Terus Berusaha Memperbaiki Diri


Berangkat dari sebuah pertanyaan dari teman-teman sekitarku, yang sebetulnya belum pantas aku menjawab sambil menjelaskan rentetan penjelasan setelahnya. Tapi, ada rasa yang mengusik hatiku, mungkin tidak ada salahnya jika aku hanya menjawab sebisaku. Mudah-mudahan dijauhi dari rasa sombong, ujub dan terlalu membesar-besarkan diri yang pada kenyataannya aku masih jauh dari “pandangan” orang terhadapku, jauuuh sekali. Namun kiranya, aku ingin setiap harinya mempunyai tambahan teman, sebagai amunisiku untuk selalu bersemangat ketika bangun pagi.

Baiklah, here we go….

“Teh Dit……ingin deh bisa kayak gitu, pake kerudung panjang, tapi  aku masih suka ada perasaan takut. Takut ditinggal temen, takut disangka ibu-ibu, dan lagi, aku punya pacar, pacarku sangat mendukung sih kalau aku ada niatan pake kerudung panjang, tapi….masa iya pake kerudung panjang tapi pacaran ? pake kerudung panjang tapi ngomongnya kasar ? pake kerudung panjang tapi masih haha-hihi barengan lawan jenis ? dan masih banyak lagi. Juga….. aku bingung mulainya dari mana”

Dan beberapa pertanyaan yang sama dari teman-teman yang lain. Kalau ditanya langsung seperti itu, jujur aku selalu berpikir lama terlebih dahulu. Kenapa ? karena mengingatkan orang adalah hal tersulit, perlu berkaca pada diri sendiri terlebih dahulu, sudah sejauh apa diri ini belajar dan mengamalkan ? sudah sejauh mana diri ini memaknai setiap langkah untuk-Nya ? sungguh, hidayah itu dicari, dijemput, diusahakan, tidak datang dengan sendirinya. Sempat aku berharap tentang, andai saja aku bisa mengajak teman-teman dekatku bersama-sama untuk hijrah dan lebih mendekat kepada-Nya. Dan setelah itu, aku berusaha sebisa mungkin mengingatkan, mengajak kajian dan lain sebagainya, agar bisa sama-sama, agar aku tidak merasa sendiri. Dengan begitu, aku berharap atas segala usahaku yang ringan-ringan ini, teman-temanku bisa hijrah bersama. Namun, ternyata itu semua salah, hanya Allah lah yang menggenggam hati, pemilik hati setiap manusia, dan yang Maha 

Membolak-balikan hati manusia.

Memang benar, ketika kita sudah berkomitmen untuk memakai pakaian syar’i pasti ada saja orang-orang yang berkomentar. Banyak yang mendukung dan tidak sedikit pula yang malah melemahkan, tugas kita hanyalah satu, mengembalikannya lagi kepada niat, untuk apa sih hijrah ? untuk apa sih berpakaian syar’i ? untuk apa sih susah-susah datang ke majelis ilmu untuk mengaji ? kalau jawaban kita adalah hanya untuk Allah, aku yakin semua akan terasa ringan untuk dijalani.

Orang-orang memang akan berekspetasi lebih ketika kita memilih jalan hijrah. Seperti, orang yang hijrah itu harus bertutur kata yang baik-baik, sering mengaji, jujur, dan tidak pacaran atau mendekati kemaksiatan kepada Allah, serta masih banyak lagi. Tidak salah memang atas ekspetasi orang-orang akan hal itu, tapi yang menjadi kendala adalah ketika kita sudah hijrah tapi masih jauh dari track atau jalur yang seharusnya. Orang pasti akan berpikiran kok katanya hijrah tapi masih pacaran ? kok katanya hijrah tapi masih berbicara kasar…. ?

Tenang tenang….keep calm, take your time.

Tidak harus langsung berubah 180 derajat, kalau hari ini Allah masih kasih kita waktu untuk hidup, lakukanlah untuk ibadah kepada Allah, kalau belum bisa maksimal atau masih belum bisa meninggalkan hal-hal yang Allah tidak sukai, dan masih diberikan kesempatan waktu hari esok untuk ibadah, lakukanlah semaksimal mungkin. Seiring berjalannya waktu, Allah akan memampukan kita untuk berjalan sesuai syariatnya, berjuang melawan hawa nafsu demi mencapai ridho-Nya. Kita harus mencoba dan harus memulai, menjalankan segala sesuatu yang Allah cintai dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kita tidak sendirian, kita bisa berjamaah menuju ridho-Nya Allah….

Until Jannah Insyaa Allah



-D-

Komentar

Postingan Populer