Pecahan kaca
Saya akui bahwa cemburu
itu membuat semua yang terlihat benar adalah salah, pun ketika orang tersebut
menjelaskan bahwa ia tak bermaksud demikian (dengan caranya). Saya akui, saat
itu saya begitu diselimuti perasaan yang saya pun tak habis pikir mengapa bisa
menerpa. Kini, saat semuanya sudah terlanjur, saya tidak menyesal dengan
perasaan cemburu itu, saya harap dia pun demikian. Sakit, tapi saya yakin ini
tidak selamanya, saya hanya harus lebih bijaksana sedikit.
Bagi saya pikiran
perempuan itu tidak mudah untuk kau salami begitu saja. Datang sebentar
kemudian pergi, atau berjalan lama penuh proses, namun pada akhirnya kau tikam
dia dengan sempurna dari belakang. Sakit. Tapi perempuan tau bagaimana
mengatasinya, seolah semua harus baik-baik saja seperti skenario awal. Wahai,
memang ada banyak hal yang kau ketahui tentangnya, tapi tak semudah itu kau selami
pikiran paling dalamnya perempuan.
Terlalu lama kau hanya
membuatnya tertepi ke tepian, seolah berjalan bersama namun nyatanya berjalan
sendiri-sendiri. Seolah menikmati setiap senyumannya, tapi nyatanya tak ada
satupun keinginan untuk mengingat kenangan manis itu. Seolah terdiam dengan
tenang, namun ternyata pikirannya bergejolak ingin mengutarakan namun tidak
tahu cara memulai. Kau membuatnya begitu berpikir keras, kau begitu dekat
dengan orang lain, pun dengannya. Tidak mengapa, perempuan dengan segala
kelemahannya mengerti bagaimana menata hati.
Jujur namun menyakiti
hati orang lain adalah salah, maka dari itu, memendamnya dan menyimpan rasa itu
dalam-dalam serapi mungkin adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Saya tidak
pandai dalam mencobanya, tapi sekuat tenaga hal itu memang haruslah dilakukan,
bukan untuk orang lain tapi untuk dirimu sendiri.
Satu pesan saya, ketika
saya sudah membagi mimpi dan cita-cita saya, itu berarti saya sudah bisa
terbuka denganmu. Tolong, jangan renggut mimpi saya begitu saja.
-D-
Komentar
Posting Komentar