Ada batas yang sering dilewati, memaksa merangsek masuk sampai ke tulang-tulang. Rasa dinginnya menembus dan menusuk. Sedikit tertatih, aku berusaha berdiri, tidak berani berharap untuk sampai bisa melangkah kecil, cukup sampai berdiri. Hanya itu harapanku, tidak besar, tidak banyak dan muluk-muluk. Cukup sampai aku bisa berdiri

Ku buka mata ini perlahan, cahaya matahari siang mulai masuk dan kutangkap langsung.  Ada sedikit pusing yang langsung menjalar ke kepala, memberikan sinyal bahwa aku tidak akan mampu. Maka ku tutup kembali rapat-rapat mataku, memegang pelipis dan memijatnya pelan. Ada apa sebenarnya ini ? suara diluar begitu riuh dan memekakan telinga, tapi tidak ada yang bisa kucerna. Napasku terengah-engah, seperti habis berlari jauh. Pelan, aku membimbing tangan kananku untuk mengelus dada, sembari tangan kiri masih sibuk memijat pelipis. “atur napasmu, perlahan.... kamu pasti bisa keluar dari ini semua. Atur napas...dan buka mata”

Aku berbisik pada diri sendiri, dalam hitungan menit aku bisa merasakan tubuhku mulai pada tempatnya, sinyal-sinyal baik mulai berdatangan. Seperti tekadku sejak awal, aku harus bisa berdiri. 

Dengan sisa-sisa semangat dan matahari masih pada tempatnya, ku tangkap kembali sinar itu, kali ini ditemani oleh semilir angin, ada sejuk di sana sampai aku bisa mengulas senyum sedikit. Masih dengan mata menyipit, ku buka mata, melihat sekeliling dan menjalarkan sinyal baik untuk anggota tubuh lain. Helaan demi helaan napas ku buang perlahan sampai aku bisa berdiri walau tanganku sambil memegang tembok, mencari kekuatan. Napasku masih terengah dan sangat lelah, detik yang bersamaan ternyata aku mampu melangkah kecil. Ada setetes air mata yang menemani, namun cepat hilang karena tertiup angin. Aku ulas sedikit senyum kekuatan, bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk diriku sendiri

Beberapa langkah dari tempat tubuhku rubuh, aku menyaksikan banyak orang masih sibuk dengan dunianya. Selewat rasa sedih dan sepi itu muncul, membuyarkan fokus. Tapi kemudian aku tidak peduli, maka aku sibukkan pencarianku untuk menemukannya. Cahaya matahari semakin jelas, namun lebih meneduhkan, tidak terasa juga aku sudah berjalan sangat jauh dari tempat itu. Tempat dimana luka itu dibentuk, kepedihan itu menguar menyatu menjadi penyakit. Sejenak aku membalikan badan, air mata berderai lagi. Aku hapus dengan sangat cepat, tidak perlu menunggu angin membawa pergi air mata itu. 

Sejenak aku menyadari sesuatu,

Langkah ku bukan lagi kecil-kecil, aku bukakan ruang untuk diriku seluas yang aku mampu, tidak peduli ada orang yang terus menyikut, mendorong, bahkan menginjakku. Aku sudah tahu bagaimana caranya membuka mata, bangkit berdiri, berjalan sampai bahkan berlari. Aku sudah tidak terengah dan merasakan sesak, apalagi sampai menangis. Goresan luka itu masih ada, terasa sedikit, tapi tidak berarti apa-apa.

Aku tidak peduli apapun itu lagi, aku menemukannya


-D

Komentar

Postingan Populer