.......

Semakin banyak waktu ‘tuk bicara

Semakin kupaham harapmu apa

Semakin banyak waktu ‘tuk bersama

Bersyukurku kau utuh jiwa raga

.........

(song : Tulus - Adaptasi)


Koleksi buku yang ku punya sudah terlalu banyak, saatnya hari ini aku rapikan, memilah mana yang bisa tetap ku koleksi dan mana yang bisa ku bagikan ke orang lain. Proses memilih dan mengikhlaskan adalah salah satu cara berpikir dewasa. Mengikhlaskan yang lain, agar sesuatu yang baru dapat memiliki ruang untuk tinggal. Ada perasaan berat hati ketika harus memilah dan mengikhlaskan, karena dalam memori yang kita miliki, “sesuatu” itu sudah amat sangat melekat, banyak kenangan, katanya. Padahal itu hanya sebuah barang. Kalau buku, mungkin lama-lama buku itu akan menguning, menjadi bau, atau dalam beberapa kasus, buku itu akan rusak, karena sudah lama kita simpan. Iya,  dalam proses mengikhlaskan aku banyak belajar juga tentang berpikir jernih, berpikir bijak dan juga dewasa. Karena tentu, melepaskan sesuatu yang kita cintai sangatlah tidak mudah, pikiran kita terlalu berpusat pada kenangannya daripada tentang manfaat untuk kedepannya. 


Ternyata, menjadi dewasa sesederhana itu. Pikiran yang tidak lagi merumit, dada yang semakin lapang, dan pandangan yang semakin meluas. Aku tidak ingin sesempit dulu, apapun itu, dalam hal apapun konteksnya. Pokoknya, segala sesuatu harus meluas dan lapang. aku tidak mau lagi dipersempit oleh pikiranku sendiri, teriakan berisik dari isi pikir sendiri, hati yang selalu bergemuruh menyimpan amarah, mulut yang tidak pernah berhenti merapal kesal.


Pandangan dan hatiku kini harus luas, tidak dipenuhi oleh hal-hal yang mengusik dan merusak. Aku ingin semuanya jernih, tenang, damai, dan tidak penuh. Mudah merelakan jika hal itu memang harus direlakan, mudah memaafkan jika memang itu sebuah kesalahan. Siapapun punya hak, jika itu belum menjadi hak-mu aku tidak akan pernah memaksakannya. Termasuk memaafkan segala kesalahanku. Tapi aku ingin selalu meminta maaf, karena hal itu membuatku tenang dan ringan. 


Maaf atas setiap paragraf yang tidak berkesinambungan. Satu hal lagi yang ingin ku sampaikan. Aku bersyukur sekali atas pertemuan kala itu, atas segala percakapan-percakapan yang membuka pikiranku, atas segala kata-kata baik dan doa yang selalu diucapkan. Aku tidak pernah menyesal atas pertemuan itu, bahkan aku selalu berdoa semoga semua akan selalu baik, semoga semua akan selalu indah nantinya. 


Ya, Semoga ya.


-D

Komentar

Postingan Populer