DUNIA MAAF (3)


Tak jarang, perjalanan acap kali membuat sabar

Dan

Belajar abai atas segala kepayahan

[Bandung, 30 Nov 2017. Malam]


Tolong, ketika kalian membaca tulisan ini, ada harap yang begitu tinggi dari saya. Satu, saya berharap untuk dimaafkan, dua saya berharap kalian memberikan nasehat terbaik untuk pribadi saya yang tak kunjung membaik. Bukankah kita semua ini adalah pejalan ? dan sejatinya, yang dilakukan oleh seorang pejalan adalah hanya sebatas terus berjalan ? saya tahu teori itu dan saya sangat merasa sulit akhir-akhir ini.

Diakhir cerita, tidak ada yang berakhir bahagia, semua terkesan buruk dan menggenaskan, bukan dari sudut pandangnya tapi hanya dari sudut pandang saya. Saya melihat dan terkesan ini sungguh benar, walaupun terkadang tebakan saya meleset dan cukup jauh dari keadaan aslinya. Dia cukup bahagia bersama teman-temannya, meninggalkan saya yang terheran dan bertanya, bagaimana semua itu bisa terjadi pada orang lain dan berbanding terbalik dengan apa yang menimpa saya ?


Semua terkesan menarik serta menyenangkan, melihat gelak tawanya ketika berbincang dengan orang lain, lemparan senyum dan sentuhan semangat ala persahabatan, cukup membuat tanda tanya besar dalam pikiran saya. Saya tidak pernah memancing semuanya, semua terjadi begitu saja pun dalam perjalanan saya, dia atau kita dalam berteman. Semua berjalan alakadarnya, tanpa ada yang dilebih-lebihkan. Tapi lagi-lagi, itu sudut pandang mereka, berbeda dengan saya. Entah pikiran keterlaluan itu hanya ada pada diri saya, entah memang begitulah adanya, kenyataannya. Saya memang terlalu melebih-lebihkan sesuatu, termasuk keistimewaan sosoknya dalam memperlakukan seseorang.

Semua jurus kepura-puraan sudah saya usahakan, tapi tak selamanya semua itu berjalan dengan mulus. Naik turunnya emosi adalah faktor utama, tidak selamanya emosi saya dalam keadaaan baik-baik saja. Saat dalam keadaan tinggi, saya memilih untuk melarikan diri, menyimpanya untuk diri saya pribadi dan meluapkannya lewat perjalanan, berharap emosi akan hilang terbawa dinginnya angin malam. Tapi, hal itu sama sekali tidak menyembuhkan luka, justru hanya menambah luka baru. Bersyukur saya, ketika jatuh saya tahu kemana tempat terbaik untuk menjatuhkan kesemuanya.

Sujud.

Berada di tempat yang terendah, kening menyatu dengan tanah, dan dalam keadaan menangis atas segala kepayahan. Saya tahu, tempat terbaik hanyalah berlari kepada-Nya.

Maka dari itu, saya tidak pernah lebih baik dari siapapun. Kesalahan selalu saya perbuat, emosi selalu saya luapkan dengan kata kasar dan menyinggung perasaan. Sama sekali tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali mendoakan dan berharap semua orang memaafkan saya tanpa batasan.

Dunia Maafkan Saya.



-D-

Komentar

Postingan Populer