yang positif, yaitu dengan menujukan bahwa aku memang bisa melebihi orang itu, dengan caraku tentunya. Tapi nyatanya selalu berakhir mengenaskan, aku tidak bisa melakukan hal-hal baik untuk diriku sendiri jika aku berada dalam pikiran negatif dan hanya ada nafsu yang menggebu dalam hati. Aku serius, hal itu hanya akan mendatangkan bencana, bagi siapapun, terlebih bagiku, yang malah akan semakin stress karena tidak bisa melakukan hal tersebut.

Ada beberapa orang yang dapat merasa senang dan puas jika dia telah melakukan satu atau banyak kebaikan untuk orang lain seolah hal tersebut adalah sebuah obat penyembuh hati yang terluka. Seolah dengan begitu, dosa-dosa lama akan gugur bersamaan dengan kebaikan yang dia perbuat. Padahal dalam keremangan, sunyi, sepi, sendiri, dia adalah seseorang yang kacau dan tidak tahu bagaimana cara untuk membahagiakan diri sendiri. Mungkin dia tersenyum ketika melihat orang yang ia bagi tersenyum sembari mengucapkan terima kasih, tapi lihat, dia bahkan menangis dalam hati disaat yang bersamaan. Jadi, bagaimana kau bisa menata, menghibur, membuat hatimu selalu sehat kalau kau sendiri tidak tahu caranya membuat hati tidak berteriak menangis ?

Aku terlalu menyayangi diriku sendiri untuk melakukan hal sebodoh tadi, aku akui, aku memang ‘sedikit’ antisosial, dan ya kepedulianku terhadap orang-orang disekitar amatlah minim. Jadi menurutku, obat hati yang paling ampuh adalah dengan membahagiakan diri sendiri. Sedikit egois memang, tapi cobalah kau menyendiri, sentuh hatimu dengan kata-kata yang halus, tanya hatimu sebaik mungkin bagaimana sebenarnya kau dapat merasakan kebahagiaan, dan dengarkan jawabannya. Disanalah jawaban terbaik sebenarnya sudah kau dapatkan.

Aku amat sangat mencintai diriku, aku sangat menyukai ketika aku memiliki waktu luang sendiri, entah itu hanya untuk membaca, mendengarkan lagu, dan sebagainya. Dan darisanalah aku dapat belajar bagaimana menjalani hidupku yang seharusnya. Melangkahkan kaki ke arah yang memang hati inginkan.

Tapi tunggu, bukankah itu semua adalah comfort zone-ku ? apa aku akan selamanya berada disana, berkubang dengan kesenangan tanpa masalah, api, dan air keruh ?

Aku terlalu berpikir cepat, mengambil keputusan hanya untuk kesenangan hati yang terdengar sangat egois, tentu saja tak akan selamanya aku berada di zona nyaman ku, ada saat dimana aku akan dipaksa untuk keluar dari sana dan menjalani kepayahan hidup karena tidak tahu cara untuk mengatasi alam luar yang terlalu luas, liar bagiku yang antisosial.


Oke baik, mendapati diriku yang semakin hari dituntut atau lebih tepatnya - karena keterpaksaan- untuk menjadi lebih dewasa dari kemarin atau dari orang-orang setelahku. Dewasa bukan hanya pikiran dan usia, tapi juga strategi untuk menapaki bumi menjadi lebih tegak, tegap, tegas, dan tentunya percaya diri. 


-D-

Komentar

Postingan Populer