MENGISI YANG KOSONG
Mendadak
teringat kembali pada cerita klasik yang terpatri dibelakang memori. Belum
sepenuhnya sosok itu muncul dalam ingatan, tapi rentetan alur mengerikan sudah
berderet rapi untuk berjalan. Mudah saja, semua itu hanya karena sosoknya yang
tak mudah untuk dilupakan dan tentang cerita yang tak semudah itu untuk hanya
sekedar dijadikan angan dan imajinasi saja. Bukan lagi harapan yang membantunya
berdiri tertatih dan berjalan terpincang-pincang, melainkan sosok yang baru dan
sudah serta merta memberikan dunia baru untuknya. Bukan hanya sekedar dongeng
melainkan yang selalu ia usahakan untuk selalu hadir.
Bolehkah saya berangan pada semua itu ?
Menjadikannya sebagai titik harap, walau tak pernah
berujung temu ?
Bolehkah saya tidak hanya sekedar berjalan, melainkan
berlari sekencang saya bisa walau dengan napas terengah ?
Menjadikannya nyata dan dapat saya kejar, walau pada
kenyataannya, saya terpincang-pincang untuk sekedar berjalan
Bolehkah saya membuat cerita baru dan menghapus cerita
lama ?
Menjadikan kehadiran cerita baru sebagai pelampiasan
yang sudah saya tahu pasti akhirnya, karena sayalah penulisnya !
Sesampainya
pada semua itu, hanya kenangan yang berhasil menjadi cerita untuk
diperbincangkan, selebihnya semua orang hanya mengetahui bagaimana cerita itu
sungguh indah dan diidam-idamkan setiap kaum hawa. Semua menganggap ceritanya
beralur maju dan mujur, tidak ada batu terjal yang menjadi penghambat, atau
kerikil di aspal panas yang membuat luka pada telapak kaki, bukan masalah
lukanya, bukan itu.
Tapi, ini semua tentang bagaimana perihnya mengorek cerita
lama yang menyesakkan yang dikemas kembali menjadi sedemikian baru dan
berbanding terbalik dengan cerita aslinya. Tidak ada yang salah dengan semua
itu, karena dia adalah penulisnya.
Ketenangan
dalam kepura-puraan membuatnya dijuluki si pembohong ulung. Membuat semua orang
mampu menyelami pikirannya walau tidak sampai ke dasar, hanya sampai permukaan
saja, dan semua itu berhasil membuat semua orang penasaran. Tapi tidak dengan
lelaki yang satu itu, dia berhasil memasuki sisi lain gadis si pembohong ulung.
Tak
pandai menulis cerita, lelaki itu lebih senang menjadi pendengar. Lewat mata
dan gaya menulis gadis itu, sang lelaki berhasil membaca semuanya.
-TAMAT-
Komentar
Posting Komentar