ANAK, KEPEDULIAN, KASIH SAYANG, SEMANGAT DAN KANKER
Sudah lama sekali aku membengkalaikan hobi
menyebalkan ini, menulis-blogging dan sebagainya. Materi sebenarnya banyak,
tapi apa daya, sepertinya aku sedang jatuh malas selama berbulan-bulan ini.
Lihat saja ! bloggku berantakan, postingan terakhirku pun sudah lapuk (hehe).
Oke abaikan pengawalanku tentang materi blog yang akan aku sampaikan ini.
Kalau dibilang sibuk –ya- memang akhir-akhir ini aku
lumayan sibuk, antara kuliah, organisasi, kegiatan komunitas, dan lain
sebagainya. Tapi aku sedikit malu, karena seseorang pernah bilang padaku, “gak ada yang namanya sibuk atau keteteran
dan gak beresnya suatu pekerjaan, yang ada itu karena kamu gak bisa mengatur
waktu !” dibilang seperti itu apalagi oleh orang yang lebih muda dariku
seperti dapat dampratan keras, sakit.
Tapi sepertinya, memang itu yang aku butuhkan.
Seharusnya mungkin aku bisa membagi antara
cita-cita, hobi, kegiatan dan kebutuhan untuk hidup (makan,minum,tidur dan
napas haha) secara seimbang agar hobi jalaaan cita-cita pun jalaan, tapi ya itu
tadi, sepertinya aku harus dapat suplai semangat pagi setiap hari (dari kamu
misalnya *eh).
Oke, abaikan permulaanku yang sangat tidak penting
ini, sekarang marilah kita kembali ke judul.
Sejujurnya, aku kurang suka dengan anak kecil karena
berbagai hal. Suatu ketika sebuah Komunitas di kampusku yang kebetulan aku
adalah anggotanya, mengadakan kunjungan ke Yayasan
Kasih Anak Kanker Bandung. Ketika beberapa hari sebelum persiapan menuju
acara, tidak ada pikiran penting yang terlintas di otakku. Pokoknya aku hanya
berniat mengikuti acara yang di adakan komunitas sosial yang ada di kampusku,
titik, tidak usah terlalu dalam atau apa.
Hari H pun tiba, aku tidak mempersiapkan apapun
kecuali baju bebas (hehe). The problem is,
aku gak tau alias awam sekali dengan yang namanya berinteraksi dengan anak
kecil, menghibur anak kecil yang sedih, mengajak anak kecil bernyanyi-nyanyi
ria seperti guru paud dan sebagainya. Aku gak bisa, dan aku memilih diam.
Ketika aku dan rombongan memasuki yayasan itu, kami
diharuskan cuci tangan 6 langkah di wastafel yang telah tersedia. Okay, masalah
cuci tangan doang mah, aku bisa. Pikiranku masih lompat-lompat, tentang merasa
aneh kenapa aku kesini, dan tentang gimana aku ngadepin anak-anak kecil
nantinya, oke, aku memilih diam lagi. Kami pun brefing sebentar kemudian
mengucap doa, dan menyuarakan, “komunitas
peduli kesehatan, cerdas, peduli, ikhlas !” secara pelan namun kompak, lalu
masuk ke dalam yayasan.
Yayasan itu seperti halnya rumah, di taman depan
terdapat beberapa permainan anak yang menarik –bagi anak- bagi aku sih yaa apa
ya hehe. Ketika masuk pun seperti halnya rumah biasa, sederhana, nyaman dan
hangat.
Ketika aku masuk, sembari membawa ransel dan
beberapa balon, aku disambut dengan seorang ibu yang menuntun anak kecil (2
tahun), aku berusaha mengulas senyum haru (pura-pura) karena disambut oleh anak
kecil yang langsung melihatku dari atas sampai bawah. Aku reflex memasang
senyum aneh (haha) lalu berjongkok dihadapannya “hallo adeek” dengan gaya sok
suka sama anak kecil dan berusaha menjadi kakak yang menyenangkan, si ibu
menyuruh anak kecil yang diketahui bernama Arya itu untuk salam padaku,disitu
aku langsung canggung, ini ibu ngapain pula nyuruh anak kecil salam (yakali). Setelah
adegan salam-salam canggung itu, si ibu bilang “kakak….arya minta balonnya
kakak….” OMYGOD, aku baru inget dari dari tadi aku kan megang balon, yakali
dari tadi aku mengira kalau si anak merhatiiin aku dari atas sampai bawah
karena terpesona, eh haha padahal kan dia pengin balonnya, karena kejadian itu,
aku teringat lagi niatan aku datang kesini, dan pada akhirnya, aku memilih diam
lagi.
| aku dan Arya |
Acara sambutan, perkenalan yayasan, dan perkenalan
kampusku serta pengenalan Komunitas Peduli Kesehatan dan lain-lainnya pun
selesai, lanjut ke acara inti, ada penyampaian materi gitu, karena bosan dan
lebih tepatnya bingung, akupun memilih memandangi Arya, sosok anak yang pertama
kali aku lihat di yayasan ini. Dia sedang duduk di pangkuan ibunya, sambil
bermain-main balon yang aku kasih tadi, aku melihat sekeliling, semua
teman-temanku bergabung dengan anak-anak “istimewa” yang ada disini, sedangkan
aku lebih milih diam dulu, pura-pura dengerin materi padahal pikiran tetap ke
anak itu.
Sampai pada akhirnya, ketika ada jeda aku
memberanikan diri untuk mendekati Arya, sembari membawa balon merah, Arya yang
duduk di pangkuan ibunya sembari minum susu melihat aku dengat tatapan aneh dan
cemberut, sementara orang-orang riuh dengan keasyikannya entah bermain apa, aku
berusaha mengulas senyum untuk anak itu. Entah datang dari mana, aku ingin
sekali “mendapatkan hati” anak ini.
Aku bilang dengan nada garing, “halo
arya, aku punya balon lagi nih, mau lagi gak ? nanti jadi dua balonnya”.
Arya bangun dari pangkuan ibunya, lalu melihat balon punyaku, lalu anak itu
merengek pada ibunya, dan bilang “duaaaaa….”dengan
nada tidak jelas haha. Aku tersenyum. Aku memberikan balon punyaku, kemudian
bermain –walau sedikit malas dan apa banget- hehe.
Susah sekali membujuk anak berumur 2 tahun untuk
sampai bisa digendong, apalagi ada ibunya. Baru lepas dikit dari ibunya saja,
Arya sudah merengek, “mamaaa” aku hanya bisa mengerutkan kening dan memijat
pelipis *puyeng* tapi aku gak mau menyerah, pokonya gimana caranya aku harus
bisa dapetin hati Arya.
Sampai pada akhirnya, setelah melalui beberapa tahap
pendekatan, dari mulai main balon, mainin tisu di tempat sepi, nyari-nyari
semut berdua bareng Arya, akupun bisa mendapatkan hati anak ini. Sementara sang
ibu asyik mengobrol dengan Kakak tingkatku, aku menggendong Arya dan membawanya
berbaur dengan teman yang lain. Entah datang darimana perasaan itu, aku senang
dan terharu. Detik itu pula, aku sangat menyukai anak kecil, apalagi anak-anak
seperti Arya dan teman-teman istimewa lain di Yayasan Kasih Anak Kanker
Bandung.
| KPK dan YKAKB |
Banyak hal yang aku dapatkan dalam acara singkat
ini, salah satunya tentang kepedulian terhadap sesama, terkhususnya untuk
anak-anak istimewa. Menurut pandanganku yang sering sempit ini, kepedulian
tidak bisa diukur atas dasar skala apapun, kepedulian tidak datang dengan
sendirinya, kepedulian tidak cukup dengan melihat dan merasakan, kepedulian
tidak bisa hanya dengan terharu dan terjun kedalamnya dengan mengandalkan rasa
sedih.
Menurutku, kepedulian adalah sebuah perlakuan,
sedikit dibumbui dengan kata-kata halus penyejuk hati –mungkin bisa jadi-.
Perlakuan disini bukan hanya sekedar mengikuti bagaimana banyaknya orang dan
bagaimana musim yang sedang in saja,
maksud perlakuan disini adalah, perlakuan nyata yang didasarkan dengan hati ikhlas.
Ikhlaslah yang utama, bukan sedih, terharu dan kasihan. Ikhlas, peduli nyata,
itu cukup menurutku.
KASIH SAYANG. Support atau dukungan seseorang untuk
anak-anak istimewa ini sangat dibutuhkan, melihat hal ini, aku berpendapat
bahwa kasih sayang dari orang tua adalah nomor satu. Peran orangtua yang kuat,
tegar dan penyabar adalah peran yang diperlukan untuk berhadapan dengan
anak-anak istimewa ini. Mereka (anak-anak) tidak bisa menahan sakitnya sendiri,
walau bagaimanapun, ketika sakit itu muncul, hanya mereka yang bisa merasakan,
disini peran kasih sayang orangtualah yang dapat meringankan sakit yang mereka
derita, kasih sayang orangtualah yang dapat meredakan segala sakit. Aku selalu
percaya, dan ingin selalu mendoakan, bahwa orang tua-orang tua ini adalah
orangtua terpilih dan terismewa. Yakinlah, Allah selalu beserta kalian semua.
SEMANGAT, ketika aku memasuki yayasan itu dan
melihat betapa anak-anak disana ceria, tersenyum dan semangat bernyanyi,
menggambar dan melakukan berbagai aktivitas, aku sempat berpikiran bahwa mereka
tidak sedang mengidap penyakit. Ketika keluar dari yayasan itu, aku berpikir,
bagaimana bisa mereka semua menata begitu rapi seolah tidak terjadi sakit
apapun di tubuhnya. Mereka sama seperti anak sehat kebanyakan, hidup ceria, bersekolah
dan bermain. Sebentar aku berkaca, terkadang ketika aku diberi penyakit demam
saja, yang istilahnya bisa diatasi dengan beristirahat, aku mengeluh dan minta
diperhatikan. Sungguhan, aku beruntung bisa bertemu dengan anak-anak istimewa
itu, aku belajar begitu banyak hal. Tentang menerima, ikhlas, syukur, semangat,
keceriaan, melupakan, tulus, senyum, dan lain sebagainya.
| salah satu anak teristimewa |
Okay, mungkin sekian yang bisa aku share malam ini (karena
aku nulisnya malam), kedepannya, mungkin aku akan lebih mengenalkan tentang
Komunitas Peduli Kesehatan dan beberapa kegiatan lainnya.
Selamat malaaam bagi yang membacanya malam.
-didit-
Komentar
Posting Komentar