PAMAN WILLIAM (PART 2)

SEBUAH CERITA DARI PAMAN WILL

Kalau manusia mengetahui kapan masalah itu akan muncul, akankah manusia mengambil ancang-ancang untuk segera menghadapinya ?

Kalau manusia mengetahui siapa yang akan menyakitinya hari ini, akankah manusia bersiap untuk tidak merasakan sakit hati ?

Kalau manusia mengetahui bagaimana cara menyembuhkan luka dari seseorang yang sangat dicintainya, akankah manusia itu tetap memilih mencinta daripada membenci ?

Tapi, bukankah manusia tidak pernah tahu kapan semua itu akan terjadi dan berakhir ?

Manusia hanya perlu terima nasib dan menjalankannya dengan sebisa mungkin. Menyimpan benci atau tetap untuk mencinta adalah pilihan. Bagaimanapun, manusia memiliki batasan kesabaran dalam menghadapi masalahnya.

Sudah berhari-hari ini, ketika ada seorang gadis muncul di rumahku dan bercerita bagaimana menderitanya hidup yang sedang ia jalani, aku tidak bisa menyelesaikan tulisanku. Ketika aku memulainya lagi, tulisanku hanya bertemu dengan jalan buntu. Gadis itu benar-benar menyita pikiranku.

Gadis itu membuatku terpaksa membuka kisah lama yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Ludiana. Dulu gadis itu adalah sahabat terbaikku, sedari kecil, kami selalu bersama-sama. Dan saat dewasa, kami tetap bersama.

Sampai suatu ketika, kami tidak bisa membedakan perasaan yang menerpa. Mungkin gadis itu bisa, tapi aku tidak. Aku semakin keliru dengan perasaan yang dengan bodohnya selalu kurawat ini. Semakin hari, Ludiana semakin ceria karena kedatangan Deni di kehidupannya. Gadis itu tidak melupakanku, bahkan setiap malam, kami tetap bertemu, entah itu hanya di kedai kopi, atau nonton bioskop.

Ludiana selalu bersemangat menceritakan bagaimana Deni, aku hanya bisa tersenyum dan menyembunyikan sakit hati saat itu. Untunglah, aku sangat pandai dan rapi menutupi semuanya. Ludiana memberikan saran padaku, saran konyol namun tetap aku pikirkan, dia bilang aku harus mencari kekasih, ya seperti dirinya.

Deni adalah pacar pertamanya, dan hebatnya Deni dan Ludiana bertahan sampai ke jenjang pernikahan. Aku hanya bisa menepuk dadaku pelan kala sakit hati itu menyerang, berulang kali aku bilang pada Ludiana, apakah dia yakin untuk menikah dengan Deni, dan berkali-kali pula aku melihat matanya berbinar indah sambil menganggukkan kepala.

Disitulah, aku mengetahui betapa sakitnya merelakan.

Ya karena pada saat itu aku sama sekali tidak ikhlas.

Namun aku tidak pernah menyesali kisahku, Ludiana benar-benar bahagia bersama Deni, dan akupun begitu. Berbeda satu bulan dari pernikahan Ludiana dan Deni, aku menikah dengan Wina. Wanita baik hati, penyabar, dan teliti. Aku menyukainya hingga saat ini.

Ketika masing-masing dari aku dan Ludiana telah dikaruniai seorang anak, dia datang padaku dan mengeluh sesuatu, “waktuku tersita hanya karena mengurus bayi ini”.

Aku hanya tersenyum, dia benar-benar belum bisa menjadi wanita dewasa, “kau menyesal memiliki bayi ?”

“bukan. Bukan begitu, aku hanya ingin Deni juga membantuku mengurusinya. Tapi mau bagaimana lagi, dia terlalu sibuk. Pekerjaannya hanya pulang-pergi ke luar negeri” gadis itu menghela napas, lalu memberikan dot susu ke anaknya, “….aku sangat menyukai bayi ini, tapi aku ingin tetap melukis. Kau tahu aku ingin melukis apa ?”

“apa ?”

“aku ingin melukis kau”

“benarkah ?”

Dia mengambil sepotong buah di piring, “ya tentu, sebagai hadiah dan aku ingin menebus kesalahanku”

“kesalahan apa ?”


“kesalahan karena…”

Aku menaikan alis, berusaha mendesaknya menjelaskan sesuatu, “ah tidak, nanti saja. Pokoknya aku ingin memberikanmu sebuah lukisan, ulang tahunmu yang kemarin aku hanya memberikan bunga dan kue bukan ?”

“oke baiklah, aku akan menunggu”
**
Lain waktu, dia menemuiku lagi, kali ini dia datang dengan wajah sedih seperti terakhir kali bertemu. “ada apa ? kenapa mukamu selalu seperti itu sih ?”

“berhenti menyukaiku Will” kata wanita di hadapanku, mukanya serius.

“maksudmu ?”

“Wina menemuiku, dia menceritakan semuanya dengan bersimbah air mata. Kau sungguh jahat Will, kau tahu ? kita hanya bersahabat, dan sekarang kita sama-sama sudah mempunyai keluarga, bahkan kita sama-sama sudah mempunyai anak. Tidak bisakah kau memilah mana cintamu dan mana sahabatmu ?”

“ada apa sih sebenarnya ? Wina bercerita apa ?” desakku mulai tidak enak perasaan.

“setiap hari yang ia lalui dari awal tinggal satu atap denganmu, tidak ada perasaan tulus darimu yang ia rasakan. Dan awal, kau selalu salah memanggilnya dengan sebutan namaku. Dan pada suatu malam, kau jujur padanya bahwa kau menyukaiku dari dulu. Aku berdoa saat itu, semoga semua cerita itu bohong, tapi aku mendengar dari wanita yang penuh kejujuran seperti Wina.

“Will…..aku tahu benar bagaimana perasaannya. Dia pasti sakit hati, dan aku tidak ingin menjadi wanita jahat seperti yang tergambar dari tangisan Wina.

“cintailah dia sebenar-benarnya Will, dia milikmu sekarang. Dan jangan membuat aku merasa janggal dengan perasaanku sendiri”

“janggal ? apa maksudmu ?”

“dulu ketika aku masih remaja, aku keliru dengan perasaanku padamu. Namun aku terus menyangkalnya karena kau adalah sahabatku. Aku memilih melarikan diri walau sulit dan menyakitkan, sampai akhirnya aku berlabuh di hati Deni dan memilih hidup bersamanya. Sampai saat ini, dan hari demi hari, aku mulai meyakini sesuatu. Perasaanku padamu dan pada Deni adalah berbeda. Kau juga harus seperti itu, tolong bedakan antara aku dan Wina”

Aku memeluknya.

Tapi detik itu pula Ludiana mendorongku, “jangan buat aku semakin keliru dan banyak salah ! mulai saat ini, tolong jangan hubungi aku dulu atau apa. Dan kau…berusahalah menjadi suami yang diidamkan Wina dan ayah yang bijaksana untuk Keni”

Dia meraih tas tangannya dengan brutal dan pergi meninggalkanku.

Usia kami saat itu 28 tahun, Ludiana tumbuh menjadi wanita dewasa, sedangkan aku tidak tumbuh menjadi pria dewasa yang bertanggungjawab. Betapa bodohnya aku, Winalah yang seharusnya aku lindungi, sayangi, dan berikan yang paling terbaik. Tapi, kenapa selalu Ludiana yang aku khawatirkan, dan selalu aku ingin tahu keadaannya. Perasaanku benar-benar keliru.

Setelah mendapat gertakan demikian hebat dari Ludiana, aku mulai menyadari sesuatu. Aku harus memulai lagi dengan Wina. Sesuatu yang disebut nyaman, dan keluarga harmonis. Aku ingin memiliki itu. Dan untunglah secara perlahan, Wina menerimaku dengan baik.

Satu tahun setelah kejadian itu dan aku belum pernah bertemu Ludiana lagi. Aku dan Wina membuka sebuah toko roti kecil, membuat roti memang hobiku sudah lama, dan Wina menyetujuinya juga. 

Jadi, kami membangun bisnis ini bersama-sama.

Saat pertama kali toko roti ini di buka, kami begitu dikejutkan oleh sebuah lukisan indah yang terbungkus dan tergeletak begitu saja di luar toko. Saat kami membukanya, lukisan wajahku dengan berbagai macam bahan membuat roti terlihat disana. Aku dan Wina tersenyum, aku tahu siapa.

Tapi sang pelukis tidak muncul dan mengucapkan selamat padaku. Dan sampai saat ini, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Dan di kehidupan sekarang, Rachel datang seperti obat penawar rindu. Ada suatu kemiripan yang dimiliki Rachel dan Ludiana. Aku sempat mengenyahkan pemikiran itu, takut seperti dahulu. Keliru.
Mungkin bukan keliru, mungkin karena aku terlalu merindukan Ludiana. Namun, aku tak pernah memungkiri jika sesuatu seperti keajaiban datang pada kehidupanku saat ini dari seorang Rachel.  



-D-

*PS : belum selesai 





Komentar

Postingan Populer