Berhenti pada Cerita yang Hanya Secarik



Kenapa harus menjadi pencerita jika menjadi pendengar adalah baik ?
Kenapa harus menjadi penulis jika menjadi pembaca setia pun adalah baik ?
Kalau begitu, kenapa kau tidak berhenti saja pada ceritamu yang hanya secarik ?
[Bandung, 11 Agustus 2017 : 09.05 PM]

Menjadi pendengar bukan berarti tidak mempunyai cerita, menjadi pendengar bukan berarti pula tidak bisa bicara. Saat seseorang bertanya tentang, apa hobimu ? aku berpikir sejenak, hendak merangkai kata agar setidaknya terlihat seperti orang-orang yang memiliki banyak hobi menyenangkan dan berkesan. Beberapa menit aku hanya berkutat pada pikiranku sendiri, berusaha mencari apa sebenarnya hal yang selalu aku lakukan dan bisa kusebut sebagai hobi. Kemudian, aku lebih memilih sedikit berbohong pada seseorang itu dan mengatakan bahwa hobiku hanya menulis, itu saja, tidak ada yang lain. Dia membuat seulas senyum tipis yang begitu mengesankan, seakan tahu bahwa aku tak sepenuhnya jujur, detik berikutnya aku ingin mengutuk diriku sendiri karena aku tahu akan ke arah mana pertanyaan ini berlanjut.

“Kalau begitu, sudah sejauh mana hobi menulismu itu ?” ia bertanya, sesuai dugaanku.

Aku menyesap Thai Tea milikku, berusaha beralih sebentar sambil mengendalikan perkataan yang hendak aku lontarkan, agar tidak salah bicara, maklum membuka percakapan dengannya haruslah hati-hati, “tidak begitu penting, aku hanya menulis kalau aku mau menulis”

“kau harus terus menulis” katanya

“hm” aku bergumam dan hanya mengangguk.

Sebetulnya, aku tidak perlu disuruh atau diingatkan agar terus menulis, aku tahu kapan titik dimana aku harus menulis dan kapan aku harus rehat sejenak, dan untuk akhir-akhir ini aku tidak bisa menulis. Kenapa ? jangan Tanya dulu kenapa, aku malas membahasnya.

“Tapi akhir-akhir ini aku jarang melihatmu membaca atau menulis” Ternyata dia masih ingin membahas ini. Oke baiklah, jadi kujelaskan saja padanya bahwa akhir-akhir ini aku sibuk, dan sedang perlu melarikan diri.

Sudah kurang lebih dua tahun aku beralih hobi. Penyendiri, pengamat, pembaca, pendengar, bahkan menulis yang dulu selalu aku lakukan kini banyak aku tinggalkan. Tidak sepenuhnya, hanya sebagian. Mengapa hal itu bisa terjadi ? lagi-lagi aku bertanya pada diriku sendiri.

Seseorang menuntunku ke arah lain. Waktuku banyak dihabiskan dengan cara lain yang berbanding terbalik dengan biasanya. Seseorang yang lain membawaku ke arah yang lainnya, membuatku terlalu nyaman walau awalnya aku merasa ini bukan diriku dan aku harus keluar secepatnya. Seseorang lagi membawaku jungkir balik ke lain arah membuatku merasa tidak nyaman dan rasanya ingin terlempar kembali ke masa dua tahun silam, ketika semuanya terasa sepi, tentram dan aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk diriku sendiri, bukan untuk orang lain. Tapi benar-benar untuk diriku sendiri dan semua tokoh khayalanku.

Kemudian ia kembali lagi ke kehidupanku setelah sekian lama menghilang dan menamparku tidak sengaja dengan berkata, “kau diam saja di tempatmu atau kau berjalan maju dengan orang-orang itu ? kembalilah…..gapai mimpimu sendiri, tidak usah kau repot-repot membantu mereka menggapai mimpi mereka. Kejarlah mimpimu, wujudkan itu. Bukankah memiliki sebuah karya adalah mimpimu ?” tamparnya.


Perkataannya benar semua, rasanya seperti ditampar bolak-balik bertubi-tubi. Tapi inilah pilihanku, aku memilih maju menemani mereka, membantu mereka mewujudkan mimpi mereka. Membantu mereka dengan menjadi pendengar ulung dan hanya sesekali memberikan sedikit solusi. Membatu mereka menghabiskan waktu bersama, jatuh-bangun bersama, menangis-tertawa bersama. Aku senang semuanya, walau aku harus mengubur dalam-dalam mimpiku yang satu itu.

Kurang lebih dua tahun itu, mungkin mereka tahu kemampuanku apa – atau bahkan tidak tahu dan tidak peduli- sisi positifnya aku berhasil keluar dari zona nyamanku sendiri, berusaha melarikan diri dan mengambil pelajaran dari orang lain, meski mereka semua tidak tahu aku sedang perlahan-lahan menginjak mimpiku sendiri ke tanah dan membuatnya abadi di sana. Mereka semua tidak tahu, aku telah banyak kehabisan waktuku sendiri.

Sesekali aku bertemu sosok itu kembali, kemudian dia berkata “jangan lupa kembali !”

Aku tidak pernah lupa untuk kembali, dan untuk dua tahun yang telah berlalu itu. Rasanya semua sudah terlambat, tidak ada kata kembali, tidak ada kata membangunkan “mimpi” yang sudah terlanjur terkubur terlalu dalam, kurasa mimpiku sudah bersatu dengan binatang-binatang tanah, sudah hilang bersatu dengan lumpur, hilang melebur dan tidak mungkin lagi diperjuangkan.

Tapi aku tahu, tokoh-tokoh khayalanku itu tidak benar-benar pergi dalam imajinasiku. Semua masih terpatri dalam memori, meski semua carikan kertas itu tidak mungkin lagi ku gali. Aku harus menata kembali semuanya. Membuat semuanya berjajar rapi kembali, membuat semua tokoh kembali tersenyum padaku karena telah dihidupkan kembali.

Aku tahu itu semua tidak mudah, mengorek luka lama dan berusaha membalutnya kembali seperti semula. Sakitnya masih ada, walau ku kerahkan semua kemampuan orang-orang itu untuk berusaha menemaniku membangun semuanya kembali, membangun istana megah yang kubilang adalah mimpiku sendiri. Tidak, hanya aku yang bisa membuatnya kembali seperti sedia kala. Nasi memang sudah kadung menjadi bubur, jika aku harus memulainya dari awal aku yakin tidak ada kata terlambat.

Jadi, kau sudah tahu apa hobiku ?


-D-

Komentar

Postingan Populer