PAMAN WILLIAM

KAKA

“hari ini kita tidak perlu ke galeri ya ? kita bisa mengandalkan tukang, mungkin besok atau lusa kita bisa ke sana lagi” aku berkata saat aku dan Rachel sedang dalam perjalanan pulang. Jangan tanyakan dimana si Rangga itu.

“oke”

“hanya oke ?”

Gadis itu mengangkat bahu, terlihat malas melihatku siang ini.

“kau kenapa sih ?” aku berusaha menerka, mungkinkah ini karena percakapan tadi pagi ? kalau memang begitu apa aku salah berkata seperti itu pada Rangga. Aku memang sedang jatuh cinta, dan kenapa harus di tutupi. “…oke, aku tidak tahan kalau kau hanya diam seperti itu. Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah Paman Will ?”

Langkahnya terhenti, dan beralih padaku, lalu menggeleng.

“kenapa ?”

“entahlah, aku hanya ingin pulang”

“baiklah. Kau sakit ? atau pusing ?” aku memegang keningnya, tidak, tidak panas.

“tidak, bukan itu. Aku hanya ingin pulang dan melihat ibu”
  
          **
RACHEL

Terkadang ada hal-hal lain yang aku pikirkan selain dunia yang sedang ku lihat, terkadang saat aku memikirkannya hal itu akan membuat orang disekitarku khawatir dan bahkan kesal. Tapi coba lihat, ketika bahkan aku sedang tidak tahu apa yang sedang berputar di otakku, Kaka tetap menemaniku pulang sampai  rumah dengan selamat. Walau aku menjengkelkan karena hanya mendiamkannya yang malah terus berceloteh, dia tetap senyum padaku. Aku hanya menghela napas, aku benar-benar tidak tertarik dengan apapaun sekarang, aku hanya ingin kembali ke duniaku yang biasanya. Sendiri.

“aku pulang ya, kau beristirahat saja”

“ya. Terima kasih”

Aku berbalik dengan lesu, memang sedari tadi istirahat sekolah aku sama sekali tidak mendapat asupan makanan, hanya air mineral. Tidak ada energi lagi yang kumiliki, jadi aku ingin sekali cepat-cepat ke kamar dan tidur. Mungkin, bermimpi akan membuat semuanya menjadi lebih baik.

PRANG !!!!

Dari luar, ketika aku hendak berlari aku mendengar suara seperti pecahan kaleng atau piring, terdengar jelas dan membuatku kaget setengah mati. Tanpa pikir panjang, firasat buruk langsung menerjang hatiku. Ibu.

Aku mengamati situasi dalam diam, di balik pintu rumah aku melihat bagaimana ibu melempar lukisan berbingkai besar yang tertempel di dinding ruang tamu. Lukisan awan yang penuh dengan warna cerah dan sekarang bingkai lukisan itu pecah, dan lukisannya robek. Ada apa dengannya ?
Ibu berjongkok di hadapan lukisan itu, tatapannya kosong namun tidak menangis, ibu hanya terlihat seperti orang yang teraniaya, parau, dengan suara yang sebisa mungkin ku dengar, ibu berkata, “bukankah kau seharusnya pergi dari hidupku ?” katanya, mengelus kanvas lukisan itu, dan berkata lagi, “…kenapa kau tidak benar-benar pergi ?”

Aku menggigit bibir, ingin menangis dan berlari ke ibu, namun semua itu tertahan dan membuat sesak napas.

“kenapa kau terus berputar di sini” dia menunjuk kepalanya, “…aku pusing, dan kenapa kau tidak membiarkanku mati saja ?”

Air mata jatuh begitu saja di pipiku, bahkan ibu sama sekali tidak menangis, mengapa aku tidak bisa menahan tangis ?

Aku menelan ludah, ibu tetap berkata, walau perkataannya seperti gumaman, aku dapat melihat jelas bagaimana mulutnya berkata, “aku merindukanmu, aku merindukan anakku. Dan oh, aku tidak boleh merindukanmu” akhirnya, pertahanan ibu roboh juga, setetes air mata membasahai pipi ibu walau langsung ia hapus dengan punggung tangannya, “….kau pergi tanpa penjelasan, meninggalkanku berjuta masalah. Tapi kenapa aku hanya mengingat hal indah tentangmu ?.....dan sekarang, apa aku sudah terlihat seperti ibu yang jahat untuk anaknya ? begitukan yang kau inginkan ? aku tak pernah melihat anakku lagi, apa mungkin dia masih mau melihatku ?”

Sungguh detik itu pula aku ingin sekali memeluknya, berbagi ketenangan dan mungkin air mata. Tapi lagi-lagi, aku tak sanggup.

“sudahlah” ibu mengehela napas, “….aku lelah dengan semuanya”

Ibu berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Dan aku masih mematung memandangi punggung ibu yang perlahan menghilang di balik kamar.

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, mengapa semua terlihat begitu berat dan sulit ibu lalui, kenapa ibu seolah-olah membenci ayah karena perilakunya di masa lalu. Seseorang, bisakah memecahkan teka-teki ini ? tolong aku.

“mungkin inilah saatnya. Tugasku harus segera di mulai, aku tidak mau hanya berdiri di balik pintu dan menatap kemirisian ibu lagi”


*PS : Belum bertemu sosok Paman William ? Nantikan kisah selanjutnya, ini rahasia*

-D-

Komentar

Postingan Populer