Jum'at, 6 Juli 2018


Saat itu, semilir angin waktu subuh begitu menusuk tulang, ku perkuat risleting jaket dan memasukkan kedua tangan ke dalam saku. Bandung sedang dingin-dinginnya, 160, tidak seperti biasanya. Sesekali niatan untuk kembali bermalas-malasan dengan selimut melanda pikiranku, namun suatu kebiasaan yang terbina setelah diklat SSG seperti salah satunya adalah mendengarkan MQ pagi kembali membuatku teringat dan mengurungkan niat untuk rehat kembali. Suara Aa Gym begitu meneduhkan, seperti tahu bahwa pendengarnya ini sedang dilanda hal-hal kesedihan nan melelahkan duniawi. Namun, selintas Aa menjelaskan bahwa semua atas izin Allah, bukan berarti yang memberi ceramah (Aa Gym) mengerti betul permasalahan para jamaah. Allah lah yang menggerakkan semuanya, Allah yang menggerakkan lisan dan ingatan Aa, Allah yang menggerakkan langkah para jamaah untuk turut serta menimba ilmu di Masjid, Allah yang menggerakkan hati dan jemari para pendengar. Semua atas izin Allah, semoga Allah ridho atas apa yang kita lakukan, karena tanpa keridhoan Allah, tanpa bantuan Allah, tanpa Allah yang me-mampukan kita, kita bukanlah apa-apa.

Ku pejamkan mata seraya berpikir melompat-lompat, menyikapi diri ini yang semakin hari seharusnya semakin dewasa dan semakin semangat menimba ilmu, namun apadaya, yang terjadi adalah semakin hari ketika semakin banyak tambahan tugas dan tekanan, diri ini malah semakin enggan, ingin menyudahi semuanya saja. Padahal, belum ada yang dimulai. Sungguh, aku membutuhkan suntikan semangat tambahan. Maka ku kontak nomor seorang perempuan yang sedari kemarin sudah membuat janji untuk bertemu, atas keinginanku tentunya.

Sosok perempuan yang tidak lelah menimba ilmu, dan yang tidak pelit untuk membaginya. Kami bertemu di sebuah Rumah Sakit, karena kebetulan beliau harus check up terkait sakitnya. Ku tunggu beliau di ruang tunggu setelah mengambil nomor antrean. Setelah berbincang dan bertegur sapa karena kami baru bertemu kembali setelah beberapa bulan berlalu. Beliau kemudian menanyakan terkait perihal yang ingin dibahas, yap aku mengontaknya karena aku ingin menanyakan tentang skripsi, walaupun sebetulnya hal tersebut adalah setengah penting, hehe. Aku hanya ingin bertemu dengannya, karena beberapa kali aku bertemu dengan beliau, dan setelah bercakap-cakap “sedikit” persoalan, setelahnya aku selalu merasa senang dan bersemangat.

Seperti pada permasalahku di subuh tadi, aku membutuhkan suntikan semangat tambahan. Maka, semoga Allah selalu menuntun lisan beliau untuk mengutarakan hal yang membuat orang lain senang dan bersemangat, sama seperti yang aku rasakan setelah bertemu dengannya.

“Jadi Dita, gimana skripsimu ?”

“ya begitulah bu….aku masih proses dan…” kuceritakan panjang lebar permasalahan skripsiku, kemudian beliau menimpali dan memberikan solusi. Alhamdulillah, sedikitnya aku paham dan tahu bagaimana langkah kedepan.

“Semangat Dit, I know you will do your best” ungkapnya diakhir pertemuan. Yaa, saat itu aku ingin menangis saja rasanya, ingin menghambur kedalam pelukannya. Beliau meyakinkanku bahwa aku harus mengejar apa yang menjadi kesukaanku, perkaya ilmu, belajar terus, belajar terus, kuliah setinggi-tingginya.

Ingin kuberitahu kalian wahai teman-temanku, beliau ini adalah dosen di kampusku. Selain mengajar mata kuliah Epidemiologi, beliau selalu memotivasi terlebih dahulu sebelum kegiatan belajar dimulai, motivasi tentang apapun. Hal itulah yang membuatku ingin terus menjalin silaturahiim dengannya.

Semoga Allah senantiasa memampukan Ibu dalam menjalani apapun, dalam ibadahnya, dalam menuntut ilmunya, dan segalanya, semoga Allah kuatkan ibu. Semoga ibu sehat selalu. Aamiin.

Aku melangkah penuh semangat, senyum yang menyegar kembali, Alhamdulillah. Kemudian langkahku terhenti dan teringat pada seseorang yang ingin kutemui juga hari ini. Kunyatakan bahwa hari ini aku ingin bertemu dengannya, setelah membahas tempat dan waktu, aku membalasnya, “….baiklah aku setuju tempat itu”. Aku semakin bersemangat, Alhamdulillah hari Jum’at.


(Jum’at, 6 Juli 2018, Ibu Reyni)

Komentar

Postingan Populer