Rabu, 21 Februari 2018


Rumah sakit selalu memaksaku untuk mengambil hikmah dari setiap langkah, senyuman, sentuhan, keteguhan, dan untuk setiap ilmu yang orang lain berikan. Hari itu, aku merasa banyak sekali mendapatkan ilmu, terima kasih. Mengawali skripsiku, aku tentu harus berangkat dari sebuah fenomena, karena aku sudah terlanjur jatuh cinta pada penelitian yang aku ajukan, maka aku usahakan sebisaku untuk mendalaminya dari orang yang memiliki sangkut paut besar dalam penelitian. Salah satunya adalah berangkat dari permasalahan pasien di rumah sakit. Tanpa aku pernah meminta lebih, namun Allah yang Maha Baik senantiasa membawaku melangkah ke dalam jalan kebaikan, Dia (Allah) memaksaku mengambil hikmah sedalam-dalamnya dari setiap kejadian, mengambil ilmu dari setiap orang, dan membagi ketenangan pada sesama. Saat itu, aku ingin berusaha semaksimal mungkin.

Bismillah…..

Aku mendekati seorang bapak-bapak (59 tahun) bertubuh tinggi, kurus, mengenakan kaca mata. Beliau adalah orang pertama yang aku tuju karena sesuai dengan kriteria. Diawali dengan percakapan ringan dan bertanya seputar kontrol rutin dan awal penyebab penyakitnya hanya berlangsung singkat. Namun sepertinya masih banyak sekali yang ia ingin utarakan, beliau banyak sekali memberikan pelajaran, salah satunya adalah tentang bagaimana peran seorang perawat atau tenaga medis lainnya, tentang bagaimana kecewanya dia tentang pelayanan tapi tidak pernah ia complain pada pihak terkait. Beliau banyak sekali membuat aku tersadar akan pentingnya menggali potensi, bercerita tentang masa mudanya saat menjadi mahasiswa, saat asyik bekerja sampai pada akhirnya harus berhenti karena penyakitnya (tapi beliau tidak putus asa dan terus bekerja yang beliau bisa lakukan). Dalam keheningan yang panjang karena aku sudah bingung untuk menimpali, beliau berkata dengan nada yang lembut sambil terbatuk, “Nak, kalau kamu suka menulis, lakukanlah ! menulislah, banyak yang bisa digali dari profesimu” deg ! kata-kata itu seperti sihir yang sukses membuat aku berpikir tentang penyesalan. Mengapa penyesalan ? karena aku hampir menyembunyikan hobiku yang satu ini. Bapak ini benar, seharusnya aku bisa menggali potensi, membaca keadaan sekeliling dan menjadikannya suatu karya, tidak perlu menjadi orang lain.

-D-


Komentar

Postingan Populer