PROBLEM
Beberapa orang mungkin mengetahui apa cita-citaku
yang sesungguhnya, apa obsesiku yang sebenarnya, dan apa tujuanku yang
sebenarnya. Aku sedang berbelok dari kesemua comfort zone-ku, aku melepas semua yang seharusnya itu adalah aku
yang sesungguhnya.
Mengerti tidak ?
Aku sedang susah payah menjadi orang lain.
Ini sungguh tidak menyenangkan, awalnya aku mengira
semua ini adalah bagian dari pendewasaan yang keras. Awalnya aku mengira ini
adalah jalan yang sudah seharusnya dilewati dan dijalani. Menjadi orang lain
tidak melulu merupakan hal buruk, menjadi orang lain bukan melulu tidak
menyenangkan atau sebaliknya. Tapi sungguh !!!! sepertinya aku sudah mulai
jenuh dan lelah, ya walaupun aku belum setengahnya berjalan, ini masih
permulaan, belum ada titik dimana semestinya aku menyerah.
Aku sempat bingung akan satu permasalahan,
“mengembangkan yang sudah ada atau mencari hal baru yang dinamakan pengalaman
?”
Dan pada akhirnya aku memilih mencari hal baru untuk
sebuah pengalaman. Mungkin terdengar tidak begitu buruk, akan tetapi hal
tersebut sungguh membuatku tidak menjadi diriku sendiri. Aku merasakannya
sekarang, memang aku tidak terjerumus dalam hal-hal negatif, akan tetapi karena
hal itu (hal dimana aku ingin mencari pengalaman dan wawasan baru) aku membengkalaikan
semuanya.
Aku benar-benar merubah semua kebiasaanku, aku benar-benar tidak
menjadi diriku sendiri.
Parahnya adalah ketika pada saat ini aku tidak bisa
keluar begitu saja dengan zona yang sedang kucari ini, aku selalu berdoa,
mudah-mudahan ini semua adalah proses. Proses yang menyenangkan untuk menjadi
dewasa. Proses yang aku pilih sendiri walau aku harus merelakan kesemua hal
yang aku bilang adalah itu diriku !
Hingga pada akhirnya, seseorang datang padaku, dan
bertanya “kau masih suka menulis, bukan ?”
Pertanyaan itu aliran listrik yang langsung
menyengat tubuhku, membuat semua tubuhku bereaksi dan hendak membalas namun
tertahan. Segala ucapanku tertahan ditenggorokan, aku bingung harus membalas
apa. Bagaimana ? apakah aku harus berbohong pada orang itu ? atau aku harus
jujur dengan apa yang sedang ku alami sekarang ?
Lagi. Sungguh keterlaluan rasanya jika aku harus
berbohong kepada orang yang paling dekat denganku, jadi aku lebih memilih jujur
dengan berdiam.
Dia menghela napas, “kau terlalu sibuk dengan mereka
hingga pada akhirnya kau membengkalaikan mimpimu sendiri. Bukankah, kau ingin
memiliki karya sendiri ?”
“kau benar”
“aku memang benar, dan hanya kau sendiri yang bisa
mengubah semuanya. Pilihan ada ditanganmu. Aku hanya bisa mendukung dan
mendoakan”
“tapi, aku sedang nyaman bersama mereka. Aku lupa
bagaimana rasanya nikmat menulis lagi. Aku lupa rasanya berada pada titik
tertinggi, aku lupa rasanya berimajinasi dengan tokoh-tokoh yang kubuat
sendiri. Aku lupa rasanya Yo, tapi aku rindu. Sungguhan”
“kau harus menulis lagi”
“aku ingin menulis lagi”
“sejujurnya, aku kecewa denganmu yang sekarang. Yang
sudah lupa bagaimana rasanya apa yang dulu kau sebut hobi. Kau hebat dalam hal
menulis, tapi kau dengan mudahnya melupakan semua itu. Aku kecewa, tapi ini adalah pilihanmu”
“kau harus membantuku, Yo” pintaku memelas.
Bagaimana bisa dia membantuku, sedangkan aku
sekarang sedang keras hati. Tidak, tidak hanya sekarang saja aku keras hati,
semua itu terjadi sudah lama. Aku rindu, bantu aku untuk kembali, siapapun
kalian.
Untuk kalian
-Didit-
Komentar
Posting Komentar