Opini


Malam guys,

Awalnya saya ingin sekali membahas suatu konten yang berbobot dan emosional, tapi mungkin belum bisa dibahas sekarang yaa, soon In syaa Allah. Memangnya mau bahas apaa ? hehe nanti deh kejutan, pokoknya kontennya lebih “dewasa” versi “anak kemaren sore” kayak saya. Malam ini saya akan bahas hal ringan-ringan saja, sebagai bentuk peralihan pikiran dari skripsi, yang menurut saya asyik-asyik tapi rumit. Saya hanya sendiri, tidak ditemani secangkir kopi seperti biasa, karena sedang batuk-batuk sudah kurang lebih tiga hari beserta demam, yang walaupun demikian, tidak mengurangi semangat saya dalam beraktivitas. Maaf berlebihan yaa.

Pernah nggak sih, kalian punya teman yang tanpa kalian sadari dia selalu cerita ini itu tanpa kalian paksa untuk bercerita, yang tiba-tiba mendekati kalian lalu meluk tanpa sebab dan sedetik kemudian dia hanya mencurahkan isi hatinya sambil menangis, punya ? pasti ada kan teman yang belum terlalu lama dekat, namun dia sudah menyimpan kepercayaan lebih pada kita, menempatkan kita sebagai tempat untuk berbagi, membawa kita untuk larut bersama kesedihan atau kesenangannya, bahkan membawa kita melebur bersama permasalahannya.

Saya mempunyai teman yang seperti itu, beberapa teman saya seperti itu bahkan. Teman yang sudah bertahun-tahun mengenali saya, sampai teman yang baru beberapa hari ini kenal dengan saya. Sempat heran sebenarnya, bagaimana bisa seseorang percaya pada orang lain sebegitu cepatnya. Sungguh, bukan kebosanan, kejengkelan atau penolakan yang ada dipikiran saya, justeru saya sangat senang sekali jika ada teman yang senang membagikan ceritanya, entah itu cerita yang sedih ataupun senang.
Bukan, saya bukan orang yang cerdas dalam menimpali cerita. Saya lebih senang memandang tepat ke manik matanya sambil mendengarkan. Hanya sesekali menimpali, itupun jika diminta. Tahu kenapa ? karena terkadang otak saya berespon lambat terhadap suatu perbincangan, so saya harus berpikir terlebih dahulu sebelum menimpali. Walaupun demikian, kata-kata yang keluar dari lidah saya tidak melulu halus, baik dan berbobot.

Selalu, ketika saya mendengarkan cerita dari teman, hanya wawasan baru-lah yang saya dapatkan, emosi yang mereka tuangkan dalam kata-kata atau air mata selalu senantiasa membuat saya berpikir cepat dan berusaha sebaik-baiknya mengambil hikmah dari setiap kejadian. Saya selalu ingin menyimpan memori itu dengan baik, agar suatu ketika saya bisa mengevaluasi diri, bahwa tidak menutup kemungkinan saya bisa berada di posisi yang teman-teman saya rasakan. Saya harus lebih dewasa lagi dalam menghadapi persoalan, lebih jujur lagi pada hati dan diri sendiri agar lebih tenang lagi dalam menghadapi hari berikutnya.

So, buat kalian yang menjadi pendengar atau yang senang sekali berbagi cerita dengan teman kalian, jangan sungkan. Jangan saling merasa terbebani, rileks saja yaa. Pasti ada banyak hikmah yang Allah titipkan dari teman kita untuk menjadikan diri ini lebih baik lagi (kalua kita menyikapinya dengan sebaik mungkin versi Allah). Kenapa harus versi Allah ? karena kalau kita pakai versi kita, bisa jadi kita keliru dan memaknainya menggunakan hawa nafsu. Berikan hal terbaik yang kita bisa untuk teman yang sedang ada dalam masalah, bantu sehebat yang kita bisa dengan ikhlas. Allah pasti berikan yang terbaik untuk kita. Doakan masalahnya (jika ceritanya adalah permasalahan) agar cepat diselesaikan oleh Allah, dan agar Allah senantiasa menjaga pertemanan kita dengan sebaik-baiknya sampai ke Jannah-Nya. Aamiin

“Kepada Allah menghamba, kepada makhluk berkhidmad” – K.H Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)


-D-

Komentar

Postingan Populer