KAMU GAK TAU ! DAN BERSYUKUR BELUM TERLAMBAT
Banyak hal yang aku pelajari dari orang itu, dari
mulai bagaimana cara melipat mantel dengan baik, melipat slayer dengan tepat,
menyimpan benda-benda kecil di tempat yang mudah diingat dan di jangkau, cara
parkir motor dan meletakan helm yang benar, cara melipat payung kecil dengan
rapi, cara menampakan senyum yang baik meski pikiran lagi ruwet, dan masih
banyak lagi. Membaca adalah salah satu kegiatan yang aku gemari, tapi
akhir-akhir ini orang itu membuatku “terpaksa” dengan sukarela membawa
pikiranku melompat jauh kepada hal yang menurutnya baik dan menurutku belum
tentu, atau sebaliknya. Maksudku adalah, sepertinya –cuma- dia yang berhasil
membuatku jauh melompat meninggalkan zona yang kadung aku bilang nyaman itu.
Kali ini aku akan membahas menganai “Membaca”.
Sependek pemikiranku yang memang kurang berwawasan ini, membaca adalah hal yang
asyik, membaca adalah antara aku dan kalimat yang bersambungan yang bersatu
menjadi sebuah paragraph dan terkadang dibukukan, tapi semenjak kenal lebih
dekat dengan sosoknya, membaca berarti lebih luas daripada itu. Meskipun bukan
berdasarkan dari teori, dia memberitahuku mengenai bagaimana membaca selembar
formulir/CV,bagaimana ketertarikan seseorang akan sebuah organisasi melalui CV
yang dibuatnya, bagaimana kelengkapan isinya, dan lain sebagainya. Hal kecil
dari mulai strip yang tidak di isi di kolom Nomor Identitas, pembubuhan nama
kota dan tanggal serta nama jelas di tanda tangan peserta, tentang penulisan
nama bahwa harus dimulai dengan huruf besar, dan lain sebagainya. Dari selembar
kertas formulir itu kita bisa tahu, orang yang dimaksud konsisten atau tidak
nantinya.
But, penilaian tidak sependek itu ternyata, membaca
karakter orang dari pengisian formulir tentu bukan sebagai patokan bahwa kita
bisa judge orang tersebut. Masih banyak tugas kita dalam hal membaca. Membaca
formulir hanyalah langkah awal atau aku sebut sih sebagai pemanasan, hasilnya ?
kita baca dari gerak-gerik, respon, dan pancingan yang kita kasih.
Aku juga pernah sharing dengan teman yang usianya
sudah beberapa tahun di atasku, beliau adalah seornag guru agama di sekolah
bilingual di Bandung. Ketika kita sama-sama mengkaji tentang ayat Al-Quran yang
berbunyi, “Iqra” yang artinya “Bacalah !”. beliau menekankan bahwa yang
dimaksud oleh Firman Allah ini adalah sangat sangat universal, baca disini
bukan hanya membaca Al-Quran, buku dan lain sebagainya, kita juga harus bisa
memahami, bisa peka, bisa mengerti tentang bagaimana kita dibentuk, bagaimana
awal kita, bagaimana kita membaca diri kita sehingga nantinya kita menjadi
orang yang sombong dan melupakan asal muasal kita diciptakan, bahwa kita adalah
diciptakan dan pasti akan kembali kepada Yang Menciptakan. Selain itu lebih
luasnya, kita juga harus bisa membaca sekeliling kita, karena hal tersebut
dapat melatih kepekaan kita terhadap sesama. Begitulah kurang lebih.
Kembali ke orang itu, in the reality kita berada di
umur yang sama, tapi masalah pemikiran, aku jauh di bawah dia, mungkin factor
gender mempengaruhi pola pikir ya. Dan faktanya, dia ini tipe visioner
missioner gitu yang mana segala sesuatunya mesti teratur dan pemikirannya jauh
ke depan, sedangkan aku ? tipe orang yang let it flow aja, mau dibawa kemana
juga yang penting dirasa aku positif sih bakal aku jalani. And the +++++
negative itu ada pada diri aku, yang mana karakter aku tuh bisa buat hal yang jadi
tujuan aku di awal bakal belok dengan sedemikian rupa kalau aku sendiri lupa
sama tujuan.
Next, aku masih bakal menceritakan tentang dia dan
segudang kebaikannya yang aku enggak tau dan baru aku sadari jauh setelah dia
melakukan sesuatu. Yang pada akhirnya kelakuan dialah yang bikin aku ngerasa
bahwa aku sangat tidak tahu diri karena selalu lupa bilang tolong dan terima
kasih.
-D-
Komentar
Posting Komentar