AGUSTUS
Kali ini sekelebat kenangan itu muncul lagi di pikiranku,
bagai film yang terputar rapi, sesekali membuat kepala pusing dan jantung
langsung berdegup hebat. Hatiku mencelos, kenapa dia harus hadir lagi ?
Aku berusaha
berpikir sedikit jernih dan realistis, memangnya kenapa kalau dia hadir lagi
dan berdiri di hadapanku ? bukannya memang itu yang aku tunggu ? bukannya
memang dia yang selama ini aku pikirkan ?
Aku menatap
mata ayahku dengan begitu banyak pertanyaan yang ingin ku lontarkan padanya.
Ayah hanya sesekali mengerutkan kening dan heran dengan tatapanku. Aku lalu
mendengus dan menarik ayah untuk pergi ke dapur bersamaku. Meninggalkan tamu
itu sendirian di ruang tamu.
“ayah…kenapa
kau biarkan dia untuk tinggal disini ?”
“memanganya
kenapa ? dia sedang mencari kost’an, dan sangat bagus karena akhir – akhir
ini keuangan kita sedang buruk”
“aku tahu,
tapi, kenapa dia ayah ? ayah tahu kan dia siapa ?”
“bukannya
justru hal yang bagus kita menerima orang yang memang sudah kita kenal ?”
“ayah… dia
itu Agustus ayah…… kau masih ingat dia kan ?”
Ayah tertawa
kecil, dan mengacak – acak poniku, “aku sangat tahu Agustus, dia itu orang yang
sangat baik, dan dia adalah teman kecilmu dulu”
Ya ampun ayah
! kenapa yang ayah ingat tentang Agustus adalah kebaikannya saja.
Aku mendesah,
merasa bingung harus melanjutkan dengan kata apa lagi. Merasa aku lebih baik
menyerah saja untuk membujuk ayah agar tidak menerima Agustus di rumah ini.
Sebelum
berbalik untuk menemui Agustus lagi, ayah berkata lembut padaku, “ada baiknya
kau menata kembali hatimu itu. Kau harus yakin, waktu merubah segalanya.
Berdo’a saja, semoga perubahan itu membawa dia menjadi lebih baik”
Seketika itu
pula aku merasakan mual mulai menerpa perutku, dan rasa terharu karena
mendengar perkataan ayah yang kelewat bijak itu. Detik berikutnya, aku mengekor
ayah menuju ruang tamu. Menemui Agustus kembali.
Agustus
tersenyum melihat kami datang kembali secara bersamaan, mungkin, ia ingin kabar
baik yang kami utarakan padanya.
“jadi kau
sekarang terpaksa pindah sekolah ?” tanya ayah, duduk di sofa menghadap
Agustus, sementara aku, duduk di sebelah ayah, sama menghadap Agustus.
“iya”
“sudah
mengurusi kepindahan ?”
Agustus
menggeleng, “mungkin besok aku akan memulainya” dia mendesah pelan, “itupun
kalau hari ini aku mendapat kost’an” aku meliriknya, melihat mata sendunya itu.
Lagi – lagi tatapan itu. Menyebalkan.
Hatiku
dirundung perasaan itu lagi. Perasaan serba salah, iba dan tidak enak untuk
menolak. Kasihan juga Agustus jika di sore hari yang hujan ini dia masih harus
luntang – lantung mencari kostan.
“kau tidak
perlu merasa sedih atau khawatir, kami menerima mu disini” ayah menenangkan
Agustus dengan bijak.
Kami menerimamu disini
Siapa yang ayah
sebut ‘kami’ ? aku dan ayah ? ya ampun,
bahkan ayah sama sekali tidak meminta persetujuanku untuk membiarkannya menetap
disini.
“benarkah ?”
matanya berbinar, ia tersenyum pada ayahku, dan kemudian matanya beralih
padaku, mungkin hendak tersenyum atau apa, karena detik berikutnya aku
memalingkan wajahku.
“ya, kamarmu
ada di atas, di sebelah kamar Kila” hatiku seperti dihantam batu besar.
Bagaimana bisa Agustus menempati kamar disebelahku ? bagaimana bisa untuk
beberapa minggu atau bahkan bulan kedepan atau bahkan selamanya Agustus tinggal
disebelah kamarku ?
Aku menoleh
ke ayah, meminta sebuah penjelasan atas apa yang telah ia katakan.
“tidak ada
kamar lain yang layak Kila. Kau tenang saja”
Aku
menghembuskan napas berat, sedikit kecewa karena sebentar lagi privasiku akan
terampas habis oleh kedatangan Agustus.
“terima kasih
om” katanya, aku bisa menangkap wajah Agustus yang sedikit gusar dan mungkin
keberatan kalau kamarnya bersebelahan dengan kamarku. Kalau aku bisa protes dan
kalau aku adalah gadis yang berani dan bisa menentang segala perintah ayah,
akan aku lakukan sekarang juga. Tapi, beginilah jadinya, aku hanya bisa
menunduk dan pasrah, mencoba sabar dan terbiasa.
“yah, aku
banyak tugas sekolah. Aku harus ke kamar sekarang” aku meminta izin pada ayah,
dan ayah mengangguk.
Terdengar
sayup – sayup suara berat dari Agustus yang menayakan pada ayah apakah aku
keberatan atas kedatangannya, dan dijawab ringan oleh ayah, bahwa aku sangat
dengan senang hati menerima kehadirannya.
Apa – apaan ?
siapa yang menerima kehadiran Agustus yang tiba – tiba itu ? siapa yang suka
kalau luka lamanya dikorek kembali ? siapa juga yang suka kalau harus
berhadapan dengan kenangan pahit saat dulu ?
Ini benar –
benar penyiksaan bagiku.
Sebelum aku
memasuki kamar, aku terpaku lama di depan kamar kosong yang kelak akan menjadi
kamar Agustus. Apa Agustus akan merasa nyaman tinggal di dalamnya ? apakah
Agustus akan merasa biasa saja jika berdekatan denganku ? apakah Agustus akan
merasakan sakit yang sama denganku jika dia melihatku ? apakah Agustus juga
sama sepertiku ? menanti kehadiran satu sama lain dan hanya saling diam ketika
bertemu ? dan apa Agustus menyimpan
dendam yang sama sepertiku ?
Mungkin iya.
Mungkin
tidak.
Aku tidak
mendengar suara langkah kaki mendekat, sehingga aku tidak sadar seseorang telah
berdiri menjulang tepat dibelakangku, dengan ransel berat yang ia selampirkan
di pundaknya, dan kupluk berwarna coklat yang menghiasi kepalanya, jaket
hitamnya sudah ia lepas, mungkin gerah.
Aku terpekur
lama untuk menyadari kalau itu adalah Agustus. Mungkin efek melamun.
Agustus hanya
tersenyum samar padaku, sedangkan aku hanya menatapanya tanpa ekspresi. Mungkin
efek terkejut.
“permisi”
katanya meminta ijin untuk melewatiku, karena ia akan memasuki kamar. Selayaknya
robot, aku pun berjalan kecil ke pinggir dengan teratur, memberikannya jalan.
Agustus
membuka kunci pintu, lalu ketika sudah berhasil dan hendak memasuki kamar, dia
berkata pelan padaku, “semoga kau bisa
menerimaku…” perkataannya mengambang diudara, bahkan terdengar seperti gumaman,
“…lagi”
Dia menutup
pintu dan membiarkanku seperti mayat hidup yang bahkan tidak tahu caranya
mengambil oksigen.
Sampai aku
tidak sadar, setetes air mata keluar dari pelupuk mata dan membasahi pipiku.
Kenangan itu muncul lagi.
**
Pagi harinya, saat aku sedang membereskan buku untuk segera
berangkat sekolah, ayah menggedor pintu kamarku pelan, “ya ayah…sebentar”
Aku segera
membuka pintu dan mendapati ayah berdiri di depan tubuh Agustus yang tinggi.
“aku ingin
meminta bantuanmu Kila” kata ayah, tampak serius, “…tolong bantu untuk
kepindahan sekolah Agustus”
“apa ?” aku
mengerutkan kening, dan tanpa sadar kalau aku sudah berbicara terlalu kencang.
“Agustus
memutuskan untuk bersekolah di sekolah yang sama denganmu, agar tidak terlalu
jauh dari rumah. Lagipula, itu adalah sekolah swasta yang bagus”
“kenapa harus
aku ayah ?”
“karena kau
pintar”
“ayah…tolong,
itu bukan alasan yang bijak. Kenapa bukan ayah saja ? mengaku sebagai walinya
?”
Sesekali aku
melirik Agustus yang sedang memandangku datar, kini ia sudah berseragam putih
abu dengan baju seragam putihnya yang keluar, dia juga mengenakan ransel hitam.
“ayah mohon
Kila”
“tidak ayah !
aku tidak mau”
Agustus
terbatuk, mungkin ingin meminta perhatian dari aku dan ayah. Kami berdua
secara bersamaan menoleh padanya, “aku
saja”
Ayah
melongok. Akupun melongok. Perkataannya terlalu singkat.
“aku saja
yang mengurusnya. Lagian itu tidak sulit, aku hanya harus menyiapkan segala
berkasku dari sekolah lama. Setelah itu, aku hanya mungkin membutuhkan
tandatanganmu sebagai waliku. Setelah itu semua beres. Aku bisa sendiri”
katanya berusaha meyakinkan ayah.
Ayah
menghembuskan napas lega, “baiklah, tapi, kalau kau ada masalah atau kesulitan,
kau tinggal bicara padaku atau Kila”
Agustus
mengangguk, ayah berpaling padaku.
“rapikan
rambutmu, dan segera berangkat sekolah” katanya tegas, dan aku barus sadar,
bahwa rambutku belum ku sisir.
Aku pun
menyisir rambut lalu mengikatnya cara ekor kuda, merapikan poni dan
menyemprotkan parfume ke leher dan baju. Setelah itu, aku mengambil tas dan
segera berangkat sekolah.
“ayah, aku
berangkat sekarang ya” aku meleos saja melewati ayah yang sedang meminum kopi
sambil membaca Koran. Belum berangkat bekerja.
“ya”
Jalanku
terhenti ketika aku sadar, ayah sedang tidak bersama Agustus. Lalu dengan pelan
aku bertanya pada ayah, “kemana Agustus ?”
“sudah
berangkat”
Oh ya ampun !
Aku berjalan
santai menuju sekolah, ini masih terlalu pagi menuju bell, jadi, aku bisa
berjalan lebih santai dari biasanya. Sepanjang perjalanan, aku tidak berhenti
berpikir tentang Agustus. Apa dia yakin akan mengurus segala keperluan
kepindahannya sendiri ?
Detik
berikutnya, aku merasakan sesuatu yang tidak enak. Aku merasa bersalah karena
telah menolak menolongnya.
Aku
mempercepat langkahku, ketika kurasa seseorang berusaha menjajari lagkahnya
denganku. Kontan aku berhenti dan berpaling padanya. Agustus. Kini aku bukan
hanya berhenti berjalan, aku berhenti berpikir !!
“hai” Agustus
menyapaku, seakan kami baru saja bertemu.
Hatiku
berdebar hebat, masih sama seperti beberapa tahun silam.
“apa kabar ?”
katanya lagi.
Aku
memalingkan wajahku, berusaha menerima kenyataan yang ada di hadapanku.
Agustus, dengan segala ketampanan dan kebaikan hatinya. Dan segalanya yang
telah membuat hatiku hancur berkeping – keping.
Aku
menghembuskan napas, berusaha mencari semacam kekuatan, “baik”
“bagaimana
kabarmu ketika tidak ada aku ?” katanya, mungkin ia tidak terlalu puas dengan
jawaban pertamaku.
“baik” kataku
berusaha tegar dan tegas.
“syukurlah.
Terima kasih sudah menerimaku tinggal di rumahmu”
Aku hanya
mengangguk dan berusaha menahan air mata. Aneh. Apa yang akan aku tangisi ? dia
? oh Jangan !
“kalau
begitu, selamat bersekolah. Aku duluan” katanya, dan berjalan pelan melewatiku,
melangkah jauh didepanku. Memberiku semacam ruang untuk berpikir sendiri. Dan
aku hanya merasakan hal itu ketika aku melihat punggungnya semakin menjauh. Aku
tidak ingin kehilangannya lagi.
**
Pelajaran bahasa inggris berlangsung begitu hambar. Sang
guru seperti bosan harus mengajari apalagi pada murid – muridnya ini. Pada
akhirnya, guruku hanya memberikan sebuah permainan, layaknya anak SD, teman –
temanku begitu antusias menerima permainan itu. Sedangkan aku ? aku benar – benar tidak mood.
Permainan
garing yang sama sekali tidak asyik itu berlangsung selama dua jam pelajaran,
dan guruku hanya duduk di bangkunya. Sesekali mengamati permainan kami. Dia
merasa fine – fine saja memberikan kami sebuah permainan ini, tapi, sungguh,
aku ingin pulang saja, berkutat dengan buku tebal dan belajar sendiri,
ketimbang harus mengkuti permainan yang kekanak – kanakan.
“kau kenapa
Kila ?” tanya Alia, teman sebangkuku.
“tidak kenapa
– kenapa, hanya bosan. Kupikir, seminggu tidak bertemu guru itu, membuatnya
semakin kreatif dalam mengajar, ternyata tidak ya” kataku menyindir guru bahasa
inggrisku itu.
“hus ah,
daripada kita disuruh belajar”
“lebih baik
belajar. Ada manfaatnya, ketimbang melakukan hal yang tidak jelas seperti ini”
Alia
tersenyum mendengar ucapan ketus dariku, “sepertinya bukan masalah ini yang
sedang menerpamu. Kenapa ? ada apa ?” tanyannya begitu pintar membaca isi
pikiranku.
Aku membuka
kartu bergambar sebuah gitar klasik, lalu mengopernya pada kelompok lain, entah
apa maksud permainan ini. Aku tidak paham.
Aku
mengalihkan pandanganku pada Alia, berusaha fokus pada matanya yang begitu
menenangkan, “seseorang di masa lalu datang lagi di kehidupanku”
“dan ?”
“dan aku
merasa terusik”
“lalu ?”
“aku tidak
ingin dia kembali”
“kenapa ?”
“karena aku
terlalu merindukannya”
Aku berkata
begitu miris, seakan aku adalah gadis paling menyakitkan diseluruh dunia.
Seakan masalah itu adalah masalah paling rumit yang pernah aku hadapi.
“kau harusnya
senang”
“kalau
semudah itu, aku juga pasti akan senang. Tapi, dia terlalu banyak menyimpan
luka untukku”
“kau terlalu
mendramatisir Kil, kau hanya perlu melupakan masa lalu, dan membuka lembaran
baru”
“tidak mudah”
Alia
mengalihkan pandangannya dariku, lalu menulis kaliamat sesuatu dalam bahasa
inggris, lalu mengopernya ke kelompok depan meja kami. Setelahnya, ia berpaling
lagi padaku.
“kau hanya
membutuhkan waktu”
“tentu”
“lain kali
kau harus menceritakan secara jelas orang itu padaku. Oke ?”
“oke”
Tidak terasa,
pelajaran membosankan itu berakhir juga. Dan sekarang waktunya istirahat. Aku
dan Alia memutuskan untuk pergi ke kantin, mengisi perut yang sangat kosong.
Ketika aku
sampai di wilayah kantin, dari kejauhan aku menangkap sosok itu. Sosok bertubuh
tinggi yang kala itu sedang duduk di sebuah pohon rindang. Sendirian dan hanya
membaca beberapa kertas.
Aku ingin
mendekatinya, mungkin ia sedang kesulitan atau apa.
“Alia, kau
memesan makanan duluan ya, aku mau ke toilet” kilahku.
Alia
mengangguk setuju dan menunjukan sebuah meja yang akan kami duduki nanti. Aku
mengangguk. “oke”
Aku
memantapkan langkahku untuk mendekati laki – laki itu. Sesaat, jantungku
dirundung degupan keras yang tidak berirama.
“ehem” aku
berdeham, berupaya mengalihkan perhatian Agustus pada lembaran – lembaran
kertas yang terbungkus map merah.
“eh, hai”
Agustus menurunkan kaki kananya yang sedari tadi ditumpangkan di atas kaki
kirinya.
“sudah
bertemu kepala sekolah ?” kataku to the point.
“sudah”
“lalu ?”
“aku sudah
diterima disini, tinggal meminta tanda tangan wali. Dan aku…”
“hem ?”
“aku diterima
di kelas XII Ipa 2”
Kelas yang sama denganku ! oh ya Tuhan.
“serius ?”
“he-eh, kau
tahu dimana letaknya ? aku ingin melihat kelasnya, sebelum aku bersekolah besok”
aku melengos, malas menjawabnya, cari tahu saja sendiri.
**
-D-
Komentar
Posting Komentar