PAMAN WILLIAM
KAKA
“hari
ini kita tidak perlu ke galeri ya ? kita bisa mengandalkan tukang, mungkin
besok atau lusa kita bisa ke sana lagi” aku berkata saat aku dan Rachel sedang
dalam perjalanan pulang. Jangan tanyakan dimana si Rangga itu.
“oke”
“hanya
oke ?”
Gadis
itu mengangkat bahu, terlihat malas melihatku siang ini.
“kau
kenapa sih ?” aku berusaha menerka, mungkinkah ini karena percakapan tadi pagi
? kalau memang begitu apa aku salah berkata seperti itu pada Rangga. Aku memang
sedang jatuh cinta, dan kenapa harus di tutupi. “…oke, aku tidak tahan kalau
kau hanya diam seperti itu. Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah Paman Will
?”
Langkahnya
terhenti, dan beralih padaku, lalu menggeleng.
“kenapa
?”
“entahlah,
aku hanya ingin pulang”
“baiklah.
Kau sakit ? atau pusing ?” aku memegang keningnya, tidak, tidak panas.
“tidak,
bukan itu. Aku hanya ingin pulang dan melihat ibu”
RACHEL
Terkadang
ada hal-hal lain yang aku pikirkan selain dunia yang sedang ku lihat, terkadang
saat aku memikirkannya hal itu akan membuat orang disekitarku khawatir dan
bahkan kesal. Tapi coba lihat, ketika bahkan aku sedang tidak tahu apa yang
sedang berputar di otakku, Kaka tetap menemaniku pulang sampai rumah dengan selamat. Walau aku menjengkelkan
karena hanya mendiamkannya yang malah terus berceloteh, dia tetap senyum padaku.
Aku hanya menghela napas, aku benar-benar tidak tertarik dengan apapaun
sekarang, aku hanya ingin kembali ke duniaku yang biasanya. Sendiri.
“aku
pulang ya, kau beristirahat saja”
“ya.
Terima kasih”
Aku
berbalik dengan lesu, memang sedari tadi istirahat sekolah aku sama sekali
tidak mendapat asupan makanan, hanya air mineral. Tidak ada energi lagi yang
kumiliki, jadi aku ingin sekali cepat-cepat ke kamar dan tidur. Mungkin,
bermimpi akan membuat semuanya menjadi lebih baik.
PRANG !!!!
Dari
luar, ketika aku hendak berlari aku mendengar suara seperti pecahan kaleng atau
piring, terdengar jelas dan membuatku kaget setengah mati. Tanpa pikir panjang,
firasat buruk langsung menerjang hatiku. Ibu.
Aku
mengamati situasi dalam diam, di balik pintu rumah aku melihat bagaimana ibu
melempar lukisan berbingkai besar yang tertempel di dinding ruang tamu. Lukisan
awan yang penuh dengan warna cerah dan sekarang bingkai lukisan itu pecah, dan
lukisannya robek. Ada apa dengannya ?
Ibu
berjongkok di hadapan lukisan itu, tatapannya kosong namun tidak menangis, ibu
hanya terlihat seperti orang yang teraniaya, parau, dengan suara yang sebisa
mungkin ku dengar, ibu berkata, “bukankah kau seharusnya pergi dari hidupku ?”
katanya, mengelus kanvas lukisan itu, dan berkata lagi, “…kenapa kau tidak
benar-benar pergi ?”
Aku
menggigit bibir, ingin menangis dan berlari ke ibu, namun semua itu tertahan
dan membuat sesak napas.
“kenapa
kau terus berputar di sini” dia menunjuk kepalanya, “…aku pusing, dan kenapa
kau tidak membiarkanku mati saja ?”
Air
mata jatuh begitu saja di pipiku, bahkan ibu sama sekali tidak menangis,
mengapa aku tidak bisa menahan tangis ?
Aku
menelan ludah, ibu tetap berkata, walau perkataannya seperti gumaman, aku dapat
melihat jelas bagaimana mulutnya berkata, “aku merindukanmu, aku merindukan
anakku. Dan oh, aku tidak boleh merindukanmu” akhirnya, pertahanan ibu roboh
juga, setetes air mata membasahai pipi ibu walau langsung ia hapus dengan
punggung tangannya, “….kau pergi tanpa penjelasan, meninggalkanku berjuta
masalah. Tapi kenapa aku hanya mengingat hal indah tentangmu ?.....dan
sekarang, apa aku sudah terlihat seperti ibu yang jahat untuk anaknya ?
begitukan yang kau inginkan ? aku tak pernah melihat anakku lagi, apa mungkin
dia masih mau melihatku ?”
Sungguh
detik itu pula aku ingin sekali memeluknya, berbagi ketenangan dan mungkin air
mata. Tapi lagi-lagi, aku tak sanggup.
“sudahlah”
ibu mengehela napas, “….aku lelah dengan semuanya”
Ibu
berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Dan aku masih mematung memandangi
punggung ibu yang perlahan menghilang di balik kamar.
Apa
yang sebenarnya terjadi di masa lalu, mengapa semua terlihat begitu berat dan
sulit ibu lalui, kenapa ibu seolah-olah membenci ayah karena perilakunya di
masa lalu. Seseorang, bisakah memecahkan teka-teki ini ? tolong aku.
“mungkin
inilah saatnya. Tugasku harus segera di mulai, aku tidak mau hanya berdiri di
balik pintu dan menatap kemirisian ibu lagi”
*PS : Belum bertemu sosok Paman William ? Nantikan kisah selanjutnya, ini rahasia*
-D-
Komentar
Posting Komentar