R.E.S.A.H
Hai, panggil saja saya
Mi, anak biasa saja dengan kemampuan yang biasa saja. Memiliki hobi yang biasa
saja, dan teman yang tidak terlalu banyak, biasa saja.
Mi membuka tas ransel
biru muda kesayangannya yang telah lusuh dan banyak tempelan di sana-sini. Bahkan
resletingnya sudah beberapa kali
rusak, namun Mi sangat menyukai tas itu, bahkan sampai-sampai menobatkannya
menjadi tas kesayangan dan sahabat setianya untuk pergi kemanapun. Sampai suatu
ketika, Mi menyadari bahwa hal-hal yang dimiliknya hanya “biasa saja” ya bisa
dikatakan standar anak kuliahan yang jauh dibawah rata-rata.
Mi membenarkan letak
kaca matanya yang sering melorot, karena sudah mulai longgar, kemudian melihat
tas ransel miliknya, dan sesekali melirik tas milik temannya. “Hm, tasnya
branded, warnanya masih bagus, isinya jangan ditanya. Bukan hanya buku kuliah,
tapi make up dengan berbagai merk dan
fungsi, dari yang mulai cuma base
sampai make up yang pro”. Padahal, hanya mau kuliah. Pikir Mi.
Kemudian, setelah
perkuliahan jam pertama, Mi berniat akan melanjutka mengambil ilmu lain di
kuliah umum yang diadakan fakultasnya, bertempat di auditorium. Terdengar temannya
berdesas-desus malas untuk mengambil kuliah umum, dan lebih memilih untuk pergi
ke kedai kopi, mall, atau mengincar baju branded
yang dijual online karena katanya
sedang ada promo besar-besaran dari sebuah gerai online shop. Mi menghela napas, entah memang Mi yang tetap berada
di jalan yang lurus, atau Mi benar-benar anak kaku yang tidak berani mencoba
hal baru. Mungkin yang kedua adalah benar, pikir Mi dalam hati.
Sepanjang kuliah umum
berlangsung, pikiran Mi melompat lompat. Memikirkan bahwa, mengapa dirinya
merasa bahwa begitu banyak ketertinggalan, terutama yang bisa orang lain lihat.
Penampilan. Tidak sedikit orang lain yang mengatakan bahwa Mi adalah anak yang
pikirannya kolot, penampilannya kuno, tidak suka berdandan. Standar.
Mi membuka layar
handphonenya, tidak ada chat dari siapapun, hanya cuap-cuap kelompok belajar
sastra Jepang. Hari ini saya bolos saja, ingin menenangkan pikiran dengan
sendiri. ujarnya dalam hati, dan tidak menuangkannya dalam bentuk izin. Biar saja,
lagipula tidak akan ada orang yang mencari.
Langkahnya terhendi di
sebuah gazebo belakang gedung fakultas, sepi, dan cuaca sedang sejuk-sejuknya.
Keresahan yang
dirasakan Mi akhir-akhir ini sungguh mengganggu, awalnya Mi hanya
mengabaikannya saja, namun kini Mi berpikir bahwa ada baiknya untuk
direnungkan. Mi menelepon sahabatnya yang sedang studi di Australia, kalau
temannya bertanya mengapa Mi menelepon, Mi akan menjawab dengan alasan klise,
bahwa ia sangat merindukannya. Walaupun sedikit geli untuk didengar, bahkan
untuk telinganya sendiri.
“saya sedikit
merindukanmu Sa” tentu saja Fasa sangat merasa ganjal dengan pernyataan
sahabatnya itu, dan langsung menodongkan pertanyaan seolah meminta penjelasan
tentang permasalahan yang sedang ingin Mi ceritakan kepada Fasa.
“saya hanya sangat
merasa terusik akhir-akhir ini. Kenapa kamu cukup bisa untuk mengendalikan diri
dari ucapan orang-orang, mungkin maksudku adalah. Penilaian orang, ya penilaian
mereka terhadap dirimu”
Fasa mengerti arah
pembicaraan Mi, nampaknya sahabatnya itu sedang ada masalah dengan pikirannya
sendiri, Fasa tertawa sebentar kemudian menimpali, “sejak kapan kamu memperdulikan
omonngan orang lain Mi ? kuingat-ingat sepanjang pertemanan kita, tidak ada
sejarahnya kamu merasa terganggu dengan itu semua”
“maksudku Sa, apakah
omongan orang-orang itu atau I mean
penilaian orang-orang itu perlu dipertimbangkan ?”
Fasa bercerita panjang
lebar yang intinya seperti ini.
Dalam hidup, ada saat
dimana kita membutuhkan penilaian orang lain, mempertimbangkan omongannya, tapi
tidak setiap saat. Kita hanya akan mempersulit diri sendiri dengan hadirnya
pemikiran-pemikiran yang menguras waktu dan tenaga tapi tidak merubah
sedikitpun keadaan kita. Wasting time.
Karena pada hakikatnya,
tidak akan ada habisnya jika kita menomor satukan penilaian orang lain, tidak
ada standar puas atau standar paling baik yang dibuat manusia, kritikan bisa
membangun tapi jika hanya terus berkutat dengan penilaian orang lain, kamu akan
lelah dan membuat pendirianmu memudar. Ikuti apa kata hatimu dan petunjuk dari Penciptamu, ikuti apa kata standar berdasarkan Pedoman-Nya, pedoman menjadi
manusia yang baik dan bermanfaat, pedoman berpenampilan sesuai perintahnya,
bersosialisasi sesuai dengan sepatutnya.
Terserah orang lain
ingin lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam dengan komunitasnya, mungkin
mereka memang nyaman dengan hal itu, dan banyak mengambil manfaat dari sana. Terserah
orang lain ingin lebih menomorsatukan penampilannya dibandingkan yang lainnya,
mungkin dengan begitu dia bisa lebih bermanfaat untuk orang lain. Terserah orang
lain ingin makan bubur dengan diaduk atau makan bubur dengan rapi.
Semua itu pilihan.
Dan kamu tidak peru
disibukkan dengan penilaian orang lain Mi, lakukan apa yang memang sesuai
dengan pilihanmu, dan terutama kamu nyaman dengan apa yang kamu pilih. Apa yang
kamu pilih tidak selalu benar (apalagi menurut pandangan orang lain), pun sebaliknya. Segala sesuatu yang dipaksakan, tidak akan baik akhirnya. Biarkanlah kamu tetap
pada pendirianmu, pilihanmu, jangan mengganggu orang lain apalagi sampai
membuatnya jatuh merugi. Membuat orang lain nyaman disampingmu adalah hal yang
baik, yang perlu kamu tanamkan dalam hati ketika berbuat baik adalah, cukuplah
kamu melakukan hal baik sebagai mengharap pahala dari Allah, lagi-lagi bukan
mengharap penilaian dari orang lain.
Begitu ya,
Mi menghela napas
panjang, memejamkan matanya sesaat kemudian mengucapkan terima kasih pada
sahabatnya itu.
“Terima kasih ya, sudah
mendengarkan dan membuat keresahan itu menghilang
Dengarkan lagi nanti ya.
-D-
"Terima kasih ya, sudah mendengarkan dan membuat keresahan itu menghilang".🌼
BalasHapus