#OPINI


OPINI TENTANG MENIKAH

Sedikit mengejar ketertinggalan, hal yang lagi banyak dibicarakan dan terjadi saat ini adalah bagaimana maraknya orang-orang yang menikah muda, (nanti akan saya paparkan di bagian bawah). Bagaimana menurutmu tentang “Menikah Muda ?” setujukah atau menentang ? senang ataukah gerah ? Jika dalam pemaparan saya nanti banyak yang keliru dan kontra dalam pandangan pribadimu, maka maafkanlah. Karena ini masuk dalam edisi “OPINI”, semua orang berhak beropini selagi pandangannya straight dan hal itu manfaat bagimu, maka ambilah. Tapi jika opini ini jauh dari kata benar apalagi sempurna dalam pandanganmu, maka keep untuk dirimu pribadi terlebih dahulu, pada saatnya nanti kita akan dipertemukan lalu membahas hal ini menurut sudut pandang yang berbeda. Mudah-mudahan…

Here we go.

Menikah. Bagi saya menikah adalah komitmen satu kali seumur hidup. Sampai akhir hayat nanti, pasangan yang telah berkomitmen satu tujuan dengan kita-lah yang berhak mendapatkan diri kita seutuhnya. Bagaimana dengan komitmen itu sendiri ? bagi saya komitmen bukanlah hal yang mudah tapi tidak juga sulit. Tidak mudah karena kita hendak berkomitmen kepada orang yang akan sehidup semati bersama, tinggal satu atap, susah senang bersama, menangis tertawa, jatuh bangun, berjuang sampai titik dimana dia dan saya harus bisa menerima satu sama lain, menerima kekurangannya, memahami sikapnya, kebiasaannya yang tidak sesuai dengan harapan, dan sebagainya. Jika diturunkan bagaimana saya bisa beranggapan bahwa komitmen itu tidak mudah, sepertinya postingan saya kali ini terdengar perhitungan sekali.

Tapi berkomitmen itu tidaklah sulit, jika sudah satu tujuan, orientasinya sudah jelas, visi-misi sama, saling mengenal satu sama lain dan yang paling utama adalah Allah ridho, orang tua ridho. Segala sesuatu yang terdengar perhitungan diatas bisa hilang begitu saja. Bergantikan dengan ikhlas yang begitu dalam dan tinggi. Jika orientasinya sudah terfokus pada ibadah, bukan hanya agar jenjang kehidupan terlewati dengan sempurna, kita harus yakin bahwa Allah akan memudahkan segalanya.

Balik lagi ke pandangan saya tentang nikah muda.

Saya merasa hepi banget denger kata nikah muda, bangga dan salut sama orang yang berkomitmen nikah muda dengan landasan ibadah karena Allah, memilih dan menerima pasangannya tanpa berpikir panjang. Salut. Menikah memang mudah tinggal bagaimana kitanya yakin bahwa Allah akan selalu bersama kita, menikah adalah ibadah, jadi pastikan bahwa kita ‘menyukai’ ibadah dan melaksanakannya, pun kita harus pastikan bahwa pasangan kita adalah orang yang mencintai dan menggenggam Allah dihatinya, rajin beribadah dan jelas tujuannya dalam menikah.

Mengapa ? kembali lagi ke awal, karena kita menikah dengan tujuan sampai akhir hayat nanti. Bagaimana kehidupan setelah akhir hayat ? saya tidak akan menjelaskannya karena butuh pemahaman yang tinggi ketika kita mau menyampaikannya. Yang jelas adalah, kehidupan setelah kematian adalah kehidupan yang panjang, sebagai bentuk pertanggungjawaban apa yang telah kita lakukan dibumi. Jadi, pastikanlah bahwa saat kita menikah dipenuhi ibadah-ibadah yang mendatangkan amalan yang dapat menolong kita di akhirat nanti.

Perempuan….

Jika belum menikah dan tidak berniat menikah dalam waktu dekat, maka jangan terlalu berambisi untuk mendapatkan hati lawan jenis. Terlalu berharap akan jodoh yang datang secepatnya, terlalu mudah frutsasi dan menganggap menikah adalah pelarian terbaik, terlalu khawatir tidak akan menikah karena melihat si fulanah sudah menikah. Dan banyak terlalu-terlalu yang lainya.

Maka sempatkanlah waktu yang luang ini dengan banyak memperbaiki diri dan menorehkan prestasi. Saya beropini seperti ini bukan berarti sudah lurus dan tidak ada masalah dalam hati, justru yang keluar dari tulisan ini adalah berasal dari kegerahan diri pribadi dengan hati yang terkadang tidak sinkron dengan keadaan.

Pikiran saya selalu melompat ke masa depan, membayangkan bagaimana nanti jika saya sudah (sempat) menikah apakah saya bisa sebebas ini untuk pergi ke kajian, toko buku, kampus, atau tempat-tempat yang saya sukai ? apakah saya bisa menulis terus menerus dan meluangkan waktu hanya untuk diri saya sendiri ? apakah saya masih bisa mengunjungi orang tua ke rumah, memeluk mereka dan tidur dalam dekapannya ? kadang inilah yang ada dipikiran saya, karena saya pernah bermimpi tentang pernikahan dan ketika bangun saya men-cap diri saya sendiri bahwa saya benar-benar belum siap.

Mangkanya saya salut sekali pada  teman-teman saya yang memutuskan untuk nikah muda. Karena hal tersebut mudah tidak mudah. Apalagi buat pribadi seperti saya, yang begitu egois dan banyak memikirkan diri sendiri. Tidak, bukan berarti saya sudah terlalu nyaman dengan kesendirian. Kadang sedih juga ketika pulang malam dan sendirian mengendarai motor, bahkan hari kemarin saya hampir jatoh gara-gara standar duanya motor kesayangan saya copot di fly over. Karena saya hanya sendiri, saya melipir ke pinggir jalan dan membenarkan standar motor dengan diikat pake sarung tangan. Sambil deg-degan takut ada orang yang tidak dikenal dan berniat kriminal, saya udah siapin parfum buat jaga-jaga. Sambil terus-terusan pegang senjata terkuat, yaitu menggunakan Allah dengan dzikrullah. (maaf paragraf ini kurang penting, semoga bisa ambil hikmahnya ya).

Pada dasarnya semua adalah kembali pada diri pribadimu, jodoh sudah ada ditangan yang Maha Mengatur segala urusan, pun dengan kematian kita. Jangan terlalu pusing dengan siapa jodoh kita, torehkan prestasi sebaik mungkin, ambil pengalaman sebagai bekal pada jenjang yang lebih tinggi nanti. Karena menikah tidak bisa hanya dengan ilmu yang kosong, tapi harus diisi dengan ilmu yang penuh dan benar. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak bisa bersatu dengan kemaksiatan. Astaghfirullah, saya sendiri masih jauuuuuuuuuh dari sempurna, tapi saling mengingatkan adalah kewajiban kita semua. Ingatkan saya jika saya salah, karena kita harus saling tolong menolong dalam kebaikan.



Semoga ada hikmahnya,
Salam hangat dan sayang


-Dita-

Komentar

Postingan Populer